Home / Brankas / Menjama’ Shalat Jum’at dengan Ashar

Menjama’ Shalat Jum’at dengan Ashar

salat jamaPertanyaan :

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Ustadz, apakah shalat jum’at bisa dijama’ dengan shalat ashar jika pada saat perjalanan? Dulu ana lupa, malah niatnya jama’ shalat dzuhur dengan ashar. Syukron

(081910788***)

Jawab :

Waalaikum salam warohmatullahi wa barakatuh

Perlu diketahui pengertian menjama’ shalat adalah mengabungkan antara dua shalat (Dhuhur dan Ashar atau Maghrib dan ‘Isya’) dan dikerjakan dalam waktu salah satunya. Boleh seseorang melakukan jama’ taqdim dan jama’ ta’khir.[1]

Jama’ taqdim adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat pertama, yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Dhuhur, Maghrib dan ‘Isya’ dikerjakan dalam waktu Maghrib. Jama’ taqdim harus dilakukan secara berurutan sebagaimana urutan shalat dan tidak boleh terbalik.

Adapun jama’ ta’khir adalah menggabungkan dua shalat dan dikerjakan dalam waktu shalat kedua, yaitu; Dhuhur dan Ashar dikerjakan dalam waktu Ashar, Maghrib dan ‘Isya’dikerjakan dalam waktu Isya’. Jama’ ta’khir boleh dilakukan secara berurutan dan boleh pula tidak berurutan akan tetapi yang afdhal adalah dilakukan secara berurutan sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullooh shallallahu ‘alaihi wasallam.[2]

Menjama’ shalat boleh dilakukan oleh siapa saja yang memerlukannya -baik musafir atau bukan- dan tidak boleh dilakukan terus menerus tanpa udzur, jadi dilakukan ketika diperlukan saja.[3]

Termasuk udzur yang membolehkan seseorang untuk menjama’ shalatnya dalah musafir ketika masih dalan perjalanan dan belum sampai di tempat tujuan,[4] turunnya hujan,[5] dan orang sakit.[6]

Berkata Imam Nawawi rahimahullah: “Sebagian imam (ulama) berpendapat bahwa seorang yang mukim boleh menjama’ shalatnya apabila diperlukan asalkan tidak dijadikan sebagai kebiasaan.”[7]

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, bahwasanya Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam menjama’ antara dhuhur dengan ashar dan antara maghrib dengan isya’ di Madinah tanpa sebab takut dan safar (dalam riwayat lain: Tanpa sebab takut dan hujan). Ketika ditanyakan hal itu kepada Ibnu Abbas beliau menjawab: Bahwa Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam tidak ingin memberatkan ummatnya.[8]

Lalu bagaimana bila hari jum’at ?
Banyak ulama yang tidak memperbolehkan menjama’ (menggabung) antara shalat Jum’at dan shalat Ashar dengan alasan apapun baik musafir, orang sakit, turun hujan atau ada keperluan dll-, walaupun dia adalah orang yang di perbolehkan menjama’ antara Dhuhur dan Ashar.

Mereka berargumen dengan sebab tidak adanya dalil tentang menjama’ antara Jum’at dan Ashar, dan yang ada adalah menjama’ antara Dhuhur dan Ashar dan antara Maghrib dan Isya’. Jum’at tidak bisa diqiyaskan dengan Dhuhur karena sangat banyak perbedaan antara keduanya. Ibadah harus dengan dasar dan dalil, apabila ada yang mengatakan boleh maka silahkan dia menyebutkan dasar dan dalilnya dan dia tidak akan mendapatkannya karena tidak ada satu dalilpun dalam hal ini.

Rasululloh shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada perintah kami (tidak ada ajarannya) maka amalannya tertolak.[9]

Jadi kembali kepada hukum asal, yaitu wajib mendirikan shalat pada waktunya masing-masing kecuali apabila ada dalil yang membolehkan untuk menjama’ (menggabungnya) dengan shalat lain.[10]

Demikianlah yang dirojihkan syeikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam masalah ini.
Wallahu a’lam.



[1] Lihat Fiqhus Sunnah 1/313-317.

[2] Lihat Fatawa Muhimmah, Syaikh Bin Baz 93-94, Kitab As-Shalah, Prof.Dr. Abdullah Ath-Thayyar 177.

[3] Lihat Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/308-310 dan Fiqhus Sunnah 1/316-317.

[4] HR. Bukhari dan Muslim.

[5] HR. Muslim, Inbu Majah dll.

[6] Taudhihul Ahkam, Al-Bassam 2/310, Al-Wajiz, Abdul Adhim bin Badawi Al-Khalafi 139-141, Fiqhus Sunnah 1/313-317.

[7] Lihat syarh Muslim, imam Nawawi 5/219 dan Al-Wajiz fi Fiqhis Sunnah wal Kitabil Aziz 141.

[8] HR. Muslim dll. Lihat Sahihul Jami’ 1070.

[9] HR. Muslim.

[10] Lihat Majmu’ Fatawa Syaikh Utsaimin 15/ 369-378.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/Ky0G3

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

lian

Apakah Keluar Madzi Membatalkan Puasa ?

Apakah Keluar Madzi Membatalkan Puasa ? Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin pernah ditanya, “Ketika ...