Home / Brankas / Masail Hadits Ke 14 : Lalat Tidak Menjadikan Najis Pada Air Walaupun Mati

Masail Hadits Ke 14 : Lalat Tidak Menjadikan Najis Pada Air Walaupun Mati

fly-in-waterMasaa’il

 A. Bantahan bagi yang meragukan hadits ini.

Sebagian orang kafir dan muslimin yang bodoh menolak hadits ini, bahkan sebagiannya sampai mencela perawinya yaitu sahabat Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu. Namun para ulama telah membantah hal ini dalam banyak karya mereka, diantaranya Syeikh Abdurrahman al-Mu’allimi dalam kitab al-Anwaar al-Kaasyifah. Dapat disimpulkan secara ringkas Jawaban para ulama atas celaan mereka terhadap hadits ini, sebagai berikut:

  1. Hadits ini termasuk hadits yang dipilih oleh imam al-Bukhori untuk dimasukkan ke dalam kitab shahihnya karena keabsahannya. Cukuplah kepakaran imam al-Bukhori dan penerimaan umat islam terhadap kitab shahih yang memuat hadits ini.
  2. Hadits lalat ini tidak diriwayatkan oleh Abu Hurairah sendirian. Telah ada penguat dari riwayat sahabat lainnya. Demi Allah, ini bukan sekedar penguat, namun layak dikatakan disini: Sesungguhnya dengan adanya taba’iyah (penguat dari jalan lain) memungkinkan selain dari Abu Hurairah untuk turut serta meraih pahala dan kemuliaan meriwayatkan dan menyebarkan hadits ini kepada umat. Hal itu karena Abu Hurairah tidak sendirian meriwayatkan hadits ini. Abu Sa’id Al Khudri ikut juga meriwayatkannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam Musnad Ahmad, pada no.11207, 11666, An Nasa’i, II/193; Ibnu Majah, II/185 dan Al Baihaqi, I/253 dengan sanad yang shahih. Demikian juga Anas bin Malik meriwayatkannya, sebagaimana yang dijelaskan Al Haitsami dalam Majma’u Az Zawaid (V/38), seraya berkata,”Al Bazzar meriwayatkan hadits ini dan para perawinya tsiqat. Dan Ath Thabrani meriwayatkan juga dalam Al Ausath.” Al Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari (XII/364) dengan pernyataannya: “Diriwayatkan oleh Al Bazzar dan  para perawinya tsiqat”. Sehingga Abu Hurairah tidak bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini dari Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam, akan tetapi hanya beliau sendiri yang dicela mereka, dikarenakan mereka tidak mengetahui, bahwa dua orang sahabat lainnya (juga) meriwayatkan hadits ini.[1]Orang terbaik yang berbicara dalam menjelaskan keshahihan hadits ini ialah Al Ustadz Asy Syaikh Muhammad As Samahi. Dia berbicara panjang lebar seputar jalan periwayatan hadits dan pernyataan ulama terdahulu tentang hadits ini. Kemudian bantahannya memuat makalah ilmiah yang sangat penting, tulisan dari dua dokter, yaitu Mahmud Kamal dan Muhammad Abdul Mun’im Husain. Makalah ini diterbitkan pada Vol. 7, majalah Al Azhar, Tahun 1378 H. Kedua dokter ini menukil hasil penelitian ahli kedokteran barat yang menetapkan, bahwa lalat itu membawa dzat penolak bibit penyakit dan mengeluarkan dzat-dzat tersebut darinya.

Kedua dokter tersebut berkata: Terdapat dalam referensi ilmiah, bahwa seorang profesor Jerman bernama Briefield dari Universitas Hole di Jerman mendapatkan pada tahun 1871, bahwa lalat yang sering berkeliaran di rumah terkena parasit sejenis bakteri yang ia beri nama Ambozamuski. Bakteri jenis ini menghabiskan hidupnya di lapisan berminyak di dalam perut lalat dalam bentuk sel kemerah-merahan berbentuk bulat, kemudian memanjang dan keluar dari batas perut melalui rongga-rongga pernafasan atau diantara persendian perut. Dalam kondisi semacam ini, ia menjadi berada di luar badan lalat. Bentuk ini merupakan proses perkembang biakan jenis jamur ini. Spora jamur ini berkumpul dalam sel-sel hingga mencapai kekuatan tertentu yang dapat memecah sel dan menyemburkan spora tersebut keluar. Ini akan terjadi, dengan sebab kekuatan dorong yang besar sampai derajat menyemburkan sporanya hingga jarak kurang lebih 2 cm dari sel melalui semburan sel dan terlepasnya cairan dalam bentuk racun.

Di sekitar bangkai lalat dan yang ditinggalkan di kaca, selalu didapati benih dari jenis bakteri ini. Sedangkan kepala sel-sel memanjang yang mengeluarkan spora ada di sekitar bagian ketiga dan akhir dari lalat pada perut dan punggungnya. Bagian ke tiga atau akhir ini, selalu berada di atas, ketika lalat itu hinggap kepada sandaran apa saja untuk menjaga keseimbangannya dan kesiapan terbang. Sedangkan penyemburan seperti yang telah kami sebutkan, terjadi setelah tingginya tekanan cairan dalam sel lonjong sampai pada kekuatan tertentu. Ini bisa jadi penyebab munculnya titik tambahan dari cairan di sekitar sel yang memanjang. Pada waktu penyemburan, keluar bersama spora bakteri satu bagian dari sitoplasma bakteri tersebut. Demikian disebutkan Profesor Lanjieruun, profesor senior dalam ilmu tentang bakteri, pada tahun 1945. Bahwa sejenis bakteri ini, sebagaimana yang telah kami sebutkan, hidup dalam bentuk adonan yang bulat dalam benang-benang lalat dan mengeluarkan enzim-enzim kuat yang menghancurkan dan meleburkan bagian-bagian yang membawa bibit penyakit.

Pada penelitian lainnya, pada tahun 1947 telah sukses pemisahan anti biotika -dengan perantara Aronsyitin dan Kook dari Inggris serta Ruliyus dari Swis pada tahun 1950- diberi nama Jafasien. Anti biotika ini berasal dari bakteri dari satu spesies yang sama dengan bakteri yang telah kami sebutkan di atas dan bakteri yang hidup di lalat. Anti biotika ini dapat membunuh beragam kuman penyakit; diantaranya bakteri gram -negatif dan positif, disentria dan tifus. Pada tahun 1948, Briyan, Kurteis, Heimanj, Jeefeiries dan Max John dari Inggris telah memisahkan anti biotika sejenis bakteri dari spesies bakteri yang hidup pada lalat dan diberi nama klutieniezien. Anti biotika ini dapat mempengaruhi bakteri gram-negatif; diantaranya juga kuman disentria dan tifus. Pada tahun 1949 Kook dan Famer dari Inggris, Jurman, Rauts, Talenjier dan Bill Tuner dari Swis memisahkan anti biotika yang diberi nama anyatien, dari bakteri yang masih satu spesies dengan bakteri yang hidup pada lalat. Anti biotik ini memiliki pengaruh kuat sekali terhadap bakteri gram-positiv dan negativ dan jenis bakteri lainnya, diantaranya kuman desentrie, tifus dan kolera. Anti biotik ini belum juga digunakan kedokteran, namun ini saja termasuk keajaiban ilmiah untuk satu sebab, yaitu bahwa jika ia masuk ke dalam tubuh dalam jumlah besar terkadang berdampak pada terjadinya lonjakan imunitas tubuh, sedang kekuatannya sangat kuat sekali dan melebihi seluruh anti biotika yang digunakan untuk mengobati penyakit yang beraneka ragam. Dan cukup dengan jumlah kecil sekali untuk menghadang hidupnya atau perkembangan kuman tifus dan disentria serta kolera, atau yang serupa dengan ketiga kuman tersebut. Pada tahun 1947 Maufities memisahkan anti biotika dari tempat pengembangbiakan bakteri di tubuh lalat dan mendapatinya memiliki reaksi kuat pada sebagian bakteri gram-negativ, semisal bakteri tifus, disentria dan sebangsanya.

Dengan penelitian tentang faidah bakteri ini untuk menghadapi kuman-kuman  penyebab penyakit demam yang dibutuhkan waktu singkat pengembangbiakannya, didapati satu gram dari anti biotika ini dapat menjaga 1.000 liter susu terhindar dari pencemaran kuman (bakteri) penyakit yang telah disebutkan. Ini merupakan bukti terbesar tentang kuatnya dampak anti biotika ini.

Adapun berkaitan dengan tercemarnya lalat dengan bakteri pembawa penyakit, seperti bakteri kolera, tifus, disentria dan lainnya yang dipindahkan lalat dari saluran air, sisa-sisa makanan atau kotoran hajat yang dikeluarkan orang sakit. Ini adalah tempat-tempat yang banyak dikunjungi lalat. Tempat bakteri-bekteri ini hanya berada pada ujung-ujung kaki lalat atau pada kotoran lalat, ini telah ditetapkan dalam seluruh sumber referensi bakteriologi dan tidak perlu sekali disebutkan nama pengarang atau sumber referensi untuk hakikat yang telah diketahui ini.

Dari semua ini dijadikan alasan, bahwa jika lalat itu terjatuh pada makanan, maka lalat itu akan menyentuh makanan tadi dengan kakinya yang membawa mikroba-mikroba penyakit, seperti: tifus, kolera, desentri atau lainnya. Jika lalat membuang kotorannya pada makanan, maka akan mencemari makanan tersebut -sebagaimana juga yang telah dijelaskan- pada kakinya.

Adapun jamur yang mengeluarkan anti biotika yang membunuh kuman-kuman penyakit yang ada pada kotoran lalat dan kakinya terdapat pada perut lalat. Tidak keluar bersama cairan sel yang memanjang dari bakteri dan kandungan anti biotika tersebut kecuali setelah bersentuhan dengan benda cair yang akan menambah tekanan dari dalam terhadap cairan sel dan menyebabkan pecahnya sel dan keluarnya spora dan cairan.

Dengan demikian para ulama telah membuktikan dengan penelitian mereka tafsir hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam yang menegaskan keharusan mencelupkan seluruh badan lalat pada air minum atau makanan jika menempel padanya, untuk menghilangkan pengaruh bakteri penyakit yang dipindahkan melalui kaki-kaki lalat atau kotorannya. Begitu juga hal ini menguatkan hakikat yang ditunjukkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa salah satu sayap lalat mengandung penyakit; maknanya pada salah satu bagian tubuhnya ada penyakit yang ditularkan melalui bakteri (kuman penyakit) yang dibawa lalat dan di sayap yang lainnya mengandung penawarnya, yaitu anti biotika yang dikeluarkan oleh jamur-jamur yang ada di perutnya dan yang keluar dengan adanya benda cair di sekitar sel jamur tersebut.[2]

  B. Hukum bangkai hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir.

Dalam masalah ini ada tiga pendapat para ulama:

  • Pendapat pertama :

Bangkai hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir tidak najis, sehingga bila mati didalam air tidak akan menajisi air tersebut. Inilah pendapat umumnya ulama, Maalik bin Anas, al-Hasan, Ikrimah dan ‘Atha’ (lihat al-Majmu’ 1/177). Imam ibnu al-Mundzir dalam kitab al-Ausath 1/283 :

(قال عوام أهل العلم: لا يفسد الماء بموت الذباب والخنفساء ونحوهما، قال: ولا أعلم فيه خلافاً إلا أحد قولي الشافعي)

Umumnya ulama berpendapat bahwa air tidak rusak dengan sebab kematian lalat, dan sejenisnya. Beliau berkata: saya tidak mengetahui adanya perbedaan pada masalah ini kecuali satu dari dua pendapat imam asy-Syafi’i.

Diantara dalil pendapat ini adalah:

  1. Hadits Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘anhu ini yang memerintahkan kita untuk mencelupkan lalat yang masuk air minum seluruhnya tanpa menjelaskan rinciannya. Padahal air tersebut bisa dingin atau panas. Juga lalat bila dicelupkan keair seluruh tunuhnya akan beresiko membuatnya mati dan menjadi bangkai. Hal ini menunjukkan kesuciannya dan kesucian air yang terkena bangkai lalat tersebut.
  2. Hadits Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhu dalam hadits sebelum ini yang berbunyi:

عَن ابنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ الله صلّى الله عليه وسلّم: «أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ، فَأَمَّا المَيْتَتانِ: فَالْجَرَادُ والْحُوتُ، وَأَمَّا الدَّمَانِ: فَالطِّحالُ وَالْكَبِدُ». أَخْرَجَهُ أَحْمَدُ، وَابْنُ مَاجَهْ، وَفِيهِ ضَعْفٌ.

Dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Telah dihalalkan bagi kita dua macam bangkai dan dua macam darah, adapun dua macam bangkai adalah: (bangkai) belalang dan ikan, dan dua macam darah adalah limpa dan hati.” Diriwayatkan oleh Ahmad dan Ibnu Majah (telah lalu takhrijnya).

Karena belalang termasuk hewan yang tidak memiliki darah yang mengalir dan bangkainya halal dimakan.

  • Pendapat yang kedua:

Air yang terkena bangkai hewan yang tidak memiliki darah mengalir ini bisa menjadi najis. Ini adalah salah satu dari pendapat imam Syafi’i. Diriwayatkan juga dari Yahya bin Abi Katsir pada kalajengking seperti disampaikan dalam kitab Ma’alim as-Sunan 5/341.

  • Pendapat ketiga :

Apabila biasa terjatuh pada air seperti lalat, nyamuk dan sejenisnya maka tidak najis dan yang jarang masuk air seperti kalajengking dan sejenisnya maka najis. Pendapat ini disampaikan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 10/250.

     Pendapat yang rojih.

Pendapat pertama adalah pendapat yang rojih karena kuatnya dalil mereka. Wallahu a’lam.

Hubungan Hadits dengan Bab Air.

Tampaknya Ibnu Hajar menyampaikan hadits ini pada bab Air adalah karena lalat sering hinggap diair. Apabila hinggap diair dan mati menjadi bangkai, maka bangkai lalat tersebut tidak menajisi air tersebut. Kesucian air tetap tidak berubah karena Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mencelupkannya dan kemungkinan mati itu besar sebab lalat lemah. Walaupun demikian beliau hanya memerintahkan untuk membuang lalat yang telah dicelupkan seluruhnya ke air tersebut tanpa air dalam bejana tersebut. Seandainya bangkai lalat tersebut merubah kesucian air tentulah beliau akan jelaskan.

 

[1]Dan tahqiq Ahmad Syakir terhadap Musnad Ahmad dalam tempat yang telah disebutkan.

[2]Al Manhaj Al Hadits, oleh As Samakhi, halaman 386, Ath Thahawi menyebutkan dalam Ma’ani Al Atsar, IV/284, bahwa mendahulukan lalat yang sayapnya mengandung penyakit sebagaimana terdapat dalam sebagian riwayat ini, merupakan ilham. Allah Ta’ala, seperti yang telah Allah ilhamkan kepada lebah untuk membuat sarang di gunung-gunung.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/AVZKl

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

lampu-pemimpin

Ringkasan Fikih Islam : Keutamaan Penguasa yang Adil dan Ancaman bagi Penguasa yang Zalim

Keutamaan Penguasa yang Adil dan Ancaman bagi Penguasa yang Zalim Firman Allah Subhanahu Wata’ala : ...