Home / Akidah Akhlaq / Tips Jitu Terhindar Dari Fitnah dan Perselisihan 2

Tips Jitu Terhindar Dari Fitnah dan Perselisihan 2

lailatul-qadar

Pembahasan Sebelumnya : Tips Jitu Terhindar Dari Fitnah Dan Perselisihan 1

4. Bersatu dan konsisten bersama jamaah muslimin dan imam mereka serta menjauhi perpecahan dan perselisihan. Hal ini karena perpecahan adalah kejelekan dan jamaah adalah rahmat. Dengan jamaah menghasilkan kekuatan besar kaum muslimin, kokoh ikatan persaudaraan, kuat kewibawaan dan terwujud persatuan. Juga dengan jamaah terjadi sikap kerjasama dalam kebaikan dan ketaqwaan serta perkara yang dapat mewujudkan kebahagian mereka didunia dan akherat. Sedangkan perselisihan mengantar mereka kepada banyak kejelekan, bahaya yang beranekaragam dan bencana yang tidak diharapkan. Oleh kareana itu Nabi shalallahu alaihi wasallam berwasiat untuk konsisten bersama jamaah dan memperingatkan dari perpecahan. Diantaranya sabda Rasululloh shalallahu alaihi wasallam :

وَالْجَمَاعَةُ رَحْمَةٌ وَالْفُرْقَةُ عَذَابٌ

 Jamaah itu rahmat dan perpecahan itu adzab. (HR Ahmad dan Syeikh Al Albani menilainya hadits yang hasan dalam Shohih Al Jaami’ no. 3109) dan sabda beliau shalallahu alaihi wasallam :

لَا تَخْتَلِفُوا فَإِنَّ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ اخْتَلَفُوا فَهَلَكُوا

 Janganlah berselisih, karena orang sebelum kalian berselisih lalu binasa (HR Al Bukhori).

Demikian juga beliau shalallahu alaihi wasallam mewasiati kaum muslimin untuk bersatu dan konsisten dengan jamaah kaum muslimin dan imam mereka, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Al Irbadh bin Saariyah yang berbunyi:

صَلَّى بِنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا فَقَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا

 Rasululloh shalallahu alaihi wasallam mengimami kami sholat pada satu hari, kemudian beliau menghadap kami dan memberikan nasehat yang menyentuh; membuat mata meneteskan air mata dan hati-hati bergetar. Maka seorang berkata: Wahai rasululoh! Seakan-akan nasehat ini adalah nasehat perpisahan, maka apa yang engkau wasiatkan kepada kami? Maka beliau bersabda:Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan mendengar dan patuh, walaupun (yang memimpin) adalah budak habasyi (HR Abu Daud dan Al Tirmidzi dan selainnya)

Nabi shalallahu alaihi wasallam dalam hadits ini menggabungkan sebab-sebab kebahagian dunia dan akherat dalam dua hal, yang tidak ada ketiganya, yaitu:

Pertama  : Konsisiten dalam ketakwaan

Kedua  : Konsisten berpegang teguh jamaah muslimin dan mentaati imam mereka.

Harus melaksanakan dua ketentuan pokok ini di atas pemahaman salaf Ash Sholih. Inilah salah satu pelindung kita dari fitnah-fitnah -dengan izin Allah- dan inilah jalan persatuan ketika terjadi perpecahan.[1]

5. Mengambil ilmu dan fatwa dari ulama besar dan tidak mengambil dari orang-orang kerdil yang baru menimba ilmu. Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

البِرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِهِمْ

Barokah ada bersama tokoh-tokoh tua mereka. (HR Ibnu Hiban, Al Hakim, Abu Nu’aim dan Al baihaqi dalam Syu’abul iman. Syeikh Al Albani menilai hadits ini shohih dalam Shohih Al Jami no. 2884, Silsilah Al Ahadits Shohihah no.1778 (4/380)).

Keberkahan ada bersama tokoh-tokoh Ulama tua yang telah kokoh dalam ilmu dan telah lama menuntutnya serta mereka telah mendapatkan kedudukan di tengah umat dengan sebab ilmu, hikmah yang luhur, sikap perlahan dan pandangan yang jauh ke depan yang Allah karuniakan pada mereka. Kita diperintahkan mengambil ilmu dan fatwa dari mereka sebagaimana firman Allah:

وَإِذَا جَآءَهُمۡ أَمۡرٞ مِّنَ ٱلۡأَمۡنِ أَوِ ٱلۡخَوۡفِ أَذَاعُواْ بِهِۦۖ وَلَوۡ رَدُّوهُ إِلَى ٱلرَّسُولِ وَإِلَىٰٓ أُوْلِي ٱلۡأَمۡرِ مِنۡهُمۡ لَعَلِمَهُ ٱلَّذِينَ يَسۡتَنۢبِطُونَهُۥ مِنۡهُمۡۗ وَلَوۡلَا فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَتُهُۥ لَٱتَّبَعۡتُمُ ٱلشَّيۡطَٰنَ إِلَّا قَلِيلٗا ٨٣

 Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan Ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebagian kecil saja (di antaramu). (QS. 4:83)

Syeikh Abdurrahman Al Sa’di menafsirkan ayat ini dengan menyatakan: “Ini adalah pelajaran  dari Allah kepada hamba-Nya atas kelakuan mereka yang tidak pantas. Seharusnya mereka bila mendapatkan perkara penting atau kemaslahatan umum yang berhubungan dengan keamanan dan kebahagian kaum mukminin atau kekhawatiran yang menjadi musibah bagi mereka, hendaknya mengadakan klarifikasi dan tidak tergesa-gesa menyebarkan berita tersebut. Seharusnya mereka mengembalikan hal itu kepada Rasululloh shalallahu alaihi wasallam  dan ulul amri mereka yaitu para ulama yang mengetahui perkara dan mengetahui maslahat dan madhoratnya (untuk masyarakat)”. [2]

Imam Al Ashbahani menegaskan pentingnya hal ini dalam pernyataan beliau: “Siapa yang melihat dengan pandangan adil, niscaya mengetahui tidak ada seorangpun yang paling jelek madzhabnya dari orang yang mengikuti orang yang tidak alim terdahap Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu alaihi wasallam dan meninggalkan firman Allah, sabda Rasululloh shalallahu alaihi wasallam, pendapat para sahabat dan pendapat para ulama dan ahli fiqih setelah mereka (Sahabat) membangun madzhab dan agamanya di atas kitabullah (Al Qur’an) dan Sunnah Rasul-Nya shalallahu alaihi wasallam. Bagaimana ia merasa aman tidak menjadi pengikut syeitan”.[3]. Barang siapa yang merujuk dan menyerahkan kepada mereka maka aman dari fitnah dan mendapat akibat baik.

6. Perbaiki hubungan dengan Allah dan berdoa kepadanya. Karena do’a adalah kunci semua kebaikan di dunia dan akherat, apalagi meminta kepada Allah untuk menjauhkan kaum muslimin dari fitnah yang tampak dan yang tersembunyi dan berlindung kepada-Nya dari fitnah yang besar, karena siapa yang memohon perlindungan kepada Allah niscaya dilindungi dan siapa yang memohon kepada Allah niscaya diberi, karena Allah tidak membiarkan hambanya berdo’a tanpa hasil dan tidak akan menolak hamba yang memanggil-Nya. Dialah yang berfirman:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌۖ أُجِيبُ دَعۡوَةَ ٱلدَّاعِ إِذَا دَعَانِۖ فَلۡيَسۡتَجِيبُواْ لِي وَلۡيُؤۡمِنُواْ بِي لَعَلَّهُمۡ يَرۡشُدُونَ ١٨٦

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. 2:186)

Sebab di antara sebab munculnya fitnah adalah munculnya kesyirikan dan kemaksiatan, sehingga sudah seharusnya ketika muncul fitnah, kita kembali bertaubat dan memanjatkan do’a kepada Allah untuk menghilangkannya.

Imam Al Hasan Al Bashri dahulu menyatakan: “Sungguh Al Hajjaj adalah adzab Allah, maka janganlah menolak adzab Allah dengan tangan-tangan kalian. Namun hendaknya kalian beribadah dan memanjatkan do’a dengan kerendahan diri, karena Allah berfirman:

وَلَقَدۡ أَخَذۡنَٰهُم بِٱلۡعَذَابِ فَمَا ٱسۡتَكَانُواْ لِرَبِّهِمۡ وَمَا يَتَضَرَّعُونَ ٧٦

Dan sesungguhnya Kami telah pernah menimpakan azab kepada mereka, maka mereka tidak tunduk kepada Rabb mereka, dan (juga) tidak memohon (kepada-Nya) dengan merendahkan diri. (QS. 23:76).[4]

Hendaknya memperbanyak do’a kepada Allah agar dihilangkan fitnah yang ada sebagaimana dilakukan kaum nabi Yunus yang Allah ceritakan dalam firmanNya:

وَلَوۡ جَآءَتۡهُمۡ كُلُّ ءَايَةٍ حَتَّىٰ يَرَوُاْ ٱلۡعَذَابَ ٱلۡأَلِيمَ ٩٧ فَلَوۡلَا كَانَتۡ قَرۡيَةٌ ءَامَنَتۡ فَنَفَعَهَآ إِيمَٰنُهَآ إِلَّا قَوۡمَ يُونُسَ لَمَّآ ءَامَنُواْ كَشَفۡنَا عَنۡهُمۡ عَذَابَ ٱلۡخِزۡيِ فِي ٱلۡحَيَوٰةِ ٱلدُّنۡيَا وَمَتَّعۡنَٰهُمۡ إِلَىٰ حِينٖ ٩٨

Sesungguhnya orang-orang yang telah pasti terhadap mereka kalimat Rabbmu, tidaklah akan beriman. Meskipun datang kepada mereka segala macam keterangan, hingga mereka menyaksikan azab yang pedih. Dan mengapa tidak ada (penduduk) suatu kota yang beriman, lalu imannya itu bermanfa’at kepadanya selain kaum Yunus Tatkala mereka (kaum Yunus itu),beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia, dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai pada waktu yang tertentu. (QS. Yunus 10; 97-98).

Ibnu Katsier dalam menafsirkan ayat ini menyatakan: “Yang dimaksud, tidak ada satu (penduduk) satu kota yang beriman seluruhnya kepada nabi mereka dari (penduduk ) satu kota terdahulu kecuali kaum nabi Yunus, iman mereka hanya karena takut datangnya adzab yang telah rasul mereka peringatkan setelah mereka mengerjakan sebab-sebabnya (adzab) dan rasul mereka (Yunus) pergi meninggalkan mereka. Lalu ketika itu mereka berdoa dengan sepenuh hati kepada Allah, memohon pertolongan, merendahkan diri dan tunduk serta mengeluarkan anak-anak, binatang ternak dan gembalaan mereka  dan memohon kepada Allah untuk menolak adzab  yang telah diperingatkan nabi mereka. ketika itu pulalah Allah merahmati, menghilangkan adzab dari mereka dan mengakhirkan mereka.[5]

 

Demikianlah di antara perkara yang harus diperhatikan seseorang agar terhindar dari fitnah.

Semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah yang tampak dan tersembunyi. Wallahu a’lam.

 

Referensi

  1. Tafsir Ibnu Katsir, cetakan pertama tahun 1413H, maktabah Al Ulum Wal Hikaam, Madinah
  2. Silsilah Al Ahadits Shohihah
  3. Asbab Al Wiqayah Minal Fitan, Syeikh Abdullah Al ‘Ubailan dalam Majalah Ummatie, Kuwait, edisi 16- bulan Desember 2005-Dzul Qa’dah 1426H
  4. Majalah Ummatie, Kuwait, Mei 2005-Rabiul awal 1426H edisi 10
  5. Al Fitnah Wa Mauqif Al Muslim Minha, DR. Muhammad bin Abdulwahab Al ‘Aqiel
  6. Taisir Al Kariem Al Rahman
  7. Al Hujjah Fi Bayan Al Mahajjah, Ismail bin Muhammad Al Ashbahani, tahqiq Muhammad bin Rabi’ Al Madkholi, cetakan oertama tahun 1411H, Dar Al Royah, Riyadh
  8. Sunan Abu Daud
  9. A’unul Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud

[1] Al Fitnah Wa Mauqif Al Muslim Minha, DR. Muhammad bin Abdulwahab Al ‘Aqiel, hal.100-101

[2] Taisir Al Kariem Al Rahman

[3] Al Hujjah Fi Bayan Al Mahajjah 1/311

[4] dibawakan dalam makalah Asbab Al Wiqayah Minal Fitan, Syeikh Abdullah Al ‘Ubailan menukil dari pernyataan Ibnu Taimiyah.

[5] Tafsir ibnu katsir 2/414

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/KZN3C

About klikUK.com

Check Also

haji umroh ok

Hadits Lemah : Kewajiban Haji dan Umroh

عَنْ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضي الله عنه, قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ: إِنَّ الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ فَرِيضَتَانِ، ...