Perbedaan Madzhab dan Pendapat, Bagaimana Menyikapinya ?

cross-road-sign-4Assalamu’alaikum

Ustadz mau nanya:

Mengapa orang-orang awam itu menganggap perbedaan madzhab sebagai satu kesesatan, padahal semua madzhab itu sama saja dan bagaimana cara mengatasinya?

Syukran Ustadz

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi wabarakatuh.

Jawab :

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wa barakatuh

Mengenai sikap terhadap perbedaan madzhab memang perlu dijelaskan karena adanya kesalahan dalam bersikap dan menyikapi perbedaan pendapat yang banyak terjadi di masyarakat akibat ketidak tahuan tentang madzhab itu sendiri. Madzhab dalam istilah ulama adalah kumpulan pandangan dan teori ilmiyah serta filsafat yang satu sama lainnya saling berkaitan sehingga menjadi satu kesatuan yang erat (lihat al-Madkhol ilaa diraasatil Madzahib wa dirasatil fiqhiyah, Dr Umar Sulaiman al-Asyqar hal. 48).

Dengan demikian madzhab bisa disematkan kepada bidang keilmuan yang ada. Namun yang banyak disebutkan istilah madzhab adalah dalam bidang fikih. Mudah-mudahan yang ditanyakan penanya adalah madzhab fikih ini.

Madzhab fikih adalah metode yang ditempuh oleh seorang ahli fikih yang memiliki derajat mujtahid, di mana dia memiliki ciri khas tersendiri di kalangan ahli fikih dalam menentukan sejumlah hukum-hukum dalam bidah furu’ (cabang agama). Sehingga ruang lingkup madzhab fikih hanya berkisar pada hukum-hukum praktis, tidak masuk pada ruang lingkup aqidah. Demikian juga yang berkaitan dengan hukum, tidak semua hukum dapat dikategorikan dalam istilah madzhab. Hukum-hukum yang dalilnya bersifat qath’i (tegas dan jelas) baik dari status dalilnya atau petunjuk pemahamannya- seperti masalah kewajiban sholat atau haji tidak dapat dimasukkan dalam pembahasan ini.

Akan semakin bijak dalam menyikapi madzhab ini, bila kita mengetahui proses kemunculannya. Memang tidak bisa dipungkiri madzhab dalam fikih adalah sebuah realita sejarah yang tidak mungkin diingkari, karena pengaruhnya sangat terasa hingga sekarang. Sebenarnya madzhab itu lahir dari pergulatan yang intens seorang ulama mujtahid yang selalu berinteraksi dengan sumber-sumber hukum Islam. Dari mulai mengkajinya, lalu berfatwa dengannya dan mengajarkannya hingga membukukannya. Bahkan menghasilkan kaedah-kaedah fikih sendiri disamping adanya kaedah-kaedah baku yang disepakati semua ahli fikih.

Dari sini lahirlah pengikut dan para murid yang berguru langsung dalam mengkaji sebuah disiplin ilmu. Kemudian pengaruh sang guru yang mujtahid ini tentulah sangat besar dalam membentuk kepribadian dan keilmuan seorang murid. Sehingga terkadang sang murid yang sudah memiliki ilmu akan mengajarkan semua yang pernah didapatkan dari sang guru bahkan kadang tidak keluar dari semua pendapat sang guru tersebut. Bahkan sampai-sampai sang murid akan bereaksi apabila mendapatkan pendapat lain yang menyelisihi pendapat sang guru dengan memberikan argumentasi dan bantahan untuk membuktikan bahwa pendapatnya adalah pendapat yang sudah diuji dalam sebuah adu argumentasi.

Dalam taraf seperti ini masih wajar, apalagi generasi awal dari para pengikut imam ini masih orisinil mengikuti imam madzhabnya berdasarkan pengetahuan sumber dan dalil yang mereka ketahui. Madzhab-madzhab yang berkembang dan populer dewasa ini sebenarnya bukanlah dibuat oleh para imam tersebut, namun hasil dari jerih payah para pengikut yang mengumpulkan dan mengkodefikasi hasil ijtihad para imam dengan ditambahi dengan pendapat-pendapat para pengikut tersebut dikemudian harinya. Sehingga madzhab Syafi’i bukan hanya berisi fatwa dan pendapat imam Syafi’i saja.

Dengan demikian jelaslah tidak benarnya berpedoman hanya dengan satu madzhab saja tanpa melihat madzhab lain dan dalil-dalil pendapat mereka. Sebab para imam madzhab sendiri menjadikan dalil al-Qur`an dan sunnah sebagai dasar hukumnya. Mereka merubah fatwa mereka apabila menyelisihi sumber hukum tersebut dan melarang sikap fanatis buta terhadapa madzhabnya.

Munculnya madzhab-madzhab ini menimbulkan perselisihan pendapat tentang kesimpulan hukum atau pendapat atau dinamakan dan istilah masalah khilafiyah. Lalu bagaimana menyikapinya?

Di tengah masyarakat ada dua pikiran negatif terhadap masalah khilafiyah ini, pertama menolak mentah-mentah adanya perbedaan pendapat. Menurut mereka, selama Islam hanya satu dan rujukannya sama maka kesimpulan hukumnya pun tidak boleh berbeda-beda agar umat tidak berpecah belah. Pendapat ini tidak benar karena perbedaan pendapat adalah hal yang tidak dapat ditolak dalam Islam. Juga merupakan konsekwensi logis dari adanya beberapa teks nash syariat yang dapat mengandung beberapa pengertian ditambah dengan adanya perbedaan kemampuan manusia dalam menganalisa dalil-dalil tersebut.

Pendapat kedua menjadikan kebolehan berbeda pendapat berlaku pada semua masalah dalam ajaran Islam. Sikap ini juga salah, karena dalam Islam ada masalah-masalah yang memang ada zone ijtihad yang akhirnya menimbulkan perbedaan pendapat di antara mujtahidin dan ada masalah yang sudah tegas dan jelas dasarnya yang tidak ada disana zone ijtihad, seperti hukum-hukum rukun Islam dan sejenisnya.

Untuk itu perlu diperhatikan dua asas yang menjadikan perbedaan pendapat dibenarkan:

  1. Perbedaan tersebut lahir dari pemahaman terhadap dalil dzanni yang dapat menyebabkan perbedaan penafsiran
  2. Perbedaan tersebut terjadi di kalangan ulama atau mujtahiddan dalam masalah yang dibenarkan berselisih padanya.

Dengan demikian, tidak semua masalah agama dibenarkan adanya perbedaan pendapat. Ada perbedaan pendapat yang dibenarkan dan ditoleransi dan ada yang tidak dapat ditoleransi.

Sehingga bisa jadi pendapat yang menyelisihi kebenaran dapat dikategorikan sudah menyimpang dan kadang belum sampai dikatakan menyimpang.

Dari sini jelaslah bahwa pendapat saudara tidak tepat dengan menyamakan semua madzhab adalah satu dan tidak boleh ada yang dihukumi menyimpang.

Nah cara mengatasinya adalah mengajak semua yang berbeda pendapat untuk merujuk kepada al-Qur`an dan as-Sunnah dengan melihat kembali pemahamana para sahabat dan para salaf ash-Shaalih dari umat ini. Hal ini dijelaskan Allah dalam firmanNya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.Kkemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS an-Nisaa’: 59).

Demikian juga dijelaskan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Irbaadh bin Saariyah yang berbunyi:

عَلَيْكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا  حَبَشِيًّا، وَسَتَرَوْنَ مِنْ بَعْدِي اخْتِلَافًا شَدِيدًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَالْأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Wajib atas kalian bertakwa kepada Allah dan taat dan patuh kepada pemimpin walaupun budak habasyi. Kalian akan melihat setelahku perselisihan yang banyak, maka wajib bagi kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnahnya para khulafa’ rasyidin mahdiyin ( berilmu dan beramal dengan ilmunya), gigitlah dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah terhadap perkara baru karena setiap bidah adalah sesat. (HR Ibnu Majah).

Dengan tetap memperhatikan pendapat-pendapat yang ada pada madzhhab tersebut dengan tentunya memperhatikan hal-hal berikut:

  1. Selain para nabi dan  rasul tidak ada manusia yang ma’shum bebas dari kesalahan.
  2. Menghormati para ulama tidak mesti harus menerima setiap yang mereka lontarkan. Sebagaimana juga sebaliknya tidak menerima pendapat mereka tidak berarti merendahkan martabat mereka.
  3. Kekeliruan para ulama dalam berijtihad tidak identik dengan dosa. Karena ijtihad mereka bisa benar dan bisa salah. Dalam dua keadaan tersebut mereka mendapatkan pahala dari Allah.
  4. Tidak setuju dengan pendapat salah seorang ulama hendaknya dilandasi dengan dalil-dalil yang ada, bukan sekedar keterikatannya dengan madzhab tertentu.
  5. Tidak setuju terhadap pendapat seorang ulama tidak berarti boleh mencela dan merendahkan martabatnya.
  6. Tidak dibenarkan mencari-cari atau mengumpulkan kesalahan atau kekhilafan para ulama sebagai bahan untuk menjatuhkan martabatnya.

Demikian beberapa keterangan tentang madzhab yang saudara tanyakan semoga bermanfaat.

wallahu a’lam.