Home / Akidah Akhlaq / Menikah di bulan Suro..? Oke

Menikah di bulan Suro..? Oke

Mitos Tidak Baik Menikah Pada Bulan Muharam (2)

Keempat: Apabila ada yang berdalih bahwa larangan menikah dan meminang tersebut karena bulan muharam merupakan bulan syahidnya Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian orang-orang rafidhah. Maka jawabannya adalah tidak diragukan lagi bahwa hari syahidnya Husain radhiyallahu ‘anhu merupakan hari yang sangat menyedihkan dalam sejarah Islam. Akan tetapi tidak mengharuskan berfatwa akan haramnya menikah atau meminang pada bulan tersebut.

Bukan syariat agama kita mengulangi kesedihan dalam peringatan tahunan dan terus menerus berkabung sampai melarang menampakkan kebahagiaan. Apabila tidak demikian, maka kita berhak bertanya kepada orang yang mengatakan hal tersebut: bukankah hari meniggalnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan musibah paling besar yang menimpa umat Islam! Mengapa tidak diharamkan juga menikah pada bulan meninggalnya beliau yaitu pada bulan Rabi’ul awal..?! Mengapa tidak ada nukilan pengharaman atau pemakruhannya dari salah seorang sahabat atau ahlu bait Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam serta para ulama’ setelah mereka!!

Demikianlah sekiranya kita dibolehkan memperbaharui kesedihan pada setiap hari terbunuhnya atau syahidnya atau meninggalnya salah seorang dari pemimpin besar umat Islam dari kalangan ahlu bait Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam atau selain mereka, maka akan sempitlah hari dan bulan dari hari kebahagian dan kesenangan. Manusia akan ditimpa masalah dan kesulitan yang tidak akan mampu menanggungnya.

Tidak diragukan lagi bahwa mendatangkan perkara yang baru dalam agama Islam merupakan awal mula yang mendorong para pendukungnya untuk menentang syariat Islam dan menanyakan kesempurnaannya yang telah diridhai oleh Allah untuk para hamba-Nya.
Sebagian ahli sejarah menyebutkan bahwa orang pertama yang mengatakan pendapat ini bahkan yang pertama membuat perkara baru ini yaitu memperbaharui kesedihan pada permulaan bulan muharam adalah Syah Ismail ash-Shafwi (930-907 H), sebagaimana yang dikatakan oleh DR. Ali al-Wardi di kitab “Lamahat Ijtima’iyyah Min Tarikhil ‘Iraq” juz 1 halaman 59: “Tidak cukup Syah Ismail dengan menyebarkan teror dalam rangka menyebarkan faham Syi’ah, bahkan ia juga sengaja menggunakan wasilah lain yaitu membujuk masyarakat dan memuaskan diri. Ia menyuruh mengkoordinasi peringatan terbunuhnya Husein seperti yang dirayakan sekarang. Perayaan ini sebetulnya sudah dilakukan pertama kalinya oleh al-Buhaiwiyun di Bagdad pada abad keempat hijriyah, tetapi kemudian ditinggalkan setelah masa mereka. Selanjutnya datanglah Syah Ismail belakangan. Ia mengembangkannya dan menambah majlis ta’ziyah agar lebih kuat pengaruhnya pada hati pengikutnya. Bisa jadi benar pendapat yang menyatakan bahwa hal tersebut merupakan sarana terpenting dalam menyebarkan faham Syi’ah di Iran karena acara tersebut menampakkan kesedihan dan tangisan dengan dihiasi banyak lambang dan diiringi irama gendang serta lain sebagainya, yang merasukkan keyakinan ke dalam sanubari.”

Kelima: Kemudian perlu diketahui bahwa sebagian ahli sejarah merajihkan bahwa pernikahan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan Fathimah radhiyallahu ‘anha terjadi pada awal tahun ketiga hijriyah. Ibnu Katsir rahimahullah berkata: “Al-Baihaqi menukil dari kitab ‘al-Ma’rifah’ karangan Abu Abdillah bin Mandah bahwa ‘Ali menikah dengan Fathimah satu tahun setelah hijrah dan berumah tangga dengannya satu tahun berikutnya. Berdasarkan hal ini maka beliau menggaulinya pada awal tahun ke tiga hijriyah” (Bidayah wa Nihayah jilid 3 halaman 419).

Memang ada pendapat lain dalam masalah ini, akan tetapi yang menjadi dasar adalah tidak ada satu ulama yang mengingkari pernikahan ‘Ali terjadi pada bulan muharam. Bahkan barangsiapa menikah/menggauli istrinya pada bulan muharam maka ia memiliki contoh yang baik pada diri amirul mukminin Ali dan istrinya Fathimah binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam.

ما يشاع من كراهية النكاح في شهر الله المحرم (2)

رابعا :
إن احتج أحدٌ على المنع بأن شهر محرّم هو شهر استشهاد الحسين بن علي رضي الله عنه ، كما فعل ذلك بعض الروافض .
قيل له : لا شك أن يوم استشهاده رضي الله عنه يوم ثَلم عظيمٍ في تاريخ الإسلام ، غير أنه لا يستلزم الفتوى بتحريم الزواج أو الخطبة فيه ، وليس في شريعتنا تجديد الأحزان في الذكرى السنوية ، واستمرار الحداد إلى حد المنع من مظاهر الفرح .
وإلا فمِن حقنا أن نسأل مَن يقول بذلك : أليس اليوم الذي توفي فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم أعظم مصيبة حلت بالأمة الإسلامية ! فلماذا لا يحرُم الزواج أيضا في ذلك الشهر كله الذي هو ربيع الأول ؟! ولماذا لم يُنقل ذلك التحريم أو الكراهة عن أحد من الصحابة أو من آل بيت النبي صلى الله عليه وسلم والعلماء من بعدهم !!
وهكذا لو رحنا نجدد الأحزان في كل يومٍ قُتل فيه أو استشهد أو توفي أحد أئمة الإسلام الكبار ، من آل بيت النبي صلى الله عليه وسلم أو من غيرهم ، لضاقت الأيام والشهور عن يوم فرح وسرور ، ولأصاب الناس من العنت والحرج ما لا طاقة لهم به . ولا شك أن الإحداث في الدين أول ما يجني على أصحابه الذين ناقضوا الشريعة ، واستدركوا على كمالها الذي ارتضاه الله لعباده .
وقد ذكر بعض المؤرخين أن أول من أحدث هذا القول ، بل أول من أحدث تجديد مظاهر الحداد في بداية شهر محرم هو الشاه إسماعيل الصفوي (907-930هـ)، كما يقول الدكتور علي الوردي في ” لمحات اجتماعية من تاريخ العراق ” (1/59) : ” لم يكتف الشاه إسماعيل بالإرهاب وحده في سبيل نشر التشيع ، بل عمد كذلك إلى اتخاذ وسيلة أخرى ، هي وسيلة الدعاية والإقناع النفسي ، فقد أمر بتنظيم الاحتفال بذكرى مقتل الحسين على النحو الذي يتبع الآن . وهذا الاحتفال كان قد بدأ به البويهيون في بغداد في القرن الرابع الهجري ، ولكنه أهمل وتضاءل شأنه من بعدهم . ثم جاء الشاه إسماعيل أخيرا ، فطوره وأضاف إليه مجالس التعزية ، بحيث جعله قوي الأثر في القلوب ، وقد يصح القول : إنه كان من أهم العوامل في نشر التشيع في إيران ؛ لأن ما فيه من مظاهر الحزن والبكاء ، وما يصاحبه من كثرة الأعلام ودق الطبول وغيرهما ، يؤدي إلى تغلغل العقيدة في أعماق النفس ، والضرب على أوتارها الكامنة ” انتهى.
خامسا :
ثم إن بعض المؤرخين يرجحون أن زواج علي بن أبي طالب رضي الله عنه من فاطمة رضي الله عنهما ، إنما وقع في أوائل السنة الثالثة للهجرة .
يقول ابن كثير رحمه الله :نقل البيهقي عن كتاب “المعرفة” لأبي عبد الله بن منده ، أن عليا تزوج فاطمة بعد سنة من الهجرة ، وابتنى بها بعد ذلك لسنة أخرى ، فعلى هذا يكون دخوله بها في أوائل السنة الثالثة من الهجرة ” انتهى من ” البداية والنهاية ” (3/419) ، وثمة أقوال أخرى في المسألة ، ولكن الشاهد أن أحدا من العلماء لم يستنكر الزواج في محرم ، بل ومن دخل فيه فله أسوة حسنة في أمير المؤمنين علي وزوجته السيدة فاطمة بنت رسول الله صلى الله عليه وسلم .والله أعلم.

(Sumber : https://islamqa.info/ar/193281).

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/wjn6x

About klikUK.com

Check Also

wpid-fb_img_15237576133111880934809.jpg

Hikmah bulan Shafar -5

15 Faidah Tentang Bulan Shafar (5) Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid 9. Tathayyur (merasa sial dengan ...