Home / Akidah Akhlaq / Tanda Tanda Cinta Kepada Nabi

Tanda Tanda Cinta Kepada Nabi

Tanda-tanda cinta kepada Nabi
Allah menetapkan tanda dan bukti kecintaan kepada nabi dan mensyariatkannya agar orang dapat mengetahui kebenaran klaimnya (bahwa dia cinta kepada Nabi), sebab setiap pengakuan harus ada pembuktiannya yang menunjukkan kebenaran pengakuan tersebut. lihatlah firman Allah :

Katakanlah :”Tunjukkan kebenaranmu jika kamu adalah orang-orang yang benar”. (QS. al-Baqarah/2 :111)

Di antara tanda-tandanya adalah:

1. Mengikuti beliau (al-Ittiba’) dan mengikuti sunahnya.
Mengikuti dan mencontoh Nabi serta berjalan di atas manhaj dan sunnahnya adalah tanda utama dari cinta Nabi. Orang yang cinta nabi adalah orang yang semangat, berpegang teguh dengan sunnahnya dan menghidupkannya serta mendahulukan hal tersebut daripada hawa nafsu dan kelezatannya, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah :

قُلْ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمْ وَأَبْنَآؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَآ أَحَبَّ إِلَيْكُم مِّنَ اللهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللهُ بِأَمْرِهِ وَاللهُ لاَيَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah:”Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. at-taubah/9:24)

Ittiba’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam hukumnya adalah wajib sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kamu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” [Ali ‘Imran: 31]

Imam Ibnu Katsir rahimahullah (wafat th. 774 H): “Ayat ini adalah pemutus hukum bagi setiap orang yang mengaku mencintai Allah namun tidak mau menempuh jalan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka orang itu dusta dalam pengakuannya tersebut, sampai ia mengikuti syari’at dan agama yang dibawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam semua ucapan dan perbuatannya.” ( Tafsiir Ibni Katsiir (I/384))

Mengamalkan Sunnahnya, menghidupkan, dan mengajak kaum Muslimin untuk mengamalkannya, serta berjuang membela As-Sunnah dari orang-orang yang mengingkari As-Sunnah dan melecehkannya termasuk dalam kecintaan kepada Nabi.

Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdillah al-Fauzan menjelaskan dalam kitabnya: “Termasuk mengagungkan beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah mengagungkan Sunnahnya dan berkeyakinan tentang wajibnya mengamalkan Sunnah tersebut, dan meyakini bahwa Sunnah beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menduduki kedudukan kedua setelah Al-Qur-anul Karim dalam hal kewajiban mengagungkan dan mengamalkannya, sebab As-Sunnah merupakan wahyu dari Allah.
Karena itu tidak boleh membuat keragu-raguan di dalamnya, apalagi melecehkannya. Dan tidak boleh membicarakan keshahihan dan kedha’ifannya, baik dari segi jalan, sanad atau penjelasan makna-maknanya kecuali berdasarkan ilmu dan kehati-hatian. Pada zaman ini banyak orang-orang bodoh yang melecehkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, terutama dari kalangan anak-anak muda yang baru dalam tahap awal belajar. Mereka dengan mudahnya menshahihkan atau mendha’ifkan hadits-hadits, dan menilai cacat para perawi tanpa ilmu kecuali dari membaca beberapa buku. Sungguh hal tersebut berbahaya bagi mereka dan ummat. Karena itu hendaknya mereka bertaqwa kepada Allah dan menahan diri pada batasannya. ( Aqiidatut Tauhiid (hal 154)).

2. Mencintai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengharuskan adanya pengagungan, memuliakan, meneladani beliau dan mendahulukan sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas segala ucapan makhluk serta mengagungkan Sunnah-sunnahnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertaqwalah kepada Allah. Sesung-guhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al-Hujuraat: 1]

3. Banyak menyebut beliau
Siapa yang mencintai sesuatu akan memperbanyak mengingatnya dan menyebutnya, sebab banyak mengingatnya adalah sebab kelanggengan cinta dan pertumbuhannya.

Ibnul Qayyim menyatakan: Shalawat adalah sebab kelanggengan cinta seseorang kepada Rasulullah, pertambahan dan berlipat gandanya. Ahal itu adalah salah satu ikatan imam yang tidak sempurna iman tanpanya; karena seorang hamba setiap kali memperbanyak menyebut kekasihnya dan mengingat kebaikan dan hal-hal yang membawanya untuk mencintainya, maka berlipat ganda kecintaannya dan bertambah rindu kepadanya serta mengalahkan semua yang ada dihatinya. Apabila berpaling dari mengingatnya, tidak mengingat beliau dan kebaikannya dengan hatinya maka berkurang kecintaan dari hatinya. Tidak ada yang lebih menyejukan mata seorang hamba yang mencintai dari melihat kekasihnya. Tidak ada yang lebih sejuk dihatinya lebih dari mengingat dan menghadirikan kebaikan-kebaikannya. Apabila kuat hal ini dihatinya, maka lisahnya otomatis akan memuji dan menyebut kebaikannya dan jadilah pertambahan dan pengurangannya sesuai dengan pertambahan cinta dan pengurangannya di hati. (Jalaa’ al-Afhaam 248).

Mengingat Rasulullah dan jasa baiknya terhadap umat tentulah dengan cara-cara yang telah disyariatkan, seperti bersholawat, membaca sejarah perjuangan dan hidup beliau, membaca hadits-hadits beliau dan yang lainnya.
Hal ini merupakan bentuk penampakan kecintaan, penghormatan dan pemuliaan Nabi. Ini tentunya adalah tanda kecintaannya kepada beliau.

4. Bercita-cita untuk melihat dan rindu bertemu beliau.
Tanda ini disampaikan langsung oleh Rasulullah dalam sabdanya:

مِنْ أَشَدِّ أُمَّتِي لِي حُبًّا، نَاسٌ يَكُونُونَ بَعْدِي، يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ رَآنِي بِأَهْلِهِ وَمَالِهِ

Di antara umatku yang paling besar cintanya kepadaku adalah orang yang hidup detelahku, salah seorang dari mereka berharap seandainya bertemu denganku dengan (mengorbankan) keluarga dan hartanya (HR Muslim). Dalam riwayat lainnya:

وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ فِي يَدِهِ لَيَأْتِيَنَّ عَلَى أَحَدِكُمْ يَوْمٌ وَلَا يَرَانِي، ثُمَّ لَأَنْ يَرَانِي أَحَبُّ إِلَيْهِ مَنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ مَعَهُمْ

Demi Allah yang jiwa Muhammad di tanganNya Pasti akan datang atas salah seorang kalian satu waktu dan ia tidak melihatku kemudian melihatku itu lebih ia cintai dari keluarga dan hartanya bersama mereka. (HR Muslim).

5. Nasehat karena Allah, kitab sucinya, RasulNya dan Pemimpin serta masyarakat muslimin.
Allah berfirman:

لَّيْسَ عَلَى الضُّعَفَآءِ وَلاَعَلَى الْمَرْضَى وَلاَعَلَى الَّذِينَ لاَيَجِدُونَ مَايُنفِقُونَ حَرَجٌ إِذَا نَصَحُوا للهِ وَرَسُولِهِ مَاعَلَى الْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ وَاللهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ وَلاَعَلَى الَّذِينَ إِذَا مَآأَتَوْكَ لِتَحْمِلَهُمْ قُلْتَ لآَأَجِدُ مَآأَحْمِلُكُمْ عَلَيْهِ تَوَلَّوا وَّأَعْيُنُهُمْ تَفِيضُ مِنَ الدَّمْعِ حَزَنًا أَلاَّيَجِدُوا مَايُنفِقُونَ

Tiada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah, atas orang-orang yang sakit dan orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya. Tidak ada jalan sedikitpun untuk mengalahkan orang-orang yang berbuat baik, Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata:”Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu”, lalu mereka kembali, sedang mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan. (QS. at-taubah/9:91-92)
Nabi bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ؟ قَالَ: «لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ»

Agama adalah nasihat, Kami bertanya: Untuk siapa? beliau menjawab: Untuk Allah, kitabnya, Rasulnya dan pemimpin muslimin dan umumnya mereka (HR Muslim).

6. Belajar al-Qur`an dan sunnahnya. Terus membaca dan memahami kandungannya serta mencintai ahlinya.

al-Qaadhi Iyaadh berkata: Diantara tanda cinta kepada nabi, mencintai Al-Qur`an yang dibawa beliau dan mengambil petunjuk beliau serta berakhlah dengan sunnahnya hingga A’isyah berkata: Sesungguhnya akhlak Nabi adalah al-Qur`an.
cintanya kepada al-Qur`an adalah membaca, beramal dengannya dan memahaminya. (Asy-Syifaa 2/576).
Ibnu Mas’ud berkata: Janganlah seorang bertanya tentang dirinya kecuali al-Qur`an , apabila dia mencintai al-Qur`an maka dia mencintai Allah dan RasulNya. (Riwyat al-Baihaqi dalam al-Adab hlm 522).

7. Mencintai yang beliau cintai.
Mencintai yang beliau cintai dari keluarga, sahabat dan kaum mukminin adalah tanda kecintaan kepada Nabi. sebab orang yang mencintai sesuatu akan mencintai yang dicintai kekasihnya tersebut.

8. Membenarkan apa yang beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan sebab Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak berkata menurut hawa nafsunya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰإِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” [An-Najm: 3-4]

9. Menahan diri dari apa yang dilarang dan dicegah oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“…Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” [Al-Hasyr: 7]

10. Membenci yang dibenci beliau

11. Mentaati apa yang Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan.

Allah memerintahkan setiap Muslim dan Muslimah untuk taat kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena dengan taat kepada beliau menjadi sebab seseorang masuk Surga. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam Surga yang mengalir di dalamnya sungai sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.” [An-Nisaa’: 13]

Kita wajib mentaati Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan menjalankan apa yang diperintahkannya dan meninggalkan apa yang dilarangnya. Hal ini merupakan konsekuensi dari syahadat (kesaksian) bahwa beliau adalah Rasul (utusan) Allah. Dalam banyak ayat Al-Qur-an, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk mentaati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya ada yang diiringi dengan perintah taat kepada Allah, sebagaimana firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya…” ( QS An-Nisaa’/4: 59]

Dan masih banyak lagi contoh yang lain. Di samping itu terkadang perintah tersebut disampaikan dalam bentuk tunggal, tidak dibarengi kepada perintah yang lain, sebagaimana dalam firman-Nya:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa mentaati Rasul, maka sesungguhnya ia telah mentaati Allah.” (QS An-Nisaa’/4: 80]

Tekadang pula Allah mengancam orang yang mendurhakai Rasul-Nya, sebagaimana dalam firman-Nya:

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang melanggar perintah Rasul takut akan ditimpa fitnah (cobaan) atau ditimpa adzab yang pedih.” (QS An-Nuur/24: 63)

Artinya hendaknya mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid’ah atau siksa pedih di dunia, baik berupa pembunuhan, had, pemenjaraan atau siksa-siksa lain yang disegerakan. Allah telah menjadikan ketaatan dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sebab hamba mendapatkan kecintaan Allah dan ampunan atas dosa-dosanya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan ketaatan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai petunjuk dan mendurhakainya sebagai suatu kesesatan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا

“Dan jika kamu taat kepadanya, niscaya kamu mendapat petunjuk.” (Qs An-Nuur/24: 54)

Allah mengabarkan bahwa pada diri Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam terdapat teladan yang baik bagi segenap ummatnya. Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan kedatangan hari Kiamat dan dia banyak menyebut Nama Allah.” (Qs Al-Ahzaab/33: 21)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Ayat yang mulia ini adalah pokok yang agung tentang meneladani Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam berbagai perkataan, perbuatan dan perilakunya. Untuk itu, Allah memerintahkan manusia untuk meneladani sifat sabar, keteguhan, kepahlawanan, perjuangan dan kesabaran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam menanti pertolongan dari Rabb-nya k ketika perang Ahzaab. Semoga Allah senantiasa mencurahkan shalawat kepada beliau hingga hari Kiamat.” (Tafsiir Ibni Katsir (3/522-523))

12. Zuhud dari dunia

13. Memperingatkan dan menjauhi dari tanda-tanda cinta yang salah.

14. Mengagungkan dan Memuliakannya

Di antara tanda cinta kepada beliau adalah mengagungkan dan memuliakannya yang sesuai baginya tanpa berlebih-lebihan ataupun mengurangi. Memuliakan beliau ketika hidupnya adalah dengan memuliakan sunnahnya dan diri beliau yang mulia. Memuliakan beliau setelah wafatnya adalah dengan memuliakan sunnah dan syari’atnya yang lurus ini. Barang siapa mengetahui para sahabat beliau menghormati dan memuliakan beliau maka dia akan tahu bagaimana seharusnya memuliakan beliau, bagaimana para sahabatnya yang mulia bersikap terhadap beliau dan melaksanakan haq-haq beliau. Berkata ‘Urwah Ibnu Mas’ud kepada Quraisy ketika beliau diurus untuk menyampaikan apa yang dari Rasul pada perjanjian Hudaibiyah, dia berkata : Aku sudah masuk atas raja-raja, kaisar dan pembesar serta Najasyi, maka aku tidak melihat seorangpun dari mereka yang diagungkan oleh para sahabatnya sebagaimana Rasulullah diagungkan oleh para shahabatnya. Apabila mereka diperintah mereka bersegera untuk melaksanakan perintahnya, apabila beliau berwudhu, hampir para shahabat itu berkelahi karena memperebutkan air wudhu beliau, apabila beliau berbicara mereka menundukkan suara-suara mereka di sisinya dan tidaklah mereka menunjukkan pandangan kepada beliau dikarenakan pengagungan mereka. Demikianlah mereka memuliakan Nabi n, yang mana Allah telah menciptakan pada diri beliau ahlak yang agung, lembut, mudah dan jika beliau keras dan kasar tentu mereka akan lari dari beliau.

15. Membela Syariatnya

Termasuk tanda cinta kepada beliau adalah membela syari’at dan petunjuknya sekuatnya. Membela dengan senjata ketika keadaan mengharuskannya. Apabila musuh menyerang dengan pikiran/pandapat dan subhat, maka kita bela dengan ilmu, kita bantah dan patahkan pendapat dan syubhat mereka dan kita jelaskan kacau dan rusaknya semua itu. Jika mereka menyerang dengan senjata maka pembelaannya adalah dengan semacam itu juga.
Tidaklah mungkin seorang mukmin ketika mendengar ada yang menyerang syari’at Nabi atau diri beliau lalu dia hanya diam saja atas hal itu padahal dia mampu untuk membelanya.

Syaikh Abdurrahman Ibnu Nashir As-Sa’dy berkata : Pada ayat 31 surat Ali Imran di atas merupakan timbangan yang dapat diketahui dengannya siapa yang hakekatnya mencintai Nabi dan siapa yang hanya sekedar mengaku mencintai Nabi. Tanda mencintai Allah adalah mengikuti Nabi, yang Allah telah tetapkan adalah mengikuti semua yang diperintahkan.

Demikian hal-hal yang perlu diketahui agar cinta kita menjadi benar.
semoga bermanfaat.

Sukoharjo, malam jum’at 25 Januari 2018
Kholid Syamhudi

Maroji’ :
Taisir Karimir Rahman fii Tafsiri Kalami Al-Manan, Pengarang : Syaikh Abdurrhman Nashir As-Sa’diy, cetakan Yayasan Ar-Risalah edisi revisi, tahun 1420H/1999 M
Lum’atul I’tiqod Al-Hadi Ilaa Sabiil Ar-Rasyaad, pengarang Imam Ibnu Qudamah, pensyarah Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, cetakan maktabah Adhwaaussalaf ke-3 tahun 1415 H/1995 M
Huquuq Da’at Ilaiha al-fitrah wa Qorroroha As-Syari’ah, pengarang Syaikh Muhammad Al-Utsaimin, cetakan Daar Al-Buhuts Al-Ilmiyah wal Ifta tahun 1417 H/ 1996 M
Huququn Nabi , karya Muhammad Khalifah at-Tamimi.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/ZJRu1

About klikUK.com

Check Also

wpid-fb_img_15237576133111880934809.jpg

Hikmah bulan Shafar -5

15 Faidah Tentang Bulan Shafar (5) Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid 9. Tathayyur (merasa sial dengan ...