Home / Akidah Akhlaq / Pilar-Pilar Keberhasilan dalam Pendidikan Anak -8

Pilar-Pilar Keberhasilan dalam Pendidikan Anak -8

 

pendidikan-shalat-anak

Nasehat dan Bimbingan

Termasuk pilar utama keberhasilan dalam pendidikan anak yang lain adalah senantiasa memberi nasehat dan arahan terutama kepada perkara-perkara luhur dan akhlak-akhlak yang mulia. Dimulai dengan mengajarkan aqidah agama Islam, kewajiban dan rukun Islam dan berbagai perintah agama. Demikian juga ketika kita mencegah dan memperingatkan mereka; dimulai dengan permasalahan dosa besar dan berbagai larangan syariat. Perkara-perkara tersebut harus mendapat porsi terbesar dari arahan dan nasehat yang diberikan kepada mereka. Setelah itu, ayah dan ibu baru beralih kepada perkara-perkara lainnya yang dengannya keadaan anak-anak mereka bisa baik di kehidupannya di dunia ini berupa permasalahan makanan, pakaian dan selain keduanya.

Diantara wasiat mendalam dan banyak bermanfaat serta tepat dan menyasar adalah apa yang disebutkan Allah dalam kitab-Nya tentang Luqman al-Hakim ketika menasehati anaknya dalam surat Luqman. Wasiat tersebut dimulai dengan tauhid dan yang kedua berupa perintah berbakti kepada kedua orang tua. Setelah itu beliau memengingatkan anaknya agar perhatikan akan pengawasan Allah terhadap makhluk-Nya. Dalam hal ini terdapat isyarat akan pentingnya muraqabatullah (merasa diawasi Allah) dalam setiap amal perbuatannya. Kemudian beliau menganjurkannya agar mendirikan shalat yang merupakan amalan badan paling agung. Dan beliau menutup wasiatnya agar perhatian dengan akhlak-akhlak yang mulia dan perkara-perkara yang luhur. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ (13) وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ (15) يَا بُنَيَّ إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ فَتَكُنْ فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ (16) يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ (17) وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (18) وَاقْصِدْ فِي مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ (19)

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kedhaliman yang besar.’ Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai’.”

Sungguh para Nabi dan orang-orang shalih telah menempuh jalan di atas sebagaimana disebutkan dalam wasiat Luqman. Allah juga meneyebut tentang Nabi-Nya Ibrahim dan Ya’qub ‘alaihimassalam, Dia berfirman:

وَوَصَّى بِهَا إِبْرَاهِيمُ بَنِيهِ وَيَعْقُوبُ يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ الْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنْ بَعْدِي قَالُوا نَعْبُدُ إِلَهَكَ وَإِلَهَ آبَائِكَ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِلَهًا وَاحِدًا وَنَحْنُ لَهُ مُسْلِمُونَ

 “Dan Ibrahim telah mewasiatkan ucapan itu kepada anak-anaknya, demikian pula Ya’qub. (Ibrahim berkata): ‘Hai anak-anakku! Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk agama Islam’. Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya’.”

Allah memuji Nabi-Nya Ismail ‘alaihissalam yang mana beliau senantiasa menyuruh keluarganya agar mendirikan shalat dan membayar zakat. Allah berfirman:

وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ

“Dan ia menyuruh ahlinya untuk bersembahyang dan menunaikan zakat.”

Allah Ta’ala memerintahkan Nabi-Nya Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam agar menjaga shalat fardhu dan agar menyuruh keluarganya juga menjaga dan mendirikan shalat tersebut dengan baik sebagaimana firman-Nya:

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا

“Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya.”

Termasuk perkara yang perlu untuk disampaikan dan dinasehatkan kepada anak-anak adalah: hendaknya ayah menjauhkan dari anak-anaknya perkara yang merusak akhlak dan agamanya seperti mendengarkan musik, barang-barang yang berbahaya dan alat-alat yang diharamkan. Demikian juga hendaknya berhati-hati dari bepergian bersama anak-anaknya ke tempat-tempat yang diharamkan.

Pilar-pilar Keberhasilan dalam Pendidikan Anak (8)

Syaikh Dr. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr

(Sumber : Rakaiz Fii Tarbiyatil Abnaa’, karangan Dr. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dari https://d1.islamhouse.com/data/ar/ih_books/single_010/ar_rakaiz_fi_tarbiyatul_abnaa.pdf).

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/Nri9W

About klikUK.com

Check Also

Memilih teman yg baik

Pilar-pilar Keberhasilan dalam Pendidikan Anak -9

  Teman Shalih Menjaga anak-anak dalam pertemanannya termasuk pilar utama yang wajib diperhatikan dalam pendidikan ...