Home / Akidah Akhlaq / Ringkasan Fikih Islam : Dakwah Para Nabi dan Rasul

Ringkasan Fikih Islam : Dakwah Para Nabi dan Rasul

Dakwah Para Nabi dan Rasul

Setelah para Nabi atau Rasul berdakwah kepada manusia, maka di antara manusia ada yang beriman dan ada pula yang tidak beriman:
Mereka yang beriman akan diuji oleh Allah dengan kesenangan dan kesengsaraan serta dimusuhi dan disakiti oleh manusia, sehingga jelas antara yang jujur dengan yang dusta, yang beriman dan yang munafiq.
Dan mereka yang tidak beriman akan diazab dengan sesuatu yang lebih menyakitkan dan dalam masa yang lebih lama. Oleh karenanya, mesti bagi setiap insan baik yang beriman ataupun yang kafir untuk mendapatkan penderitaan, tetapi orang beriman penderitaan di dunia, sebagai balasan yang disegerakan (atas perbuatannya), kemudian dibalas oleh Allah dengan kebaikan di dunia dan akherat. Adapun orang kafir, menemukan kenikmatan yang semu sebagai balasan yang disegerakan (atas perbuatannya) kemudian berubah menjadi penderitaan yang abadi (di akherat)

1. Allah Subhanahu wataala berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ (2) وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (3)

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami Telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya kami Telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. Al-Ankabut: 2-3).

لَا يَغُرَّنَّكَ تَقَلُّبُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي الْبِلَادِ (196) مَتَاعٌ قَلِيلٌ ثُمَّ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمِهَادُ (197)

“Janganlah sekali-kali kamu terperdaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. Itu hanyalah kesenangan sementara, Kemudian tempat tinggal mereka ialah jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya”. (QS. Ali Imron: 196-197)

فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُمْ بِهَا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنْفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ

Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir”.(QS. Al-Taubah: 55).
Para nabi dan rasul serta semua pengikutnya hidup di muka bumi ini dengan mengemban tauhid, keimanan dan amal sholeh bagi umat manusia, mereka menyeru umat manusia kepadanya (tauhid, keimanan dan amal sholeh). Dan sesuatu yang sangat dicintai oleh mereka adalah keimanan kepada Allah dan beramal sholeh, dan sesuatu yang sangat dirindukan oleh mereka adalah melihat Rabbnya, mengharap ridha Nya, merindukan kenikmatan-kenikmatan syurga, istana-istana yang megah di dalamnya. Mereka berjihad, berdakwah, dan bersabar sehingga Allah meridhai mereka dan merekapun ridha kepadan Allah. Dan inilah gambaran dari bimbingan Allah kepada mereka, perjalanan hidup mereka dalam tugas dakwah kepada Allah, supaya ditiru oleh setiap da’i yang menyeru kepada Allah.

Berdakwah kepada tauhid, beriman kepada Allah, mengenal nama-nama Nya dan sifat-sifat Nya, serta beribadah hanya kepada Allah semata tidak menyekutukan Nya dengan sesuatu apapun.

1. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS. Al-Anbiya’: 25).

2. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)

“Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada Nya segala sesuatu Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (QS. Al-Ikhlas: 1-4).

3. Allah Subhanahu Wataala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu.” (QS. Al-Nahl: 36).
Menyampaikan agama Allah kepada manusia dan menasehati mereka:

1. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ وَكَفَى بِاللَّهِ حَسِيبًا

“(Yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang (pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.” (QS. Al-Ahzab: 39).

2. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالَاتِ رَبِّي وَأَنْصَحُ لَكُمْ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 62).

3. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

“Hai rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika kamu tidak kerjakan (apa yang diperintahkan itu) kamu tidak menyampaikan amanat Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesugguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang kafir”. (QS. Al-Ma’idah: 67).

Berdakwah kepada manusia dengan mendatanginya ke rumah-rumah mereka, ke pasar, ke kampung dan ke kota.
1. Allah Subhanahu Wata’ala berfirman kepada Musa:

اذْهَبْ أَنْتَ وَأَخُوكَ بِآَيَاتِي وَلَا تَنِيَا فِي ذِكْرِي (42) اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى (43) فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى (44)

“Pergilah kamu bersama saudaramu dengan membawa ayat-ayat Ku, dan janganlah kamu berdua lalai dalam mengingat Ku;(42) pergilah kamu berdua kepada fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas;(43) maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.(44)”. (QS. Thaha: 42-44).

2. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi orang-orang, bertamu ke rumah-rumah mereka, menyeru mereka kepada Allah, menyerahkan dirinya kepada setiap kabilah dari suatu kaum.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قُوْلُوْا لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ تُفْلِحُوْا

“Wahai manusia katakanlah laa ilaaha illallah niscaya kalian akan selamat”. HR. Imam Ahmad bin Hambal.

3. Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjenguk Sa’ad bin Ubadah radhiyallahu ‘anhu.

حَتَّى مَرَّ بِمَجْلِسٍ فِيْهِ أَخْلاَطٌ مِنْ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُشْرِكِيْنَ عَبَدَةِ اْلأَوْثَانِ وَالْيَهُوْدَ … فَسَلَّمَ عَلَيْهِمُ النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ وَقَفَ فَنَزَلَ فَدَعَاهُمْ إِلىَ اللهِ وَقَرَأَ عَلَيْهِمُ الْقُرْآنَ … )

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melewati sebuah majlis yang terdiri dari campuran kaum muslimin, musyrikin, penyembah berhala dan Yahudi…maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan salam kepada mereka, kemudian beliau berhenti dan turun dari kendaraannya lalu menyeru mereka kepada (mengikuti agama) Allah dan membaca Al-Qur’an kepada mereka…”. (Muttafaq alaihi).

Selalu memuji kepada Allah, berdzikir dan meminta ampun kepada Nya pada setiap keadaan.

1. Allah Shallallahu ‘alaihi wasallam berfirman tentang Ibrahim:

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (QS. Ibrahim: 39).

2. Aisyah (semoga Allah meridhai-Nya) berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللهَ عَلىَ كُلِّ أَحْيَانِهِ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam senantiasa berzikir kepada Allah pada setiap keadaannya”. (HR. Muslim).

3. Al-Agrri Al-Muzani radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلىَ قَلْبِي وَإِنِّي َلأَسْتَغْفِرُ اللهَ فِي اْليَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ

“Sesungguhnya ada kebimbangan di dalam hatiku, dan sesungguhnya aku beristigfar kepada Allah dalam sehari seratus kali”. (HR. Muslim).

Menulis surat bagi para raja orang kafir dan menyeru mereka kepada Allah :

(أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَبَ إِلىَ ِكسْرَى وَإِلَى قَيْصَرَ وَإِلىَ النَّجَاشِيِّ وَإِلَى كُلِّ جَبَّارٍ يَدْعُوْهُمْ إِلىَ اللهِ تَعَالَى وَلَيْسَ بِالنَّجَاشِيِّ الَّذِي صَلىَّ عَلَيْهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada para penguasa baik bergelar kaesar, dan kepada raja Najasy serta kepada penguasa lainnya dan menyeru mereka kepada agama Allah, bukan Al-Najasy yang dishalatkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam “. (HR. Muslim).

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/t3HQb

About klikUK.com

Check Also

Khilafah Islamiyah

10 Hal Penting di Bulan Muharram -4

10 Permasalahan Penting dan Ringkas Seputar Bulan Allah Muharam (4) 7. Hari yang paling afdhal ...