Home / Brankas / Masail dari Hadits Mensucikan Bejana Terkena Liur Anjing

Masail dari Hadits Mensucikan Bejana Terkena Liur Anjing

5. Masaa’il

ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya : Mensucikan Bejana Terkena Liur Anjing

 Ada beberapa masalah terkait dengan hadits ini, diantaranya:

    1.  Apakah tambahan kata (فليرقه) shahih ataukah tidak?

Sebagian ahli hadits melemahkan lafazh (فليرقه) yang ada dari jalur periwayatan Ali bin Mushir dari al-A’masy dari Abu Razien dan Abu Shalih dari Abu Hurairoh. Imam Muslim mengisyaratkan bersendirinya Ali bin Mushir dalam meriwayatkan lafazh ini. Imam an-Nasa’i menyataka: Saya tidak mengetahui ada seorang yang mendampingi Ali bin Mushir atas riwayat (فليرقه). (Sunan an-nasaa’i 1/53). Demikian juga semakna dengannya disampaikan Ibnu Mandah (lihat fathu al-baari 1/331)

Imam al-Iraqi rahimahullah menyatakan: Ini tidak merusaknya, karena tambahan dari tsiqah (ziyadah tsiqah) diterima menurut  pendapat mayoritas ulama…. Ali bin Mushir ini telah ditsiqahkan oleh Ahmad bin hambal, Yahya bin Ma’in, al-‘ijli dan selain mereka. Beliau seorang huffazh yang dijadikan sandaran oleh syeikhoin (al-Bukhori dan Muslim). Saya tidak tahu ada seorang yang mencelanya, sehingga kesendiriannya tersebut tidak berpengaruh. (Tharhu at-tatsrieb 2/121).

Sedang ibnu al-mulaqqin menyatakan: Kesendiriannya dalam meriwayatkan hal ini tidak bermasalah; karena  Ali bin Mushir adalah seorang imam, hafizh yang disepakati ketakwaannya dan jadi hujjah. Oleh karena itu ad-Daraquthni menyatakan setelah menyampaikan riwayat ini: Sanadnya hasan dan para perawinya Tsiqah (lihat Sunan ad-daraquthni 1/64). Ini juga diriwayatkan imamul aimmah Muhammad bin ishaq bin Khuzaimah dalam shahihnya (Shahih ibnu Khuzaimah no. 98) dan lafazhnya (فليهرقه) dan zhahir riwayat ini adalah kewajiban menumpahkan air dan makanan…. (syarhu al-Umdah 1/306 dan al-Badru al-Munir 2/325).

Hadits dengan tambahan ini dihukumi shahih oleh syeikh al-Albani dalam Irwa’ al-Ghalil no. 167.o

    2.  Hukum Air Yang Terkena Liur Anjing.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum air yang terkena liur anjing dalam beberapa pendapat:

Pertama: Airnya Najis, oleh karena itu ada perintah membuangnya. Inilah pendapat madzhab Hanafiyah, Syaafi’iyah dan Hanabilah serta riwayat dari imam Maalik rahimahullah. Imam an-Nawawi rahimahullah menisbatkannya kepada Mayoritas ulama, dalam pernyataan beliau: hadits ini berisi kenajisan semua yang dijilat anjing. Kalau berupa makanan cair maka haram memakannya; karena membuangnya adalah menyia-nyiakannya, seandainya hal itu suci tentu tidak memerintahkan kita untuk mmbuangnya, apalagi adanya larangan membuang-buang harta. Inilah madzhab kami dan madzhab mayoritas ulama bahwa najis semua yang terkena liur anjing tanpa membedakan antara anjing yang diizinkan kepemilikannya dan sealiannya. Baik anjing pedalaman atau perkampungan karena keumuman lafazhnya. (Syarh Shahih Muslim 3/184).

Kedua: Airnya tetap suci, karena perintah mencuci dengan bilangan tujuh dan menggunakan tanah adalah bersifat ta’abbud atau difahami untuk keadaan khusus yaitu anjingnya kena penyakit rabies. Ini adalah salah satu riwayat dari imam Maalik dan ini didasarkan pada pendapat kesucian anjing, yang akan dibahas pada masalah yang akan datang.

Ketiga: Membedakan antara anjing yang diizinkan kepemilikannya dengan yang tidak. bila diizinkan kepemilikannya maka suci dan bila tidak maka najis.

Keempat: Membedakan antara anjing pedalaman dengan perkotaan. Ini dinukilkan dari imam AbdulMalik ibnu Maajisyun al-Maaliki. Pendapatini jelas lemahnya.

Kelima: Airnya tidak najis kecuali bila berubah sifatnya karena jilatan anjing. Perubahan tersebut karena tercampurnya liur dengan air dan kadang berubah baunya.

Pendapat ini cukup kuat karena memasuki masalah ini dengan kaedah umum yang telah kita tetapkan terdahulu yaitu air apabila berubah salah satu sifatnya atau lebih karena tercampur najis maka menjadi najis, baik jumlahnya banyak atau sedikit. Semua yang tidak terjadi perubahan sifat dan tidak tampak pengaruh najisnya maka airnya tetap suci seperti sifat asalnya. Sehingga masalah ini masuk dalam kaedah umum yang telah disampaikan dalam pembahasan terdahulu.

Adapun hadits yang kita bahas tentang jilatan anjing di bejana, maka bejana yang dijilati anjing umumnya kecil dan sangat memungkinkan tampak pengaruh najisnya. Oleh karena itu Syeikhul Islam ibnu Taimiyah berkata dalam Majmu’ al-Fatawa (21/531): Susu apabila dijilati anjing dan jumlahnya banyak, maka tidak najis.

Wallahu a’lam.

    3.  Hukum Membuang Air Yang dijilat Anjing.

Para ulama berbeda pendapat tentang kesucian air yang terkena jilatan anjing sebagaiman diatas. Juga berbeda pendapat dalam hukum membuang air yang terkena jilatan anjing, apakah wajib membuangnya karena kenajisannya atau tidak wajib kecuali bila ingin menggunakan bejana tersebut?

Pertama: Tidak wajib membuang airnya, tapi hanya sunnah saja hukumnya. Apabila ingin menggunakan bejana tersebut maka membuang airnya, karena liurnya najis seperti najis-najis lainnya. Apabila tidak ingin menggunakannya dan membiarkannya maka tidak berdosa. Inilah pendapat mayoritas ulama dan dinisbatkan imam an-Nawawi kepada mayoritas ulama syafi’iyah (Syarah Shahih Muslim 3/185).

Kedua: membuang airnya wajib dengan segera walaupun tidak ingin menggunakan bejana itu karena kenajisan airnya dikarenakan adanya perintah membuangnya. Inilah madzhab Zhahiriyah (al-Muhalla 1/142) dan sebagian ulama Syafi’iyah (lihat al-Majmu’ 2/588 dan fahul Bari 1/ 275) dan selain mereka.

     4.  Jumlah pencucian.

Para ulama berbeda pendapat tentang jumlah cucian bejana yang terkena jilatan anjing dalam dua pendapat:

Pertama: wajib dicuci tujuh kali. Inilah pendapat mayoritas ulama diantaranya pendapat yang masyhur dalam madzhab Malikiyah, pendapat imam as-Syafii, Ahmad dan madzhab Zhahiriyah.

Mereka mengambil makna tekstual dari hadits Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu diatas, dimana ada perintah mencuci tujuh kali dan perintah menunjukkan kewajiban tanpa adanya indikator kuat mengalihkan dari penunjukkan kewajiban tersebut.

Kedua: tidak membedakan antara mencuci dari najis liur anjing dengan najis-najis lainnya yang tidak disyaratkan dalam menghilangkannya bilangan tertentu. Inilah pendapat imam Abu Hanifah (lihat Syarah Ma’aanil Atsar ath-Thahawi 1/22) dengan membawa perintah dalam hadits kepada hukum sunnah saja. Pendapat ini berargumentasi dengan beberapa alasan:

1.  Fatwa Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan imam ath-Thahawi dalam Syarh Ma’ani al-Atsar 1/23 dan ad-Daraquthni dalam sunannya 1/66 dari jalan Abdulmalik bin Abi Sulaiman dari ‘Atha dari Abu Hurairoh tentang bejana yang dijilati anjing atau kucing, beliau menjawab: Dicuci tiga kali. Imam ad-daraquthni berkata: ini mauquf (pernyatan Abu Hurairoh) yang tidak diriwayatkan selain Abdulmalik dari Athaa dari Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu bahwa apabila anjing menjilat bejana, maka beliau buang airnya dan mencucinya tiga kali.

Al-Baihaqi berkata: fatwa ini tidak diriwayatkan kecuali dari Abdulmalik. Abdulmalik ini tidak diterima semua riwayatnya yang menyelisihi para tsiqat. Lalu berkata: Yang benar adalah hadits Abu Hurairoh karena jalan periwayatannya shahih dan sanadnya kuat. (lihat al-Ma’rifah 2/311-312 dan as-Sunan al-Kubra 1/242).

2.  Mereka menganalogikan dengan kencing dan kotoran manusia yang –menurut mereka- lebih berat dan tidak ada perintah wajib dengan bilangan tertentu mencucinya.

3.  Juga berdalil dengan hadits Abdullah bin Mughaffal radhiyallahu ‘anhu yang mencuci delapan kali.

Pendapat yang rojih adalah pendapat mayoritas ulama yang mewajibkan mencucinya tujuh kali, karena keabsahan hadits dari Abu Hurairoh radhiyallahu anhu dan yang lainnya. Seandainya anggap benar bahwa fatwa Abu Hurairoh radhiyallahu anhu didahulukan atas riwayatnya, lalu bagaimana dengan riwayat lainnya seperti riwayat Abdullah bin Mughaffal dan Ibnu Abaas?

Lalu ada masalah yang terfahami dari hadits Abdullah bin Mughaffal bahwa mencucinya delapan kali, karena lafazh :

 «وَعَفِّرُوْهُ الثَّامِنَةَ بِالتُّرَابِ» sehingga ini menjadi dasar wajibnya mencuci delapan kali. Ibnu Abdilbarr menyatakan:

(بهذا الحديث كان يفتي الحسن البصري، أن يُغسل الإناء سبع مرات والثامنة بالتراب، ولا أعلم أحداً كان يفتي بذلك غيره)

Dengan dasar hadits ini al-Hasan al-bashri berfatwa mencuci bejana tujuh kali dan kedelapannya dengan menggunakan debu (tanah). Saya tidak mengetahui ada yang berfatwa demikian selain beliau. (at-tamhied 18/266). Nampaknya ibnu Abdilbarr menginginkan ulama-ulama terdahulu. Padahal ini juga pendapat yang diriwayatkan dari imam Ahmad, seperti dalam al-Mughni 1/73 dan dari Imam Maalik seperti dijelaskan dalam kitab at-talkhish 1/36)

Di antara ulama ada yang merojihkan hadits Abu Hurairoh dan cuciannya hanya 7 kali. Mereka menjawab hadits Ibnu Mughaffal dengan beberapa jawaban:

  1. Cucian dijadikan delapan, karena tanah (debu) satu jenis bukan termasuk air, sehingga menjadikan bersatunya air dengan tanah dalam satu cucian dihitung dua. Sekan-akan tanah menduduki posisi satu cucian sehingga disebut kedelapan.
  2. Abu Hurairoh orang yang paling hafal hadits dizamannya, sehingga riwayatnya lebih didahulukan.

Diantara ulama ada yang merojihkan hadits Ibnu Mughaffal; karena beliau menambah cucian kedelapan. Tambahan ini diterima khususnya dari beliau. Hal ini tidak mengapa karena mengamalkan pengertian yang terfahami dari nash dan berisi pengertian kehati-hatian.

Yang rojih pendapat pertama yang mewajibkan mencucinya sebanyak tujuh kali. Wallahu a’lam.

  1. Urutan pencucian dengan tanah (debu).

Disebutkan posisi pencucian dengan tanah dalam hadits-hadits yang kita bahas ini dalam beberapa sisi. Ada riwayat : «أُولاهن بالتراب»  , ada juga dengan lafazh: «وعفروه الثامنة بالتراب»   dan ada juga :  أولاهن أو أخراهن   serta ada juga dengan lafazh: «إحداهن» sedangkan dalam riwayat ath-Thahawi (Syarah Musykil al-Atsar 1/21) dengan lafazh: أولاها ـ أو السابعة ـ بالتراب . Ini semua tidak masalah dan tidak mengharuskan untuk menghilangkan pensyariatan penggunaan tanah hanya karena adanya perbedaan-perbedaan ini, sebagaimana pendapat madzhab hanafiyah dan Malikiyah (lihat Syarhu al-‘Umdah karya ibnul Mulaqqin 1/308 dan Tharhu At-tatsrieb 2/129-130). Hal ini karena masih bisa dirojihkan dengan merojihkan lafazh (أُولاهن) ; karena ia adalah riwayat Abu Hurairoh dari jalan periwayatan Muhammad bin Sirin. Riwayat ibnu Sirin ini dibawakan oleh tiga perawi yaitu Hisyam bin Hisaan, Habieb bin asy-Syahied dan Ayub as-Sakhtiyaani. Imam Muslim mengeluarkan riwayat ini dari riwayat Hisyam. Riwayat ini rojih dengan tiga hal:

  1. Banyak perawinya
  2. Salah seorang dari syeikhain (al-Bukhori dan Muslim) mengeluarkannya.
  3. Dari sisi pengertiannya; karena pencucian dengan tanah lebih pas kalau pertama sebab dibutuhkan setelah pencucian dengan air yang menghilangkan sisa tanah tersebut. Beda kalau dijadikan yang ketujuh maka ia membutuhkan pencucian lagi setelahnya.

Adapun riwayat at-tirmidzi yang berbunyi:أولاهن أو أُخراهن  apabila ia berasal dari pernyataan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam maka ini menunjukkan adanya pilihan antara keduanya. Apabila itu keraguan dari sebagian perawi maka terjadilah satu hal yang kontradiktif, sehingga kembali kepada tarjih dan yang rojih adalah yang pertama sebagaimana diatas. Diantara indikator ini adalah keraguan dari perawi hadits adalah adanya riwayat lain dalam sunan at-tirmidzi dengan lafazh: أولاهن ـ أو قال: أخراهن ـ بالتراب

Sedangkan riwayat (إحداهن) hal ini tidak ada dalam kutubussittah, adanya pada sunan ad-Daraquthni dan al-bazaar (lihat al-badru al-Munir 2/330). Hal ini tidak bertentangan dengan riwayat sebelumnya karena ia tidak ada penentuan bisa di yang pertama atau yang lainnya. Sehingga difahami dengan riwayat (أولاهن).

Demikian juga dengan hadits وعفروه الثامنة بالترابmaka kedelapan ini ditinjau pada tambahan atas tujuh kali cucian memakai air bukan sebagai yang terakhir. Dengan demikian inipun tidak menyelisihi riwayat-riwayat diatas.

  5.  Kewajiban Menggunakan Tanah Dalam Mensucikan Bejana Terkena Jilatan Anjing

Para ulama berbeda pendapat tentang kewajiban menggunakan tanah pada salah satu dari tujuh cucian tersebut :

Pertama: Wajib menggunakan tanah. Inilah pendapat madzhab Syafi’iyah (al-Umm 1/6) dan Hanabilah (al-Muharrar 1 /4).

Imam an-Nawawi berkata dalam syarh Shahih Muslim 1/185 : Madzhab kami dan madzhab mayoritas ulama bahwa yang dimaksud dengan cucilah tujuh kali dam salah satunya adalah dengan tanah dicampur air.

Kedua: Tidak wajib menggunakan tanah. Inilah pendapat madzhab Malikiyah dan Hanafiyah. Adapun Hanaiyah memahami perintah mencuci tujuh kali dan dengan tanah sebagai sunnah tidak wajib. (lihat Syarh Ma’ani al-Atsar 1/22-24).  Sedangkan Malikiyah memandang kewajiban tujuh kali namun tidak mewajibkan menggunakan tanah dalam salah satu cuciannya.

Pendapat yang rojih pendapat mayoritas ulama. wallahu a’lam.

6.  Kenajisan Anjing

 Para ulama berbeda pendapat tentang kenajisan Anjing dalam tiga pendapat, sebagaimana disampaikan Syeikhul Islam ibnu taimiyah :

“Adapun anjing, para ulama terbagi atas tiga pendapat : Pertama. Bahwa anjing najis seluruhnya termasuk bulunya, inilah pendapat Asy Syafi’i dan Ahmad. Kedua. Bahwa anjing adalah suci termasuk liurnya inilah pendapat yang masyhur (terkenal) dari Malik. Ketiga. Bahwa liurnya adalah najis, dan bulunya adalah suci, inilah madzhab yang masyhur dari Abu Hanifah, dan inilah riwayat yang didukung oleh mayoritas pengikutnya, dan inilah riwayat lain dari Ahmad. Inilah pendapat yang lebih kuat.” (Majmu’ al Fatawa, 5/51)

Berikut perincian pendapat-pendapat tersebut:

Pertama: Anjing itu suci semuanya hingga air liurnya juga suci. Ini adalah riwayat yang masyhur dari imam Maalik (lihat al-Jaami’ Liahkaamil Qur`an karya al-Qurthubi 13/45) dan ini juga satu riwayat dalam madzhab Hanabilah. (lihat al-Inshaaf 1/310).

Di antara argumen pendapat ini adalah:

1.  Mereka juga berdalil dengan firman Allah Ta’ala:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ وَمَا عَلَّمْتُمْ مِنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

 “Mereka menanyakan kepadamu: “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?”. Katakanlah: “Dihalalkan bagimu yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang buas yang telah kamu ajar dengan melatih nya untuk berburu; kamu mengajarnya menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah dari apa yang ditangkapnya untukmu, dan sebutlah nama Allah atas binatang buas itu (waktu melepaskannya). dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat cepat hisab-Nya.” (Al Maidah : 4). Hal ini karena hewan buruan itu mesti terkena liur anjing, sehingga penghalalannya menunjukkan kesucian air liurnya. Apalagi tidak ada perintah untuk mencuci bagian yang tersentuh mulut anjing pada hewan buruan tersebut. (lihat ‘Aridhatul Ahwadzi, Ibnul Arabi 1/35).

2.  Mereka mengatakan bahwa perintah basuhan tujuh kali untuk bejana yang diminum airnya atau dijilat oleh anjing adalah untuk ta’abud (ibadah) dan tidak ada kaitannya dengan kenajisan anjing. Mereka berpendapat sedemikian dengan merujuk kepada lain-lain hadis Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang membenarkan penggunaan anjing terlatih untuk berburu dan tiadalah seekor anjing memburu dan membunuh mangsanya melainkan melalui gigitan mulutnya. (lihat Subulus Salam, ash-Shan’ani 1/22)

3.  Kalaupun itu tidak ta’abbudi ada kemungkinan anjing yang menjilat bejana tersebut terkena penyakit rabies sehingga ditakutkan racunnya berbahaya, oleh karena itu dicuci tujuh kali. Syariat juga menggunakan hitungan bilangan tujuh untuk pengobatan dan terapi dari penyakit seperti sabda rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ تَصَبَّحَ سَبْعَ تَمَرَاتِ عَجْوَةٍ لَمْ يَضُرُّهُ ذَلِكَ الْيَوْمَ سَمٌّ وَلاَ سِحْرٌ

Siapa yang dipagi hari makan tujuh kurma ajwa’ maka tidaklah racun dan sihir merugikannya pada hari tersebut. (Muttafaqun ‘alaihi).

Alasan-alasan ini dikritisi oleh sebagian ulama, di antaranya:

Ibnu Daqqiqil ‘Ied berkata dalam Ihkaam al-Ahkaam 1/27 : membawa kepada kenajisannya lebih pas; karena bila satu hukum berkisar antara sifatnya ta’abbud (tidak dapat dicerna akal) dengan dapat dicerna akal pengertiannya (Ma’qul al-Ma’na), maka membawanya kepada y ang dapat dicerna akal lebih pas, karena langkanya ta’abbud dibandingkan kepada hukum-hukum yang dapat dicerna secara akal.

Ibnu Qudamah dalam al-Mughni 1/42 berkata: Seandainya itu bersifat ta’abbudiyah tentulah tidak memerintahkan untuk dibuang airnya dan tentunya tidak ada pengkhususan mencuci bagian yang terkena jilatan karena keumuman lafazh pada bejana semuanya…

4.  Perkataan Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anha :

كَانَتْ الْكِلَابُ تُقْبِلُ وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ

Anjing-anjing keluar masuk masjid di zaman Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam lalu mereka tidak menyiram sedikitpun darinya. (HR al-Bukhari 1/51)

Dalam riwayat Ibrahim bin Ma’qil dalam shahih al-Bukhari:

كَانَتْ الْكِلَابُ تَبُوْلُ وَ تُقْبِلُ وَتُدْبِرُ

 Anjing kencing dan keluar masuk.

Tambahan kata (تَبُوْلُ) hanya ada dalam naskah ibnu Hajar dan beliau berkata: hadits Ahmad bin Syabib dari bapaknya bersambung dalam riwayat Abu Nu’aim dalam al-Mustakhrajnya dan al-Baihaqi dan selainnya (lihat Haadi as-Saari hlm 24). Demikian juga al-Haafizh menjelaskan dalam Taghliq at-ta’liq 1/109 : Lafazh tambahan ini tidak ada dalam naskah-naskah ash-Shahih, namun disampaikan al-Ashili bahwa dalam riwayat Ibrohim bin ma’qil an-Nasafi ada lafazh: (تَبُوْلُ وَ تُقْبِلُ وَتُدْبِرُ).

Pendapat ini menyatakan riwayat ini menunjukkan kesucian anjing, khususnya Ibnu Umar Radhiyallahu ‘anhuma menyandarkannya kepada zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga zhahirnya menunjukkan kesucian bekas anjing; karena kebiasaan anjing adalah mengikuti bekas-bekas makanannya. Sebagian sahabat dahulu tidak memiliki rumah dan tinggal dimasjid, sehingga liur anjing akan menempel pada sebagian dari masjid. (lihat Syarhu al-Bukhari karya Ibnu Bathaal 3/268).

Hal ini memiliki kelemahan ; karena madzhab Malikiyah sendiri sepakat dengan mayoritas ulama tentang kenajisan kencing anjing. Sehingga zhahirnya hadits ibnu Umar bahwa anjing kencing di masjid dan tidak disiram kencingnya,  mungkin itu terjadi diawal keadaan yang berdasar kepada asal kesucian, kemudian ada perintah untuk memuliakan masjid. Dengan demikian terjawab argumen tentang kesucian anjing ini.

Atau bisa dijawab dengan adanya matahari khususnya di Madinah yang sangat panas bisa mensucikan tempat sehingga ada dalil buat orang yang menyatakan bahwa najis suci dengan perubahan. Apabila hilang bekas kencing dan baunya sehingga tidak ada sisanya maka tempat tersebut sudah suci.

5.  Sebagian ulama yang berpendapat kesucian anjing berargumentasi dengan menganalogikan anjing dengan kucing, karena nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan kesucian bekas kucing dengan alas an kucing termasuk yang selalu berada disekitar manusia (ath-Thawaafun ‘alaihim)..

Kedua: seluruh bagian tubuh anjing sebagai najis.

Dalam fiqh empat mazhab al Jaziri disebutkan tentang penetapan kalangan syafi’iyah bahwa seluruh badan anjing adalah najis. (Fiqh ‘ala mazhabil arba’ah,1/18)

Dan pendapat ini pula yang dipegang oleh sebagian besar ulama kalangan Hanbaliyah. (Lihat Fiqh al-Islami wa ‘Adilatuhu,1/305, Mughni Al-Muhtaj, 1/78, Kasy-syaaf Al-Qanna` 1/ 208, Al-Mughni 1/52)

Di antara argumen Pendapat ini adalah:

1.  hadits yang kita bahas, sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ.

“Sucinya bejana kamu yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.” (Mutafaqqun ‘alaih). Sisi pendalilannya:

2.  Laafazh (طُهُورُ) tidak ada kecuali dari hadats atau najis dan tidak mungkin ada hadats dalam bejana sehingga musti dari najis.

3.  Perintah mencuci bejana padahal liur mengenai air; sebab seandainya mengenai bejananya tentulah dikatakan: Apabila anjing menjilat bejana .

Imam Ash Shan’ani Rahimahullah berkata : “perintah membasuh bejana adalah karena liurnya anjing, hal ini menunjukkan zhahir (isyarat nyata) bahwa Mulut anjing adalah najis (karena tempat melekatnya air liur). Ketika dia menjilati seluruh badannya maka itu menjadi qiyas (atas kenajisan seluruh badannya).”  (Subulus Salam, 1/22)

4.  Perintah membuang air menunjukkan kenajisannya air liur.

5.  Apabila ini adalah hukum air liur anjung dan air liur adalah yang paling mulia padanya maka bila menjadi najis maka selainnya lebih pas untuk menjadi najis.

6.  Mereka mengatakan : Perintah dalam hadits untuk membasuh bejana ketika anjing menjilatnya menunjukkan bahwa apa yang terbit dari anjing adalah benar-benar najis yang berat. Jika tidak demikian, tentu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam cukup memerintahkan untuk membuang sisa  air yang diminum anjing tersebut. Sehingga kalangan yang memegang pendapat ini menyatakan,  adalah tidak mungkin najisnya anjing hanya berasal dari mulut dan air liurnya saja. Sebab sumber air liur itu dari badannya. Maka badannya itu juga merupakan sumber najis. Termasuk air yang keluar dari tubuh itu juga, baik kencing, kotoran dan juga keringatnya. Lagi pula anjing memiliki kebiasaan menjilat-jilat tubuhnya, sehingga tubuhnya terlumuri oleh liurnya yang najis.

Ketiga: Air liur anjing yang najis dan tubuhnya tidak najis.

Pendapat yang  menghukumi bahwa yang najis dari anjing hanyalah air liurnya saja, sedangkan  anggota tubuh lainnya adalah suci, ini adalah pendapat jumhur (mayoritas) ulama. (Lihat Fiqh ‘Ala Mazhabil ‘Arba’ah, 1/18, Majmu’ al Fatawa, 5/51 dan lainnya)

Di antara argumen pendapat ini adalah

Berikut ini diantara pernyataan ulama yang memegang pendapat ini :

1. Sabda Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam:

طُهُورُ إِنَاءِ أَحَدِكُمْ إِذَا وَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ أَنْ يَغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ، أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ.

“Sucinya bejana kamu yang dijilat anjing adalah dengan cara mencucinya sebanyak tujuh kali dan yang pertama dengan tanah.” (Mutafaqqun ‘alaih).

Hadits ini menunjukkan bejana menjadi najis dengan sebab air liur.

Sama dengan pendapat yang kedua dalam kenajisan air liur

2. Perintah untuk mencucinya tujuh kali dalam riwayat Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘anhu dan delapan kali dalam riwayat Ibnu al-Mughaffal salah satunya dengan tanah adalah dalil kenajisan air liur anjing.

3. Al-Haafizh ibnu Hajar membawakan hadits Ibnu Abbas yang jelas-jelas menunjukkan mencuci dari jilatan anjing karena najis. Hadits ini diriwayatkan oleh Muhammad bin Nashr al-Marwazi dengan sanad yang shahih. Al-Haafzh menyatakan: Dengan sanad yang sahih dan tidak ada seorangpun dari shabat yang menyelisihinya. (Fathul Bari 1/276).

4.  Sabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam riwayat imam Muslim (فَلْيُرِقْهُ) menguatkan pendapat yang menyatakan kenajisan air liur anjing ini karena mencucinya disebabkan najis, karena membuangnya lebih umum dari bentuk air atau makanan. Seandainya suci tentulah tidak diperintahkan untuk membuangnya karena berisi pembuangan harta. Kadang yang dibuang adalah air yang dibutuhkan untuk wudhu atau mandi.

5.  Sedangkan kesucian bulu anjing, dijelaskan ibnu Taimiyah dalam Majmu’ al-Fatawa 21/38-39 : Bulu anjing dan babi apabila terendam di air tidak mengapa menurut pendapat rojih dari dua pendapat para ulama, karena ia suci menurut dalah satu pendapat mereka dan itu adalah salah satu riwayat (dalam mazhab Hambali). Inilah pendapat yang rojih dalam dalil, sebab semua rambut, bulu dan wol suci baik ada dikulit hewan yang dimakan dagingnya atau kulit hewan yang tidak dimakan dagingnya. Baik dalam keadaan hidup atau telah mati. Inilah pendapat yang rojih dari pendapat para ulama dan ini juga salah satu riwayat dari Ahmad bin hambal.

Pendapat yang rojih,

Ibnu Taimiyah rahimahullah merojihkan pendapat ketiga ini dengan menyatakan: Ini adalah pendapat yang rojih (lihat Majmu’ al-Fatawa 21/39 dan juga di 21/530).

7.  Apakah Babi Dianalogikan Kepada Anjing…?

Para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini dalam dua pendapat:

Pertama : Babi dianalogikan kepada Anjing. Inilah pendapat madzhab Syafi’i dalam al-jadid (lihat al-majmu’ 2/58) dan pendapat yang shahih dari madzhab Hanabilah.

Kedua : Tidak dianalogikan. Inilah pendapat Mayoritas Ulama.  Imam an-Nawawi berkata: Mayoritas ulama berpendapat Babi tidak butuh mencucinya tujuh kali. Ini adalah pendapat imam asy-Syafi’i dan ini kuat dalam dalil (Syarh Shahih Muslim 3/185).

Demikian beberapa masalah fikih seputar hadits ini, semoga bermanfaat.

Download artikel ini versi PDF : Mensucikan Bejana Terkena Liur Anjing

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/wB2LW

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

lampu-pemimpin

Ringkasan Fikih Islam : Keutamaan Penguasa yang Adil dan Ancaman bagi Penguasa yang Zalim

Keutamaan Penguasa yang Adil dan Ancaman bagi Penguasa yang Zalim Firman Allah Subhanahu Wata’ala : ...