Home / Akidah Akhlaq / Mengingat Kematian

Mengingat Kematian

tali-putus1-1

Mengingat Kematian (1)

Salah satu di antara wasiat Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah wasiat untuk mengingat kematian dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kematian adalah termasuk ketentuan dan taqdir Allah ‘Azza Wajalla yang pasti akan menghampiri setiap jiwa. Bagaimanapun seseorang menghindar darinya, kematian tetap akan mendatanginya.

Allah ‘Azza Wajalla berfirman :

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ

            Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. (QS. Al baqarah : 185).

Dan Allah ‘Azza Wajalla berfirman :

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُم مَّيِّتُونَ

Sesungguhnya engkau (Nabi Muhammad) akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). (QS. Az Zumar : 30).

Dan Allah ‘Azza Wajalla berfirman :

أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكُكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu dia dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (QS. An Nisaa’ : 78).

Imam Ibnu Katsir ketika menjelaskan ayat ini mengatakan, “Maksudnya adalah bahwa setiap orang akan menemui kematian. Itu adalah suatu hal yang pasti. Dan tidak ada seorang pun yang akan selamat darinya. Sama saja apakah ia ikut serta dalam jihad ataukah tidak. Sesungguhnya setiap orang memiliki ajal yang telah ditetapkan dan kedudukan yang telah ditentukan.”[1]

 

Bersambung….InsyaAlloh……

[1] Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Imam ‘Imaduddin Abu al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir al-Qurasyi ad-Dimasyqi, Cet. Ke-5, Tahun 1421 H/2001 M, Jum’iyyah Ihya’ at-Turats al-Islamiy, Kuwait, I/722.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/xPzjM

About klikUK.com

Check Also

gencatan senjata

Ringkasan Fikih Islam : Hukum Membai’at Dua Pemimpin

Hukum Membai’at Dua Pemimpin عَنْ أَبِي سَعِيْدِ الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ...