Home / Brankas / Tidak Tinggal Serumah Dengan Suami

Tidak Tinggal Serumah Dengan Suami

Rumah terpencilPertanyaan :

Saya  ingin bertanya tentang permasalahan saya. Saya dan suami tidak tinggal serumah, kami berjauhan. Saya tinggal jauh di rumah orang tua saya. Saya pernah bertanya kepada suami, apakah dia ridha saya di rumah ortu saya? Dia bilang ridha. Bagaimanakah kedudukan saya menurut syariat? Apakah saya tidak berdosa karena tidak serumah dengan suami?

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh

Hamba Allah

Jawab :

Pernikahan dan kehidupan rumah tangga dijalin dan dibangun tentunya untuk kebahagian kedua pasangan suami istri. Oleh karena itu Allah Ta’ala telah menjadikan rumah tangga dan keluarga sebagai tempat yang disiapkan untuk manusia merengkuh ketentraman, ketenangan, dan kebahagiaan sebagai anugerah terhadap hambaNya. Untuk itulah Allah berfirman:

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (QS. Ar Ruum : 21)

Dalam ayat yang mulia ini Allah Ta’ala firmankan: (لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا) bukan (لِّتَسْكُنُوا مَعَهَا). Hal ini menunjukkan pengertian ketentraman dalam prilaku dan jiwa dan merealisasikan kelapangan dan ketenangan yang sempurna. Sehingga hubungan pasutri itu demikian dekat dan dalamnya seakan-akan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Allah jelaskan hal ini dalam firmanNya:

هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ

Mereka itu adalah pakaian, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka. (QS. Al Baqarah :187)

Demikian dalamnya hubungan rumah tangga hingga diibaratkan oleh Allah dengan erat dan dalamnya hubungan badan dengan pakaian.

Untuk menciptakan ini semua setiap dari pasangan suami istri harus menunaikan hak-hak dan kewajibannya. Di antaranya adalah kewajiban suami memberikan nafkah dan rumah kepada istri.

Sudah menjadi hak sang istri untuk meminta suaminya memberikan tempat tinggal yang layak sesuai kemampuan dan keluasan rezeki sang suami. Kewajiban suami memberikan tempat tinggal pada istrinya ini didasarkan pada beberapa hal berikut:

1.  Allah Ta’ala memberikan hak tempat tinggal kepada wanita yang dicerai dengan talak satu dan dua. Kalau ini saja dapat apalagi yang masih dalam ikatan pernikahan tanpa talak. Allah berfirman :

أَسْكِنُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ سَكَنْتُمْ مِنْ وُجْدِكُمْ وَلَا تُضَارُّوهُنَّ لِتُضَيِّقُوا عَلَيْهِنَّ

Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka. (Qs at-Thalaq : 6)

2.  Kewajiban bergaul dengan baik dalam firman Allah :

وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ

Dan bergaullah dengan mereka secara patut. (Qs an-Nisa: 19).

Sudah dimaklumi bahwa hal ini mencakup juga tempat tinggal yang layak.

3.  Demikian juga istri sangat butuh rumah untuk menutupi dirinya dari mata-mata nakal dan menjaga kehormatannya. Ini semua dapat direalisasikan di rumah.

Dari sini jelaslah bahwa saudari/ibu tidak salah bahkan seharusnya sang suamilah yang meminta keridhaan saudari/ibu dan minta maaf karena belum bisa memenuhi kewajiban ini. Kecuali bila sang suami sudah menyiapkan rumah bagi saudari/ibu maka wajib bagi ibu untuk tinggal bersama suami dalam rangka mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sudah dimulai dengan akad nikah, kecuali ada sebab-sebab tertentu yang mengharuskan saudari/ibu tinggal di rumah orang tua. Bila keadaannya demikian maka keridhaan suami harus diminta dan didapatkan. Sehingga tinggalnya saudari/ibu di rumah orang tua tersebut karena satu maslahat tertentu dengan seizin suami diperbolehkan dan tidak terlarang.

Namun perlu diingat, di sana ada kemaslahatan suami yang harus diperhatikan yaitu kebutuhan dia terhadap pendamping setia yang menemani dalam suka dan duka.

Kami memohon kepada Allah semoga saudari/ibu dapat berkumpul lagi bersama suami untuk menciptakan keluarga yang sakinah, mawaddah dan penuh rahmah.

Wabillahittaufiq.

Baca Artikel bermanfaat lainnya di www.ustadzkholid.com

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/iAp6c

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

ADZAN

Fatwa : Apakah Dianjurkan Tambahan Lafadz “Innaka Laa Tukhliful Mi’ad” pada Doa Setelah Adzan?

Apakah Dianjurkan Tambahan Lafadz “Innaka Laa Tukhliful Mi’ad”? Fadhilatu Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin ...