Home / Brankas / Kawin Suntik Pada Sapi

Kawin Suntik Pada Sapi

Ternak-Sapi-Perah-600x300Pertanyaan :

Assalamu’alaikum

Ustadz, di tempat ana lagi marak usaha ternak sapi, yang ana mau tanyakan, jika sapi tersebut dikawin suntik apakah kawin suntik tersebut termasuk jual beli sperma yang dilarang?

Jazakumullahu khairan

Wassalam

A di Bumi Allah 085283228***

Jawab :

Tidak dipungkiri lagi usaha-usaha peternakan dewasa ini banyak mencari cara memperbanyak jumlah ternak dalam waktu singkat dan mudah. Sehingga muncullah perkara-perkara baru yang sebelumnya tidak dikenal dalam sejarah manusia.

Di antara upaya yang ada dewasa ini adalah kawin suntik yang dikenal dengan Inseminasi buatan (IB). Inseminasi buatan dijelaskan sebagai peletakan sperma ke follicle ovarian (intrafollicular), uterus (intrauterine), cervix (intracervical), atau tube fallopian (intratubal) betina dengan menggunakan cara buatan dan bukan dengan kopulasi alami. Ada juga yang mendefiniskannya dengan suatu cara atau teknik untuk memasukkan mani (sperma atau semen) yang telah dicairkan dan telah diproses terlebih dahulu yang berasal dari ternak jantan ke dalam saluran alat kelamin betina dengan menggunakan metode dan alat khusus yang disebut ‘insemination gun‘.

Teknik modern untuk inseminasi buatan banyak dikembangkan untuk industri ternak untuk tujuan beragam di antaranya :

  1. Memperbaiki mutu genetika ternak;
  2. Tidak mengharuskan pejantan unggul untuk dibawa ketempat yang dibutuhkan sehingga mengurangi biaya;
  3. Mengoptimalkan penggunaan bibit pejantan unggul secara lebih luas dalam jangka waktu yang lebih lama;
  4. Meningkatkan angka kelahiran dengan cepat dan teratur;
  5. Mencegah penularan / penyebaran penyakit kelamin.

Dahulu untuk mencapai tujuan di atas, sebagian orang menyewa pejantan yang berkualitas untuk jangka waktu tertentu agar mengawini induk betina yang dimilikinya. Ini dikenal dalam bahasa syari’at dengan “Asbu al-Fahl” sebagaimana disampaikan imam al-Bukhori rahimahullah dari sahabat Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma beliau berkata:

نَهَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ عَسْبِ الْفَحْلِ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melarang ‘Asbu al-fahl”. (HR al-Bukhori).

Para ulama berbeda pendapat tentang pengertian ‘Asbu al-fahl, ada yang menyatakan menjual sperma pejantan untuk mengawini betina dengan kopulasi alami, maka ini termasuk jual beli. Ada juga yang menafsirkannya dengan penyewaan pejantan untuk kawin dan ini termasuk sewa menyewa.

Ibnu Hajar menyatakan dalam kitab Fathu al-Baari: “Kesimpulannya menjual dan menyewakannya haram, karena tidak dapat dinilai dan diketahui jelas serta tidak mampu diserahkan”.

Hal ini jelas karena pejantan yang dibeli spermanya atau disewa untuk mengawini betina tesebut tidak jelas jumlah spermanya dan tidak pasti apakah akan mengawininya atau tidak. Sehingga illah (sebab pelarangan) adalah adanya gharar karena tidak jelas zat, sifat dan ukuran spermanya serta tidak mampu diserah terimakan.

Melihat illat yang disampaikan para ulama tentang larangan asbu al-fahl di atas maka Inseminasi Buatan (IB) atau kawin suntik yang umumnya sekarang ada lepas atau tidak memiliki ilat-ilat tersebut. Ini karena spermanya jelas zatnya, diketahui sifat dan ukurannya serta dapat diserah terimakan.

Dengan demikian maka asal hukumnya adalah boleh, namun sebagian ulama memakruhkannya karena menganalogikan hal ini kepada bekam atau hijamah. Hukum ini berlaku tentunya melihat kembali prakteknya yang ada di daerah saudara. Apakah tidak ada pelanggaran lainnya yang terjadi ataukah tidak?

Mudah-mudahan bermanfaat.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/kFv09

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

msjid mati lampu

Fatwa : Haruskah Mengulangi Adzan Jika Listrik Mati ?

Haruskah Mengulangi Adzan Jika Listrik Mati ? Fadhilatu Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin pernah ...