Home / Brankas / Mensucikan Bejana Terkena Liur Anjing

Mensucikan Bejana Terkena Liur Anjing

Dog takes a dump at the No Dog signSyarah Hadits Bulughul Maram, Hadits Ke 12 :

Mensucikan Bejana Terkena Liur Anjing

. ?????? ?????? ?????????? ?????? ???? ?????? ?????: ????? ???????? ???? ?????? Dion Jordan Jersey ???? ???????? ????????: ??????? ??????? ?????????? ????? ?????? ?????? ????????? ???? ?????????? ?????? ????????? ???????????? ????????????.

????????? ????????. ?????? ????? ????: “????????????” ?????????????????: “????????????? ???? ???????????? ????????????.”

12.    Dari Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda: “Sucinya bejana kamu yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.”

Diriwayatkan oleh Muslim. Dan dalam suatu lafazhnya: “Hendaklah ia membuang air yang di bejana tersebut.” Dan dalam riwayat Tirmidziy dengan lafazh: “Salah satu bilasannya dengan tanah atau yang pertamanya.”

1. Takhrijul Hadits :

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim ( 1/162), Abu Dawud (no.71), Tirmidziy (no.91), Nasaa-i(1/178), Ahmad (no.2/265,427,489,508) dan lain-lain banyak sekali yang salah satu lafazhnya seperti di atas . Dalam lafazh Tirmidziy :

???????????? ???? ???????????? ????????????

Patrick Kerney Jersey Yang pertama atau salah satunya dicampur dengan tanah “

 Kemudian Abu Dawud –di dalam salah satu riwayatnya– (no.72), Tirmidziy (no.91), Thahawi dikitabnya Syarah Ma’aa-nil Atsar (1/19-20), Daruquthni (1/64,67,68) dan Baihaqiy (1/247-248) memberikan tambahan .

…??????? ???????? ?????? ?????????? ?????? ???????

“… Dan apabila air di dalam bejana tersebut dijilat oleh kucing dicuci satu kali “

Tambahan ini telah di-Shahih-kan oleh Tirmidziy, Thahawi, Daruquthni Syaikh Ahmad Syakir dan Syaikh Albani.

Kemudian, hadits di atas tanpa tambahan “yang pertama dicampur dengan tanah.” Telah diriwayatkan juga oleh Imam Malik, Bukhari, Muslim, Nasaa-i, Ibnu Majah dan Ahmad dan lain-lain banyak sekali dengan lafazh:

????? ?????? ????????? ???? ??????? ?????????? ?????????????? ???????.

“Apabila anjing meminum (air) di bejana salah seorang dari kamu, maka hendaklah ia mencucinya sebanyak Brad Wing Kids Jersey tujuh kali.”

Imam muslim (no. 89) juga meriwayatkan dari jalur Ali bin Mushir dari al-A’masy dari Abu Razien dan Abu Shalih dari Abu Hurairoh secara marfu’ dengan lafazh :

 «????? ?????? ????????? ???? ??????? ?????????? ????????????? ????? ???????????? ?????? ????????»

“Apabila anjing meminum (air) di bejana salah seorang dari kamu, maka hendaklah ia menumpahkannya kemudian mencucinya sebanyak tujuh kali.”

Lafazh dengan jalur periwayatan inipun dikeluarkan imam an-Nasaa’i (1/53). Sebagian ahli hadits melemahkan lafazh  (????????????)karena Ali bin Mushir bersendirian meriwayatkannya dari al-A’masy. Padahal hadits ini diriwayatkan oleh 9 orang murid al-A’masy dan semuanya tidak menyebutkan tambahan lafazh tersebut. Diantara mereka adalah Syu’bah Marquise Goodwin Jersey dan Abu Mu’awiyah yang keduanya termasuk murid dekat al-A’masy. Juga hadits ini diriwayatkan dari Abu Hurairoh oleh sepuluh orang selain al-A’masy dan tidak ada diriwayatkan lafazh ini. (lihat ath-thahuur hlm 270).

Nampaknya al-Hafizh ibnu Hajar mencukupkan dengan riwayat muslim saja karena lebih sempurna dari riwayat al-Bukhori yang tidak menyebutkan padanya penggunaan debu. Padahal hadits ini asalnya shahihain dengan lafazh : «????? ?????? ????????? ???? ??????? ?????????? ?????????????? ?????? ????????»lalu imam Muslim menambahkan lafazh : «???????????? ????????????»

Hadits ini didukung oleh hadits Abdullah bin Mughaffal bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

«????? ?????? ????????? ???? ????????? ????????????? ?????? ????????? ????????????? ???????????? ????????????» ????? ????

Apabila Anjing menjilati bejana maka cucilah bejana tersebut tujuh kali dan taburilah yang kedelapan dengan debu. (HR Muslim no. 93).

Sedangkan at-Tirmidzi (no. 91) meriwayatkan dari jalan periwayatan Ayyub dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu secara marfu’ dengan lafazh:

«???????? ?????????? ????? ?????? ?????? ????????? ?????? ????????? ???????????? ???? ???????????? ????????????? ??????? ???????? ?????? ?????????? ?????? ???????» ? ???? ???????: (???? ??? ????).

Bejana dicuci bila dijilati anjing tujuh kali, yang pertama atau terakhir dengan debu. Apabila kucing yang menjilatinya maka dicuci sekali. Imam at-Tirmidzi menyatakan: Hadits ini hasan shahih.

2. Kosa kata Hadits

(???????? ??????? ??????????)dengan didhommahkan huruf tha’nya bermakna pensucian bejana salah seorang dari kalian.

(????? ?????? ?????? ?????????) : apabila anjing menjilatinya. Kata (?????? ????? ????? ?????? ???????) artinya apabila minum atau memasukkan ujung lidahnya dan menggerakkannya. Sedang kan (??)   pada kata (?????????) bermakna istighraqiyah sehingga mencakup segala jenis anjing baik yang diizinkan pemilikannya seperti anjing pemburu, anjing penjaga ternak dan kebun maupun yang tidak diizinkan.

(?????? ????????)   pada asalnya bermakna Hendaknya mencucunya tujuh kali cucian

(???????????? ????????????): pertama dengan menggunakan debu.  

3. Pengertian umum hadits.

Syariat Islam berasal dari Allah Ta’ala yang maha bijaksana lagi maha mengetahui akibat yang ditimbulkan dari sebagian makhlukNya berupa madharat dan mengetahui cara menanggulangi dan mencegahnya serta menghilangkan bahaya tersebut. Diantara makhlukNya tersebut adalah anjing yang telah ditetapkan secara medis bahwa liurnya mengandung mikroba dan kotoran yang tidak hilang dan tercegah bahayanya kecuali dengan pensuciannya sesuai dengan anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam hadits ini Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menjelaskan anjuran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita semua untuk mencuci semua bejana yang terkena liur anjing sebanyak tujuh kali dengan air dan tanah agar hilang semua mikronba dan kotoran tersebut. (lihat Tambih al-Afhaam 1/21). 

4. Fiqih Hadits:

  1. Najisnya air liur anjing berdasarkan ketegasan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Sucinya bejana salah seorang dari kamu apabila dijilat anjing…” Adapun selain air liurnya seperti badannya atau bulunya tidak najis, karena hadits di atas tidak menunjukkan najisnya anjing secara mutlak, kecuali air liurnya, sedang menurut Jordy Nelson Kids Jersey kaedah yang disepakati bahwa asal segala sesuatu itu suci sampai datang dalil yang shahih dan tegas yang menyatakannya najis, kalau tidak ada dalil, maka kembali kepada hukum asalnya yaitu suci. Inilah mazhab yang dipilih oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dari perselisihan para ulama (majmu’ah Fatawa Ibnu Taimiyyah Al Kubro 1/37-38 masalah ke 16)  

Adapun mazhab yang mengatakan bahwa air liur anjing suci tidak najis adalah mazhab yang batil:

Pertama: Bahwa nash telah datang menegaskan bahwa air liur anjing itu najis. Maka menurut kaedah yang telah disepakati: “Apabila nash telah datang, maka batal lah segala pendapat” Mereka yang mengatakan bahwa air liur anjing itu tidak najis secara terang-terangan telah melawan nash dengan pendapatnya, maka batal lah pendapatnya! Karena dalil menegaskan: “Sucinya bejana kamu yang dijilat oleh anjing dicuci sebanyak tujuh kali dan yang pertama dicampur Anthony Chickillo Kids Jersey dengan tanah” lafazh “suci” merupakan lawan bagi “najis”!

Kedua: sebagian dari mereka berdalil tentang sucinya air liur anjing dengan anjing yang dipakai untuk berburu yang menangkap binatang buruannya yang tentu saja tidak selamat dari gigitan dan air liurnya. Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengatakan najisnya dan memerintahkan mencucinya, padahal air liur anjing buruan itu telah mengenai binatang buruannya, bukankah ini menjelaskan kepada kita bahwa air liur anjing itu tidak najis?

Saya jawab: Telah berkata syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah: “Sesungguhnya air liur anjing apabila mengenai binatang buruan tidak wajib mencucinya, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah memerintahkan seseorang pun juga untuk mencucinya. Sesungguhnya beliau telah memaafkan dari air liur anjing pada tempat yang dibutuhkan dan memerintahkan untuk mencucinya pada tempat yang tidak dibutuhkan. Yang menunjukkan bahwa pembuat syari’at tetap memelihara kemaslahatan makhluk dan kebutuhan mereka.” (Majmu’ah fatawa Ibnu Taimiyyah Al Kubro 1/39, masalah ke 16 dengan ringkas).

  1. Kewajiban mencuci bejana yang dijilat oleh anjing sebanyak tujuh kali dan yang pertama dicampur dengan tanah.  Hal ini karena kenajisan anjing adalah terberatair liurnya, dan semua yang keluar dari badannya berupa kencing atau keringat atau lainnya adalah najis. Tanah tidak bisa tanah diganti dengan sabun atau yang sepertinya karena ini sifatnya ta’abbudiyah (perbadatan) dan perintah menggunakan tanah walaupun ada kemungkinan lebih bersih namun tidak bisa dipastikan kepastian pengertian tersebut.
  2. Jumlah cucian ini khusus untuk najis anjing dan tidak dianalogikan kepada selainnya, seperti babi; bab ibadah pada asalnya adalah masalah tauqifiyah yang tidak bisa diketahui dengan akal dan analogi (Qiyaas). Tidak ada nash yang menjelaskan berbilangnya pencucian kecuali pada anjing. Demikian juga babi sudah disebutkan dalam al-Qur`an dan sudah ada dizaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam namun tidak juga ada keterangan jelas disamakan dengan Eli Rogers Womens Jersey anjing, sehingga kenajisannya seperti kenajisan barang lainnya.  Najis-najis selain anjing hanya diwajibkan sekali cuci yang bisa menghilangkan dzat najis dan bekasnya. Apabila tidak bisa hilang dalam sekali cuci maka ditambah hingga hilang bekas-bekasnya, walaupun melebihi tujuh kali, baik itu di tanah, pakaian, kasur ataupun bejana. Ini adalah pendapat mayoritas ulama, berdasarkan sabda Rasulullah :

«????? ??????? ???????????? ??????? ???? ??????????? ??????????????? ????? ??????????? ??????? ????? ?????? ???»

Apabila darah haidh menegani pakaian salah seorang dari kalian, maka hendaklah menggosoknya, kemudian membilasnya dengan air kemudian sholatlah menggunakannya. (HR al-bukhori no. 277 dan Muslim no. 291). Beliau tidak memerintahkan untuk mencucinya dengan bilangan tertentu, seandainya harus dengan bilangan tertentu, tentulah beliau akan jelaskan seperti yang ada dalam hadits kita ini. Demikian juga maksudnya adalah menghilangkan najis, maka ketika telah hilang najisnya hilang juga hukumnya.

  1. Kewajiban membuang air di Mike Mitchell Youth Jersey dalam bejana yang dijilat oleh anjing.
  2. Lafazh “walagho” menunjukkan bahwa jilatan anjing yang wajib dicuci sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah hanya terbatas pada benda cair, adapun kalau yang dijilat itu bukan benda cair seperti badan atau pakaian maka dicuci saja sampai bersih karena najisnya.
  3. Disukai mencuci bejana yang dijilat oleh kucing satu kali, karena pada hakekatnya air liur kucing itu tidak najis, sebagaimana dijelaskan oleh hadits selanjutnya.
  4. Hadits ini menunjukkan kenajisan anjing, karena sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: «???????? ??????? ??????????»  , kata thuhur tidak disampaikan kecuali dari hadats atau najis dan tidak mungkin terjadi hadats pada bejana, sehingga hanya tersisa najis saja. Demikian juga karena beliau perintahkan untuk membuang isi bejana. Apabila semua ini Maurkice Pouncey Youth Jersey berkenaan dengan mulut anjing yang merupakan anggota yang terbaik padanya karena banyaknya menjulurkan lidahnya, maka anggota tubuh lainnya lebih najis lagi. Imam Ibnu Daqieq al-‘Ied membantah pendapat yang memahami hadits-hadits ini karena Maliek Collins Womens Jersey Ta’abbud, beliau berkata:

(.. ?????? ??? ??????? ????? ???? ??? ??? ????? ??? ???? ??????? ???? ???? ????? ??????? ??? ???? ??? ???? ????? ?????? ????? ????? ?????? ??????? ??? ??????? ???????? ??????)

Memahami hadits karena najisnya lebih pas; karena dimana ada hukum berkisar antara keadaannya bersifat ta’abbud (tidak memiliki illah) dengan keadaannya bersifat dapat difahami adanya illah, maka membawanya kepada yang dapat difahami illahnya lebih pas. Hal ini karena sedikitnya hukum bersifat ta’abbud (tanpa illah) dibandingkan hukum-hukum yang memiliki illah. (Syarhu al-‘Umdah 1/145).

  1. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya menyebut kata “al-Wuluugh (menjilati)” karena itu adalah keumumannya. Anjing tidak mengeluarkan kencing dan kotorannya  di bejana. Semua yang ada karena keumuman adanya maka tidak ada mafhum disana. Sehingga najisnya anjing itu umum pada semua badannya dan yang terkena dengannya diberlakukan sama. Inilah pendapat mayoritas ulama. Sedangkan Zhahiriyah berpendapat bahwa mencuci tujuh kali khusus pada najis air liur saja. Adapun kencing, kotoran, darah atau keringatnya sama seperti najis-najis lainnya.

Imam an-Nawawi menyatakan: Ini cukup pas dan kuat dari sisi dalil (al-majmu’ 2/586). Beliau juga menyampaikan dalam kitab Raudhath Thalibin 1/32 pendapat ini adalah sisi syadz (tidak diakui) dalam madzhab Syafi’i.

Pendapat zhahiriyah ini dirojihkan imam Muhammad bin Ali asy-Syaukani rahimahullah dalam as-Sail al-jaraar 1/37.

Ulama yang merojihkan pendapat zhahiriyah menyatakan bahwa sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam «????? ?????? ???? ????? ??????..» menunjukkan hukum tersebut tidak melebihi menjilati dan minum; karena mafhum asy-Syarat adalah hujjah menurut kebanyakan ulama. Pengertiannya bahwa hukum tidak demikian ketika tidak ada syarat tersebut.

Imam al-Iraqi rahimahullah menjawab hal ini dengan menyatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam membatasi dengan kata “menjilat” hanya karena keumumannya (Kharaja makhrajal ghalib), bukan sebagai syarat;  karena anjing hanya menginginkan bejana umumnya untuk minum atau makan, bukan untuk meletakkan kaki dan tangannya pada bejana tersebut. Sehingga pembatasan dengan kata “menjilat” karena umunya keadaan anjing pada bejana. (Tharhu at-tatsrieb 2/122)

Pendapat mayoritas ulama adalah yang rajih dalam masalah ini.

  1. Hadits ini nash dalam kewajiban mensucikannya dengan tanah (debu) bersama dengan air karena jeleknya najis anjing. Inilah pendapat Syafi’iyah dan hanabilah (syarhu Muslim 3/189, Nihayatulmuhtaaj 1/236 dan al-Inshaaf 1/310). Tidak ada bedanya antara mencampurkan air dengan tanah hingga bercampur baru digunakan atau air disiramkan ke tanah yang sudah digunakan untuk mencuci.
  2. Hadits ini menunjukkan kewajiban menumpahkan isi bejana berupa air atau susu atau selainnya. Hal ini menunjukkan kenajisan air liur anjing dan air liurnya memiliki pengaruh pada air. Itu karena umumnya bejana berukuran kecil dan airnya sedikit. Seandainya isi bejana tersebut suci tentulah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan untuk menumpahkannya.

 ***

Bersambung… artikel lanjutannya : Masail yang bisa diambil dari hadits ini dan Download artikel versi PDF di artikel selanjutnya

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/EyU5y

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

kurma

Puasa Tanggal 9 dan 10 Muharram Lebih Utama

Puasa tanggal 9 dan 10 Lebih Utama daripada tanggal 10 dan 11 Muharam Pertanyaan: Apa ...