Home / Brankas / Masa’il Dari Hadits Tata Cara Membersihkan Tanah Dari Najis

Masa’il Dari Hadits Tata Cara Membersihkan Tanah Dari Najis

small_Sea of SandMasa’il Fiqhiyah Dari Hadits Tata Cara Membersihkan Tanah Dari Najis

  1. Bagaimana mensucikan tanah yang terkena najis…?

Dalam hadits ini tampak secara textual Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan pensucian tanah yang terkena kencing A’robi dengan menyiramkan seember air saja.  Namun para ulama berbeda pandapat dalam hal ini menjadi dua pendapat:

Pertama: Cukup dalam mensucikan tanah yang terkena najis dengan menyiramkan air padanya hingga hilang naj
isnya. Inilah pendapat mayoritas Ulama, termasuk didalamnya imam Maalik , asy-Syafi’I dan Ahmad rahimahumullah. (lihat al-Muntaqa 1/129, al-Umm 1/52 dan al-Majmu’ 2/611 serta al-Fatawa al-Kubro ibnu Taimiyah 1/237).

Mereka berargumen dengan hadits Anas bin Maalik radhiyallahu ‘anhu ini, dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam mencukupkan dengan meyiramkan air saja.

Kedua : Apabila tanahnya tidak keras seperti tanah berpasir maka disiramkan air hingga masuk ketanah dan kedalamnya. Dengan demikian najisnya akan hilang. Apabila tanahnya keras dan landai maka dibuatkan lobang  dibagian terendahnya yang memungkinkan untuk mensucikan najis tersebut, kemudian air yang digunakan untuk pensucian akan menggenang dilobang tersebut. Apabila tanahnya keras dan rata maka harus mengeruk tanahnya dan membuang tanah yang bernajis. Karena air tidak akan menghilangkan najis tersebut. Inilah pendapat Abu Hanifah rahimahullah (lihat Bada’I ash-Shana’I 1/89).

Argumen pendapat ini:

  1. Hadits yang diriwayatkan ibnul Jauzi dalam al-‘Ilal al-Mutanahiyah 1/334 dari jalan Abduljabaar bin al-‘Ala’ dari ibnu Uyainah dari Yahya bin Sa’id dari Anas bin Maalik radhiyallahu ‘anhu beliau berkata:

أَنَّ أَعْرَابيًّا بَالَ في الْمَسْجِد، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : احْفِرُوْا مَكَانَهُ ثُمَّ صَبُّوا علِيْهِ َذَنُوْبًا مِنْ مَاءٍ؛

Sesungguhnya seorang A’rob kencing di Masjid, lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Keruklah tempatnya tersebut kemudian siramlah seember air padanya.

Dalil ini dihukumi lemah karena Abduljabbar bersendirian meriwayatkannya. Selain beliau dari para perawi yang meriwayatkan hadits Anas ini dari yahya bin Sa’id tidak menyebutkan perintah membuat lobang atau mengeruk bagian yang terkena najis tersebut, sehingga ibnu al-Jauzi berkata dalam al-Ilal 1/334 :  ad-Daraquthni berkata: Abduljabbar keliru meriwayatkan dari ibnu Uyainah, karena murid-murid tenar ibnu Uyainah meriwayatkan hadits ini dari Yahya bin Sa’id tanpa seorangpun menyebut perintah mengeruk. Namun memang ada riwayat ibnu Uyainah dari Amru bin Dinaar dari Thawus secara mursal dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berkata: (احْفِروْا مَكَانَهُ). Sehingga Abduljabbar keliru.

Mursal Thaawus ini dibawakan imam Abdurrazaq ash-Shan’ani dalam al-Mushannaf 1/424 no. 1659 dan ath-Thahawi dalam Syarhu Ma’ani al-Atsaar 1/14 dari jalan Ibnu Uyainah dari Amru bin Dinaar dari Thawus.

  1. Hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dalam Sunannya 1/265 no. 381 dari Musa bin Isma’il dari Jarir bin Haazim dari Abdulmalik bin Umair dari Abdullah bin Ma’qil bin Muqrin, beliau berkata:

خُذُوا مَا بَالَ عَلَيْهِ مِنَ التُّرَابِ فَأَلْقُوهُ وَأَهْرِيقُوا عَلَى مَكَانِهِ مَاءً

Ambilah tanah yang kamu ketahui lalu buanglah dan siramlah ditempat tersebut air.

Abu Dawud rahimahullah setelah itu menyatakan:

وَهُوَ مُرْسَلٌ ابْنُ مَعْقِلٍ لَمْ يُدْرِكِ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم-.

Ini adalah mursal ibnu Ma’qil yang tidak berjumpa dengan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.

Ahmad bin Hambal rahimahullah berkata : Ini hadits mungkar. (lihat Tanqih at-tahqiq 1/265).

  1. Hadits yang diriwayatkan ad-daraquthni dalam Sunannya 1/132 dari Abdulwahab bin ‘Isa bin Abi Hayyah dari Abu Hisyam ar-Rifaa’i Muhammad bin yazid dari Abu bakkar bin ‘Iyaas dari Sam’an bin Maalik dari Abu Wa’il dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:

جَاءَ أَعْرَابيٌّ فَبَالَ فِي الْمَسْجِد، فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَمَكَانِهِ فَاحْتَفِر فَصُبَّ عَلَيْهِ دَلْوٌ مِنْ مَاءٍ.فَقَالَ الأَعْرَبِيُّ : يَا رَسُوْلَ اللهِ المَرْأُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَ لَمَّا يَعْمَل عَمَلَهُمْ؟ فَقاَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : الْمَرْأُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ  

Datang seorang A’rabi lalu kencing di Masjid Nabawi, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengeruk tempat yang terkena kencing lalu dilubangi. Kemudian disiram seember air. A’rabi berkata: wahai Rasulullah seorang mencintai satu kaum dan belum mengamalkan amalan mereka? Maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Seorang bersama siapa yang dicintainya.

Hadits ini juga dikeluarkan imam ath-Thahawi dalam Syarh Ma’ani al-Atsar 1/14 dari jalan Abu Bakar bin ‘Iyaasy.

Hadits ini lemah karena adanya Abu Hisyaam ar-Rifaa’I yang dihukumi Ibnu Abdilhadi dengan pernyataan: Abu Hisyaam ar-Rifa’I seorang perawi lemah  dan imam al-Bukhari berkata: Aku memandang para Ulama sepakat menghukuminya sebagai perawi yang lemah. (Tanqih al-tahqiq 1/265). Juga ad-Daraquthni dalam assunan 1/132 berkata: Sam’an seorang perawi majhul (tidak dikenal) (lihat jugaal-Ilal 5/80).

Sedangkan Abu Zur’ah dinukil dalam kitab al-Jarh wa Ta’dil 4/316 : Ini hadits mungkar dan Sam’aan perawi yang tidak kuat.

Sehingga yang rojih semua dalil pendapat kedua adalah lemah dalam sanadnya dan menyelisihi hadits-hadits yang shahih di Shahihain yang tidak menyebutkan kecuali menyiram dengan air saja. Wallahu A’lam.

Dengan demikian pendapat mayoritas Ulama adalah pendapat yang rojih atau kuat.

  1. Hukum Mengingkari Kemungkaran.

Dalam hadits yang mulia ini ada hardikan para sahabat kepada A’rabi, persetujuan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam atas perbuatan sahabat dan pengingkaran beliau terhadap A’rabi setelah selesai dari kencingnya – sebagaimana ada dalam riwayat imam Muslim-.

Perkara yang Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ingkari dari para sahabat adalah keras dan kasarnya sikap mereka dalam mengingkarinya yang dapat menimbulkan kerusakan dan mafsadat yang banyak.

Ini semua menunjukkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar yang telah menjadi kesepakatan para Ulama Umat ini.

Imam Muhammad bin Muhammad ath-Thusi al-Ghazali dalam kitab Ihyaa’ Ulumiddin 2/302 menyatakan: Amar ma’ruf nahi mungkar adalah pokok agung dalam agama dan tugas yang Allah Ta’ala bebankan kepada para nabi seluruhnya. Seandainya dilipat hamparannya (ditinggalkan) dan diacuhkan ilmu dan amalnya, tentulah kenabian tidak berfungsi, agama menjadi hancur, kefuturan merata dan kesesatan menyebar serta kerusakan menyeluruh. Juga perpecahan semakin luas, negara menjadi rusak dan hancur dan tidak merasakan kehancuran kecuali di hari kiamat. (dinukil dari ‘Aridhatul Ahwadzi 9/13).

Para ulama berselisih dalam hukum rincian ingkar mungkar. Hukum mengingkari dengan hati adalah fardhu ‘ain atas setiap muslim tanpa ada perbedaan pendapat sedikitpun, karena itu bisa dilakukan semua orang sehingga tidak dimaafkan orang yang meninggalkannya dan juga tidak ada kerugian atas orang yang mengingkari dengan hatinya. Ijma’ ini dinukil imam al-Ghazali dalam Ihyaa Ulumidin 2/306 dan an-Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim 2/22 , Ibnu Hazm dan selainnya. Ini sebagian pernyataannya:

Ibnu Hazm Adz Dzahiriy, beliau berkata, “Seluruh umat telah bersepakat mengenai kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, tidak ada perselisihan diantara mereka sedikitpun”.( Ibnu Hazm, Al-Fashl Fil Milal Wan Nihal, 5/19.)

Abu Bakr al- Jashshash, beliau berkata,”Allah subhanahu wata’ala telah menegaskan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar melalui beberapa ayat dalam Al Qur’an, lalu dijelaskan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hadits yang mutawatir. Dan para salaf serta ahli fiqih Islam telah berkonsensus atas kewajibannya”. (Al-Jashash, Ahkamul Qur’an , 2/486)

An-Nawawi berkata,”Telah banyak dalil-dalil Al Qur’an dan Sunnah serta Ijma yang menunjukkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar”. (An-Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 2/22.).

Asy-Syaukaniy berkata,”Amar ma’ruf nahi mungkar termasuk kewajiban, pokok serta rukun syari’at terbesar dalam syariat. Dengannya sempurna aturan Islam dan tegak kejayaannya”.( Asy-Syaukaniy, Fathul Qadir, 1/450.).

Adapun pengingkaran dengan tangan dan lisan, para ulama berselisih dalam hukumnya apakah fardhu ‘ain ataukah fardhu kifayah?

Pendapat pertama : Hukumnya adalah fardhu ‘Ain. Ini merupakan pendapat sejumlah ulama, diantaranya Ibnu Katsir (Lihat tafsir Al-Quran Al-Karim karya Ibnu Katsir 1/390), Az Zujaaj, Ibnu Hazm (lihat Ibnu Hazm, Al-Muhalla, 10/505).Mereka berhujjah dengan dalil-dalil syar’i, diantaranya:

1.  Firman Allah subhanahu wata’ala,

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran:104)

Mereka mengatakan bahwa kata مِنْ  dalam ayat مِنْكُمْ  untuk penjelas dan bukan untuk menunjukkan sebagian. Sehingga makna ayat, jadilah kalian semua umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Demikian juga akhir ayat yaitu:

وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Menegaskan bahwa keberuntungan khusus bagi mereka yang melakukan amalan tersebut. Sedangkan mencapai keberuntungan tersebut hukumnya fardhu ‘ain. Oleh karena itu memiliki sifat-sifat tersebut hukumnya wajib ‘ain juga. Karena dalam kaedah disebutkan:

مَا لاَ يَتِمُّّ الْوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Satu kewajiban yang tidak sempurna kecuali dengan sesuatu, maka sesuatu itu hukumnya wajib.

2.  Firman Allah Ta’ala,

 كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَلَوْءَامَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُمْ مِّنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرَهُمُ الْفَاسِقُونَ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (Ali Imran :110).

Dalam ayat ini, Allah subhanahu wata’ala menjadikan syarat bergabung dengan umat Islam yang terbaik, yaitu dengan amar ma’ruf nahi mungkar dan iman. Padahal bergabung kepada umat ini, hukumnya fardu ‘ain. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِّمَّن دَعَآ إِلَى اللهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِى مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shaleh dan berkata,”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Surat Fushilat :33)

Sehingga memiliki sifat-sifat tersebut menjadi fardhu ‘ain. Sebagaimana Umar bin Al Khathab menganggapnya sebagai syarat Allah Ta’ala bagi orang yang bergabung ke dalam barisan umat Islam. Beliau berkata setelah membaca surat Ali Imran:110,”Wahai sekalian manusia, barang siapa yang ingin termasuk umat tersebut, hendaklah menunaikan syarat Allah darinya”

3.  Sabda  Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam:

« مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ ».

Siapa yang melihat dari kalian kemungkaran maka hendaknya merubahnya dengan tangan, apabila tidak mampu maka dengan lisannya dan bila tidak mampu juga maka dengan hatinya dan itu selemah-lemahnya iman. (HR Muslim).

Dalam hadits ini Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menggunakan kata (مَنْ) yang bersifat umum, sehingga semua muslim yang mampu dan melihat kemungkaran harus mengingkarinya sesuai kemampuannya.

4. Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

« مَا مِنْ نَبِىٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِى أُمَّةٍ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لاَ يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لاَ يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ الإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ ».

Tidak ada seorang Nabi yang diutus Allah pada satu umat sebelumku kecuali memiliki penolong-penolong (Hawari) dan para sahabat yang mengambil sunnahnya dan meneladani semua perintahnya. Kemudian setelah mereka muncul generasi pengganti yang berbicara yang tidak mereka amalkan dan mengamalkan yang tidak diperintahkan. Siapa yang menginkari mereka dengan tangannya maka dia mukmin dan yang mengingkari mereka dengan lisannya maka dia mukmin dan yang mengingkari mereka dengan hatinya maka dia mukmin dan tidak ada setelah itu sedikitpun dari iman. (HR Muslim).

Pendapat kedua : Hukum amar ma’ruf nahi mungkar adalah fardhu kifayah. Ini merupakan pendapat jumhur ulama. Diantara mereka yang menyatakan secara tegas adalah Abu Bakr Al-Jashash  (Al Jashosh, Ahkamul Qur’an, 2/29), Al-Mawardiy, Abu Ya’la Al-Hambaliy, Al Ghozaliy, Ibnul Arabi, Al Qurthubiy (Al Qurthubiy, Tafsir Al-Qurthubiy, 4/165), Ibnu Qudamah (Ibnu Qudamah, Mukhtashor Minhajul Qashidiin, hal.156), An-Nawawiy (An Nawawi, Syarah Shahih Muslim, 2/23), Ibnu Taimiyah (Ibnu Taimiyah, Al Amr Bil Ma’ruf wan Nahi ‘Anil Mungkar , hal.37), Asy-Syathibiy (Asy Syathibiy, Al-Muwafaqaat Fi Ushulisy Syari’at, 1/126) dan Asy-Syaukaniy (Asy Syaukaiy, Fathul Qadir, 1/450).

Mereka berhujjah dengan dalil-dalil berikut ini:

a. Firman Allah Ta’ala:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةُُ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung. (Ali Imran:104)

Mereka mengatakan bahwa kata مِنْ  dalam ayat مِنْكُمْ  untuk menunjukkan sebagian. Sehingga menunjukkan hukumnya fardhu kifayah.

Imam Al Jashash menyatakan,”Ayat ini mengandung dua makna. Pertama, kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Kedua, yaitu fardu kifayah. Jika telah dilaksanakan oleh sebagian, maka yang lain tidak terkena kewajiban”. (Al Jashash, Ahkamul Qur’an, 2/29).

Ibnu Qudamah berkata,”Dalam ayat ini terdapat penjelasan hukum amar ma’ruf nahi mungkar yaitu fardhu kifayah, bukan fardhu ‘ain”.( Ibnu Qudamah, Mukhtashar Minhajul Qashidiin, hal 156).

b. Firman Allah Ta’ala:

وَمَاكَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَآفَةً فَلَوْلاَ نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِنهُمْ طَآئِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mu’min itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya. (At-Taubah : 122)

Hukum tafaquh fiddin (memperdalam ilmu agama) adalah fardhu kifayah. Karena Allah Ta’ala memerintahkan sekelompok kaum mukminin dan tidak semuanya untuk menuntut ilmu. Oleh karena itu orang yang belajar dan menuntut ilmu tersebut yang bertanggung jawab  memberi peringatan, bukan seluruh kaum muslimin. Demikian juga jihad, hukumnya fardhu kifayah.

Syeikh Abdurrahman As Sa’diy menyatakan,”Sepatutnya kaum muslimin mempersiapkan orang yang menegakkan setiap kemaslahatan umum mereka. Orang yang meluangkan seluruh waktunya  dan bersungguh-sungguh serta tidak bercabang, untuk mewujudkan kemaslahatan dan kemanfatan mereka. Hendaklah arah dan tujuan mereka semuanya satu, yaitu menegakkan kemaslahatan agama dan dunianya” (As Sa’diy, Taisir Karimir Rahman, 3/315, lihat Hakikat Amar Ma’ruf Nahi Mungkar, hal. 43).

c. Tidak semua orang dapat menegakkan amar ma’ruf nahi mungkar. Karena orang yang menegakkannya harus memiliki syarat-syarat tertentu. Seperti mengetahui hukum-hukum syari’at, tingkatan amar makruf nahi mungkar, cara menegakkannya, kemampuan melaksanakannya. Demikian juga dikhawatirkan bagi orang yang beramar ma’ruf nahi mungkar bila tanpa ilmu akan berbuat salah. Mereka memerintahkan kemungkaran dan mencegah kema’rufan atau berbuat keras pada saat harus lembut dan sebaliknya.

d. Firman Allah Ta’ala:

الذِّيْنَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِيْ اْلأَرْضِ أَقَامُوْا الصَّلاَةَ وَءَاتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلهِ عَاقِبَةُ اْلأُمُوْرِ

(yaitu)orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allahlah kembali segala urusan. (QS. 22:41)

Imam Al Qurthubiy berkata,”Tidak semua orang diteguhkan kedudukannya dimuka bumi, sehingga hal tersebut diwajibkan secara kifayah kepada mereka yang diberi kemampuan untuknya” (Al Qurthubi, Tafsir Qurthubi, 4/165).

Oleh karena itu Syeikh Islam Ibnu Taimiyah menyatakan,”Demikian kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar. Hal ini tidak diwajibkan kepada setiap orang, akan tetapi merupakan fardhu kifayah” (Ibnu Taimiyah, Al Amr Bil Makruf wan Nahi ‘Anil Mungkar, hal.37).

Akan tetapi hukum ini bukan berarti menunjukkan bolehnya seseorang untuk tidak berdakwah, atau beramar makruf nahi mungkar.  Karena terlaksananya fardhu kifayah ini dengan terwujudnya pelaksanaan kewajiban tersebut. Sehingga apabila kewajiban tersebut belum terwujud pelaksanaannya oleh sebagian orang, maka seluruh kaum muslimin terbebani kewajiban tersebut.

Pelaku amar makruf nahi mungkar adalah orang yang menunaikan dan melaksanakan fardhu kifayah. Mereka memiliki keistimewaan lebih dari orang yang melaksanakan fardhu ‘ain. Karena pelaku fardhu ‘ain hanya menghilangkan dosa dari dirinya sendiri, sedangkan pelaku fardhu kifayah menghilangkan dosa dari dirinya dan kaum muslimin seluruhnya. Demikian juga fardhu ‘ain jika ditinggalkan, maka hanya dia saja yang berdosa, sedangkan fardhu kifayah jika ditinggalkan akan berdosa seluruhnya.

Pendapat ini Insya Allah pendapat yang rajih. Wallahu a’lam.

Amar makruf nahi mungkar dapat menjadi fardhu ‘ain, menurut kedua pendapat di atas, apabila :

Pertama, Ditugaskan oleh pemerintah.

Al Mawardi menyatakan,”Sesungguhnya hukum amar makruf nahi mungkar fardhu ‘ain dengan perintah penguasa”.( Al Mawardi, Al Ahkam Sulthaniyah, hal.391, dinukil dari Hakikat Amar Ma’ruf Nahi Mungkar hal.50).

Kedua, Hanya dia yang mengetahui kema’rufan dan kemungkaran yang terjadi.

An Nawawiy berkata,”Sesungguhnya amar makruf nahi mungkar fardhu kifayah. Kemudian menjadi fardhu ‘ain, jika dia berada ditempat yang tidak mengetahuinya kecuali dia”. (An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, 2/23).

Ketiga, Kemampuan amar makruf nahi mungkar hanya dimiliki orang tertentu.

Jika kemampuan menegakkan amar makruf nahi mungkar terbatas pada sejumlah orang tertentu saja, maka amar makruf nahi mungkar menjadi fardhu ‘ain bagi mereka.

An Nawawi berkata,”Terkadang amar makruf nahi mungkar menjadi fardhu ‘ain, jika berada di tempat yang tidak mungkin menghilangkannya kecuali dia. Seperti seorang yang melihat istri atau anak atau budaknya berbuat kemungkaran atau tidak berbuat kema’rufan”.( An Nawawiy, Syarah Shahih Muslim, 2/23).

Keempat, Perubahan keadaan dan kondisi.

Syeikh Abdul Aziz bin Baaz memandang amar makruf nahi mungkar menjadi fardhu ‘ain dengan sebab perubahan kondisi dan keadaan, ketika beliau berkata, “Ketika sedikitnya para da’i. Banyaknya kemungkaran dan kebodohan yang merata, seperti keadaan kita sekarang ini, maka dakwah menjadi fardhu ‘ain atas setiap orang sesuai dengan kemampuannya”. (Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz, Ad Dakwah Ila Allah wa Akhlaqud Du’at, hal. 16).

Semoga bermanfaat.

Download dan Baca Artikel dalam versi PDF : Hadits Tata Cara Membersihkan Tanah Dari Najis 1 dan 2

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/URrQa

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

lampu-pemimpin

Ringkasan Fikih Islam : Keutamaan Penguasa yang Adil dan Ancaman bagi Penguasa yang Zalim

Keutamaan Penguasa yang Adil dan Ancaman bagi Penguasa yang Zalim Firman Allah Subhanahu Wata’ala : ...