Home / Akidah Akhlaq / PILAR-PILAR KEBERHASILAN DALAM PENDIDIKAN ANAK -2

PILAR-PILAR KEBERHASILAN DALAM PENDIDIKAN ANAK -2

Pilar-pilar Keberhasilan dalam Pendidikan Anak (2)
Syaikh Dr. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr

Allah Ta’ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”

Ayat tersebut adalah dasar yang agung sebagai dalil wajibnya memelihara anak-anak, mentarbiyah dan memperhatikan keadaan mereka.

Al-Khalifah Ar-Rasyid Ali bin Abi Thalib berkata dalam menjelaskan ayat tersebut:

عَلِّمُوهم، وأدِّبوهم

“Berilah pengajaran kepada mereka dan didiklah adab mereka”

Terdapat hadits shahih dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang menguatkan perintah tersebut dan menjelaskan akan kewajibannya atas para orang tua, dimana beliau bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ؛ الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، أَلا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Setiap dari kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang imam adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Seorang lelaki adalah pemimpin dalam keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Seorang wanita adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Seorang budak adalah pemimpin dalam masalah harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin. Ingatlah bahwa masing-masing dari kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang ia pimpin.”

Perkataan (مَسْئُولٌ) merupakan peringatan akan adanya pertanyaan dari Allah Azza wa Jalla tentang amanat tersebut tatkala ia berdiri di hadapan-Nya pada hari kiamat. Bahkan sebagian ahli ilmu berpendapat: “Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala akan bertanya kepada orang tua (ayah) tentang anaknya pada hari kiamat sebelum anak ditanya tentang ayahnya; hal itu karena ayah memiliki hak atas anaknya demikian juga anak memiliki hak atas ayahnya”.

Ibnu Umar berkata: “Berilah pendidikan adab kepada anakmu karena sugguh engkau akan ditanya; apa adab yang telah engkau didikkan dan apa ilmu yang telah engkau ajarkan kepada anakmu..? Dan sungguh ia nanti akan ditanya tentang bakti dan ketaatannya kepadamu.”

Sebagaimana Allah telah berwasiat kepada para orang tua agar berbuat baik terhadap anak-anak mereka dan bahkan mewajibkan agar berbuat baik terhadap mereka dengan firman-Nya:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا

“Dan Kami telah mewasiatkan manusia agar berbuat baik terhadap kedua orang tuanya.”, maka demikian juga Allah telah mewasiatkan kepada para orang tua agar berbuat baik juga kepada anak-anak mereka dengan mentarbiyah dan menta’dib mereka, sebagaimana firman

Allah Ta’ala:

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ

“Allah mewasiatkan kepada kalian tentang bagimu tentang anak-anakmu.”

Sungguh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberi kabar kepada kita bahwa kedua orang tua memiliki pengaruh yang besar terhadap anak-anak mereka dalam aqidah dan kehidupan beragama mereka, dan tentu saja dalam akhak serta perangai mereka.

Beliau bersabda:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ، أَوْ يُنَصِّرَانِهِ، أَوْ يُمَجِّسَانِهِ كَمَثَلِ الْبَهِيمَةِ تُنْتَجُ الْبَهِيمَةَ ىَلْ تَرَى فِيهَا جَدْعَاء

“Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fithrah. Kedua orang tuanyalah yang menyebabkannya menjadi yahudi atau nasrani ataupun majusi. Sebagaimana hewan ternak melahirkan hewan ternak juga. Apakah engkau melihat cacat padanya?”

Contoh yang sangat sesuai dan bisa dirasakan karena kebiasaan yang bisa disaksikan adalah bahwa hewan ternak melahirkan anaknya dengan kondisi selamat tanpa cacat. Tidak terdapat sedikitpun bagian tubuhnya yang terpotong pada tangan, telinga atau kakinya, tetapi itu (cacat pada hewan) didapat dari hewan lainnya atau pengembalanya yang lalai atau karena perbuatan hewan tersebut secara langsung.

Seperti itulah anak, ia dilahirkan dalam kondisi fithrah. Apabila ia belajar dusta, curang, pengrusakan, penyelewengan ataupun kemungkaran lainnya maka itu semua adalah ajakan-ajakan dari luar fithrahnya. Hal itu disebabkan karena pendidikan yang buruk atau lalai dalam mendidiknya ataupun pengaruh luar dari teman-teman yang buruk dan kenalan-kenalan lainnya.

bersambung….

Artikel bag. 1 : PILAR-PILAR KEBERHASILAN DALAM PENDIDIKAN ANAK -1

Artikel bag. 3 : PILAR-PILAR KEBERHASILAN DALAM PENDIDIKAN ANAK -3

(Sumber : Rakaiz Fii Tarbiyatil Abnaa’, karangan Dr. Abdurrazaq bin Abdul Muhsin Al-Badr dari https://d1.islamhouse.com/data/ar/ih_books/single_010/ar_rakaiz_fi_tarbiyatul_abnaa.pdf).

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/1I26G

About klikUK.com

Check Also

Memilih teman yg baik

Pilar-pilar Keberhasilan dalam Pendidikan Anak -9

  Teman Shalih Menjaga anak-anak dalam pertemanannya termasuk pilar utama yang wajib diperhatikan dalam pendidikan ...