Home / Akidah Akhlaq / Tips Jitu Terhindar Dari Fitnah dan Perselisihan 1

Tips Jitu Terhindar Dari Fitnah dan Perselisihan 1

jalan

Beruntunglah orang yang dijauhkan dari fitnah!

عَنْ الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ قَالَ ايْمُ اللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنَ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنِ إِنَّ السَّعِيدَ لَمَنْ جُنِّبَ الْفِتَنُ وَلَمَنْ ابْتُلِيَ فَصَبَرَ فَوَاهًا

 Dari Al Miqdad bin Al Aswad radhiallahu anhu, beliau berkata: Demi Allah! Aku telah mendengar Rasululloh shalallahu alaihi wasallam bersabda: Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah, Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah, Sesungguhnya orang yang berbahagia adalah orang yang dijauhkan dari fitnah dan bagi orang yang diuji lalu bersabar, maka alangkah bagusnya.

 

Takhrij Hadits

Hadits ini diriwayatkan imam Abu Daud dalam sunannya, kitab Al Fitan Wal Malaahim, Bab Fi Al Nahyi ‘An Al Sa’yi Fil Fitnah, no. 4263. 4/460 dan dishohihkan Al Albani dalam Al Misykah Al Mashoobih no. 5405 dan silsilah Ahadits Al Shohihah no. 975 dan shohih Sunan Abu Daud no. 4263. Syiekh menyatakan: Hadits ini diriwayatkan Abu daud (4263) dari Al Laits bin Sa’ad dan Abul Qaasim Al Hana’I dalam Al Tsaalits Minal Fawaa’id 1/82 dari Abdullah bin Sholih.

Kemudian syeikh menyatakan: Ini sanad yang shohih sesuai syarat Muslim.[1]

 

Syarah kosa kata.

الْمِقْدَادِ بْنِ الْأَسْوَدِ

 الْفِتَنَ  bermakna fitnah

فَوَاهًا  adalah kata ungkapan ta’ajjub (kagum) bermakna alangkah bagusnya kesabaran orang yang sabar ketika tertimpa fitnah.[2]

 

Penjelasan Dan Faedah Hadits.

Rasululloh shalallahu alaihi wasallam dalam hadits yang mulia ini memuji dan menjelaskan kreteria orang yang bahagia, yaitu orang yang dijauhkan dari fitnah dan orang yang diuji dengan ujian namun bersabar.

Lalu muncul pertanyaan-pertanyaan:

Bagaimana cara mendapatkan kebahagian tersebut..?

Bagaimana dijauhkan dan selamat dari fitnah..?

Untuk itu perlu sekali mengenal ketentuan yang mendasar dan juga penting dari Al Qur’an dan Sunnah yang harus diperhatikan dalam masalah ini. Di antaranya:

 

  1. Bertakwa kepada Allah dan selalu menjaga ketakwaan dalam segala kondisi dan keadaan. Allah berfirman:

مَن كَانَ يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِۚ وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مَخۡرَجٗا ٢ وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ٣

Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tidada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki)-Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. (QS. Al Tholaq 65:2-3)

Hal ini bermakna bahwa Allah memberikan jalan keluar dari seluruh fitnah, bencana dan kejelekan di dunia dan akherat. Allah juga berfirman:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجۡعَل لَّهُۥ مِنۡ أَمۡرِهِۦ يُسۡرٗا ٤

Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya. (QS. Al Tholaq 65:4)

Ketika terjadi fitnah di zaman Tabi’in, sebagian orang yang baik mendatangi Tholq bin Habieb dan menyatakan bahwa telah terjadi fitnah dan bagaimana menyelesaikannya..? Beliau menjawab dengan pernyataan: “Berlindunglah darinya dengan takwa.! Mereka bertanya: “Jelaskan kepada kami apa takwa itu (yang engkau maksudkan).? Beliau menjawab: “Takwa adalah mengamalkan ketaatan kepada Allah di atas cahaya dari Allah dan mengharap rahmat-Nya, meninggalkan kemaksiatan di atas cahaya dari Allah dan takut dari adzab-Nya. (diriwayatkan oleh imam Ahmad dan Ibnu Abi Dunya [3]

Syeikh Abdurrazaq Al Abaad menyatakan: “Dengan demikian jelas bahwa ketakwaan tidak semata kata-kata yang diucapkan seseorang dengan lisannya atau klaim yang disampaikan seseorang. Sebenarnya  ketakwaan adalah kesungguhan dan ijtihad serta membimbing jiwa untuk taat dan mendekatkan diri kepada Allah dengan amalan yang diridhoi-Nya. Juga menjauhi kemaksiatan dan kemungkaran. Siapa yang memiliki hal ini maka ia -insya Allah- mendapatkan akibat dan akhir yang baik. [4]

 1. Komitmen, konsisten dan berpegang teguh kepada Al Qur’an dan Sunnah serta berjalan di atas manhaj salaf Ash Sholih[5], karena berpegang teguh kepada Al Kitab dan Sunnah adalah jalan mencapai kejayaan, keselamatan dan kemenangan di dunia dan akherat.

Imam Malik telah berkata: “Sunnah Nabi adalah perahu Nabi Nuh, siapa yang menaikinya maka selamat dan siapa yang meninggalkannya maka binasa dan tenggelam”.[6]

Hal ini  dijelaskan Rasululloh shalallahu alaihi wasallam dalam hadits Al ‘Irbaadh bin Saariyah yang berbunyi:

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

 Karena siapa yang hidup setelahku dari kalian, maka akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk konsisten dengan sunnahku dan Sunnah para penggantiku yang berilmu dan beramal (Khulafa’ Al Mahdiyyin al Rasyidin). Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi graham. Berhati-hatilah terhadap perkara baru yang diada-adakan (dalam agama), karena setiap yang baru diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.  (HR Abu Daud, Al Tirmidzi dan selainnya)

Syeikh Abdurrazaq Al ‘Abad menyatakan: ‘Keselamatan ketika terjadi perselisihan dan fitnah hanya akan didapat dengan berpegang teguh kepada Sunnah Nabi shalallahu alaihi wasallam, menjauhi hawa nafsu dan kebidahan serta berhukum dengan Sunnah pada dirinya, baik dalam perkara yang ia lakukan atau tinggalkan, baik berupa gerakan, diam, berdiri, duduk dan seluruh sisi kehidupannya. Siapa yang keadaaannya demikian maka insya Allah akan terlindungi dan terjaga dari seluruh kejelekan, bencana dan fitnah. Sedangkan orang yang membiarkan dirinya bebas dan membiarkan hawa nafsunya menjadi pengendali maka ia telah menjerumuskan dirinya dan orang lain dalam kejelekan’[7].

2. Lemah lembut, tenang, tidak tergesa-gesa dan berpikir yang jauh tentang akibat dari semua yang dilakukan.

Karena ketergesa-gesaan tidak membawa kebaikan sedangkan pada sikap perlahan ada kebaikan dan barokah. Barangsiapa yang tergesa-gesa dan sembarangan dalam urusan dan prilakunya, maka dia tidak aman dari ketergelinciran dan terjerumus dalam penyimpangan. Sedangkan orang yang lemah lembut, sabar dan jauh dari sikap tergesa-gesa, ngawur dan nekat serta selalu memperhitungkan akibat perbuatannya, maka insya Allah akan mendapat hasil yang membahagiakan di dunia dan akherat.

Sahabat mulia Ibnu Mas’ud berkata: “Akan muncul perkara musytabihat (samara-samar), maka kalian harus berlaku pelan-pelan, karena menjadi pengikut dalam kebaikan lebih baik dari menjadi pemimpin tapi dalam kejelekan”. [8]

Sungguh orang yang terburu-buru mengatasi permasalahan dan tidak sama sekali mengambil cara perlahan-lahan itu membuka pintu kelejelekan untuk dirinya dan orang lain, Dia bertanggung jawab atas dosanya dan  menuai hasil yang buruk. Dari Anas bin Malik beliau berkata: Rasululloh shalallahu alaihi wasallam telah bersabda:

إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ

Sungguh ada di antara orang yang menjadi kunci kebaikan dan penutup kejelekan dan sungguh ada di antara orang yang menjadi kunci pembuka kejelekan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah orang yang Allah jadikan kunci pembuka kebaikan melalui tangannya dan celakalah orang yang Allah jadikan kunci pembuka kejelekan melalui tangannya. (HR Ibnu Majah)

Seorang yang berakal senantiasa berhati-hati, melihat jauh kedepan, sabar, lembut dan perlahan serta jauh dari sikap ngawur, tergesa-gesa dan nekat, karena hanya memberikan akibat buruk dan bahaya serta hasil yang jelek.[9]

Bersambung… lihat di : Tips Jitu Terhindar Dari Fitnah dan Perpecahan 2

 

[1] Silsilah Al Ahadits Al Shohihah 2/703

[2] lihat ‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abu Daud

[3] Majalah Ummatie, Kuwait, Mei 2005-Rabiul awal 1426H edisi 10 hal 18

[4] ibid

[5] makalah Asbab Al Wiqayah Minal Fitan, Syeikh Abdullah Al ‘Ubailan dalam Majalah Ummatie, Kuwait, edisi 16- bulan Desember 2005-Dzul Qa’dah 1426H hal 6

[6] Majalah Ummatie, Kuwait, Mei 2005-Rabiul awal 1426H edisi 10 hal 18

[7]  ibid

[8] Majalah Ummatie, Kuwait, Mei 2005-Rabiul awal 1426H edisi 10 hal 18

[9] dari pernyataan Syeikh Abdurrazaq bin ABdilmuhsin Al ‘Abad dalam Majalah Ummatie, Kuwait, Mei 2005-Rabiul awal 1426H edisi 10 hal 18

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/oVmsB

About klikUK.com

Check Also

wpid-img_20180611_1744155764868026292960762.jpg

Fatwa Ramadhan : Haruskah Tetap Puasa ketika Safar..?

Makna Hadits Orang yang Berpuasa dapat Satu Pahala dan Orang yang Berbuka dapat Dua Pahala ...