Home / Akidah Akhlaq / Tawakal dan Doa

Tawakal dan Doa

8

Dijelaskan terdahulu tawakal diikat dengan amalan dan telah dimaklumi bahwa tawakal dilakukan dengan menyandarkan diri hanya kepada Allah. Tawakal ini akan tampak jelas sekali ketika berdoa, karena orang yang berdoa ketika berdoa maka ia memohon pertolongan kepada Allah dan menyerahkan urusannya hanya kepada-Nya saja.

Demikian juga tawakal tidak terwujud kecuali dengan melakukan sebab-sebab yang diperintahkan syariat dan doa adalah sebab terpenting dalam mewujudkan tawakal. Melihat hal ini perlu sekali kita mengenal urgensi doa bagi seorang muslim yang bertawakal kepada Allah.

Urgensi Doa Bagi Seorang Hamba

Doa bukanlah sesuatu yang asing ditelinga kita dan dalam benak kita. Insya Allah kita semua telah melakukannya dan telah mengerti maksud dan pengertiannya. Namun, terkadang kita lupa mengerjakannya bila tidak mengalami masalah atau musibah. Karena itu, perlu sekali kita mengetahui urgensi doa dalam kehidupan agar memotivasi untuk memperbanyak doa.

Memang tidak dapat dipungkiri tingginya urgensi, keutamaan dan hasil yang didapat dari memperbanyak doa. Nah, disini kami hanya menjelaskan beberapa diantaranya saja.
1. Doa adalah ibadah penting yang diperintahkan Allah. Dan tidak pernah berdoa termasuk kesombongan yang mengantar pelakunya masuk neraka. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya,

“Dan Tuhan-mu berfirman, ‘Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku[berdoa kepada-Ku] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.’” (QS. Ghafir: 60).

Ayat yang mulia ini menunjukkan doa adalah ibadah yang Allah perintahkan kepada hamba-Nya. Kemudian menamakan orang yang tidak mau berdoa sebagai orang yang sombong yang mendapat ancaman masuk neraka.

2. Doa adalah sesuatu yang paling mulia disisi Allah, sebagaimana dijelaskan Rasulullah dalam sabda beliau,

لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ_عَزَّ وَجَلَّ_ مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada yang lebih mulia atas Allah dari doa.” (HR. Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 549).

3. Doa menjadi sebab menolak kemurkaan Allah sebagaimana sabda Rasulullah,

مَنْ لمَ ْيَسْأَلِ اللهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ

“Siapa yang tidak meminta kepada Allah niscaya Allah murka kepadanya.” (HR. Ahmad dan At-Tirmizi dan dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Al-Adab Al-Mufrad, 512).

Jelaslah doa seorang hamba termasuk kewajiban terpenting, karena menjauhkan sesuatu yang menjadikan Allah murka adalah wajib tanpa khilaf. (lihat Tuhfah Adz-Dzaakirin, hal. 31).

4. Doa menjadi sebab digagalkan bala (bencana) sebelum terjadi, sebagaimana sabda Rasulullah,

وَلاَ يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلاَّ الدُّعَاءُ

“Tidak ada yang bisa menolak takdir kecuali doa.” (HR. Ahmad dan dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’, 7687).

Bahwasanya berdoa itu termasuk takdir Allah. Terkadang Allah akan menetapkan suatu takdir untuk hambanya dengan syarat ketika dia tidak berdoa. Namun jika dia berdoa, maka Allah menghapus takdir tersebut untuknya. (lihat Tuhfah Adz-Dzaakirin hal. 31).

5. Doa menjadi sebab dihilangkan bencana setelah terjadinya, sebagaimana dijelaskan Rasulullah dalam sabdanya,

مَنْ فُتِحَ لَهُ مِنْكُمْ بَابُ الدُّعَاءِ فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ، وَمَا سُئِلَ اللهُ شَيْئًا يُعْطَى أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَسْأَلَ الْعَافِيَةَ, إِنَّ الدُّعَاءَ يَنْفَعُ مِمَّا نَزَلَ وَمِمَّا لَمْ يَنْزِلْ؛ فَعَلَيْكُمْ عِبَادَ اللهِ باِلدُّعَاءِ

“Siapa yang dimudahkan berdoa maka dibukakan baginya pintu-pintu rahmat. Allah tidak ditanya sesuatu yang diberi lebih Dia sukai dari permintaan sehat (afiyah), karena doa bermanfaat pada musibah yang telah terjadi dan yang belum terjadi. Maka wajib bagi kalian -wahai hamba Allah- untuk berdoa.” (HR At-Tirmizi dan dinilai hasan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Al-Jaami’, 3409).

Dan sudah sepantasnya, seorang hamba apabila mendapatkan rasa suka dan semangat untuk segera memperbanyak doa. Karena itu, akan dikabulkan dan akan ditunaikan kebutuhannya dengan keutamaan dan rahmat Allah. Sebab dibukanya pintu-pintu rahmat adalah tanda dikabulkannya doa.

6. Doa menjadi sifat hamba Allah yang bertakwa, seperti dijelaskan Allah dalam firman-Nya,
“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada kami.” (QS Al-Anbiya’: 90).

7. Doa menjadi sebab ke-istiqamah-an dan kemenangan atas musuh. Seperti dalam doa Thalut dan tentaranya ketika berhadapan dengan Jalut dan tentaranya yang jauh lebih besar dan lengkap,

“Ya Tuhan Kami, tuangkanlah kesabaran atas diri Kami, dan kokohkanlah pendirian Kami dan tolonglah Kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 250).

Dan hasilnya adalah tentara Thalut berhasil mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut.

Demikian sebagian urgensi dan hasil yang dicapai dari doa, mudah-mudahan dapat memotivasi kita untuk lebih giat dan semangat memperbanyak doa kepada Allah.

Wabillahi taufiq.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/XobWK

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

ledakan

Ringkasan Fikih Islam : Dosa Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan

Dosa Orang yang Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍ و ...