Home / Akidah Akhlaq / Ringkasan Fikih Islam : Pokok-Pokok Dakwah Para Rasul

Ringkasan Fikih Islam : Pokok-Pokok Dakwah Para Rasul

Pokok-Pokok Asas Dakwah Para Nabi Dan Rasul

Allah Subhanahu Wata’ala mengutus para nabi dan rasul dengan tiga perkara: Berdakwah ilallah, menerangkan tentang jalan yang bisa menyampaikan (manusia) kepada Allah, menerangkan tentang keadaan manusia setelah sampai di sana. Yang pertama menerangkan tentang tauhid dan iman, yang kedua menerangkan hukum-hukum syariat, ke tiga: menerangkan tentang hari akherat dan apa-apa yang terjadi di dalamnya, seperti pahala, siksa, syurga dan neraka.
Dalam berdakwah, seorang da’i hendaklah menerangkan kepada manusia tentang keesaan Allah, nama-nama Nya, sifat-sifat Nya dan pekerjaan-pekerjaan Nya, dan menjelaskan tentang keagungan Allah dan kekuasaan Nya; bahwa sesungguhnya hanya Allah lah sang Pencipta, Yang Penguasa, Yang Mengatur semua alam semesta ini. Selain Allah adalah makhluk yang tidak berdaya dan tidak punya kekuatan, sesungguhnya hanya Allah semata yang berhak disembah tidak ada sesembahan yang lain. Inilah tahapan awal (berdakwah) yang paling baik dan agung.
Kemudian berdakwah (dengan menerangkan tentang) hari akherat, memberikan nasehat (yang dikemas) dalam menjelaskan tentang dorongan serta ancaman siksaan, menjelaskan sifat-sifat dan keadaan syurga, keadaan neraka dan macam-macam siksaannya dan peristiwa yang lainnya dari rentetan kejadian di hari kiamat.
Kemudian berdakwah (dengan menerangkan) hukum-hukum agama dan syariat, menjelaskan tentang halal dan haram, kewajiban-kewajiban dan hak-hak yang harus dipenuhi. Pada periode Mekkah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdakwah (dengan menerangkan) tentang keesaan Allah dan hari akhirat dan penjelasan tentang keadaan para rasul bersama umat-umat mereka. Adapun pada periode Madinah, Allah menyempurnakan agama Nya dengan hukum-hukum syariat, sehingga syari’at ini diterima oleh orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan tidak diterima oleh orang yang kafir dan munafik.

Allah Subhanahu wata’ala memerintah kepada Rasul Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mengikuti petunjuk orang-orang sebelumnya dari para nabi dan rasul secara umum, dan memerintahkan beliau untuk mengikuti millah Ibrahim secara khusus, dan millah Ibrahim adalah mengorbankan segala sesuatu demi kepentingan agama; dengan jiwa, harta, tanah, anak dan istrinya.
Dan kita diperintahkan oleh Allah Subhanahu Wata’ala untuk mengikuti Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta mencontohnya dalam setiap situasi dan kondisi, kecuali hal yang telah dikhususkan oleh Allah bagi beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.

1. Allah ( berfirman setelah menyebutkan beberapa ayat tentang para nabi:

أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهِ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

“Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka.” (QS. Al-An’am: 90).

2. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

ثُمَّ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ أَنِ اتَّبِعْ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Kemudian kami wahyukan kepadamu (Muhammad): Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif, dan bukanlah ia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS. An-Nahl: 123).

3. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman kepada umat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21).

Perbuatan dan akhlak-akhlak para Nabi bisa diketahui dari sejarah hidup mereka, para nabi telah menempuh masa yang panjang dalam berdakwah di jalan Allah, kaki mereka berdebu (karena kerja keras tanpa lelah) di jalan Allah, mereka mengorbankan harta dan jiwa mereka demi tegaknya kalimat Allah, dahi mereka berkeringat, kaki-kaki mereka terpecah demi menolong agama Allah, mereka diuji, disakiti, dikucilkan, diusir, mereka berperang, dan diperangi, digoncang, disingkirkan, dicaci maki, diperolok, dipukul, tetapi mereka tetap bersabar dan berbelas kasih hingga datang pertolongan Allah atas mereka. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا وَلَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ وَلَقَدْ جَاءَكَ مِنْ نَبَإِ الْمُرْسَلِينَ

“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Tak ada seorang pun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Dan sesungguhnya telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu”. (QS. Al-An’am: 34).

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/dyn1s

About klikUK.com

Check Also

wpid-img_20180605_2123548233503940939453834.jpg

Fatwa Ramadhan : Sakit TBC Sehingga Tidak Mampu Puasa

Hukum Orang Sakit TBC yang Tidak Mampu Berpuasa Pertanyaan pertama dari fatwa nomor 1528 Pertanyaan: ...