Home / Brankas / Hukum Transplantasi Organ Tubuh

Hukum Transplantasi Organ Tubuh

organHukum Transplantasi Organ Tubuh

Keputusan pertama dalam Muktamar kedelapan yang diadakan di Makkah dari tanggal 28 Rabiulakhir – 7 Jumada al-Ula 1405 H.

Segala puji hanya untuk Allah saja, semoga shalawat dan salam senantiasa dilimpahkan kepada Nabi yang tidak ada nabi setelahnya sayyidina dan nabi kita Muhammad.

Amma ba’du:

Majlis al-Majma’ al-Fiqh al-Islami dalam muktamar kedelapan yang diadakan di kantor pusat Rabithah al-‘Aalam al-Islami di Makkah Mukarramah yang dimulai hari Sabtu 28 Rabiulakhir sampai hari senin 7 Jumada al-Ula 1405 H bersesuaian dengan 19-28 Januari 1985 M telah meneliti masalah pengambilan organ manusia dan mentranspalantasi pada manusia lainnya yang sangat membutuhkan sekali organ tersebut, sebagai pengganti organ yang semisalnya yang telah tidak berfungsi. Transpalantasi ini termasuk hasil dari penemuan kedokteran modern . Kedokteran modern telah menghasilkan penemuan-penemuan penting dalam kedokteran melalui sarana modern. Penelitian ini dibuat berdasarkan permohonan yang diajukan kepada al-Majma’ al-Fiqh dari kantor Rabithah al-‘Aalam al-Islami di Amerika serikat.

Al-Majma’ telah melakukan penelitian terhadap penelitian yang disampaikan oleh fadhilah Ustadz asy-Syaikh Abdullah bin Abdurrahman al-Basaam dalam masalah ini dan isinya berupa perbedaan pendapat ulama kontemporer dalam kebolehan tranpalantasi organ serta pengambilan hukum dari setiap pendapat mereka. Setelah melakukan diskusi panjang antara anggota majlis al-majma’ , maka majlis memandang sisi pengambilan dalil pendapat yang membolehkan adalah yang rojih. Oleh karena itu majlis memberikan ketetapan akhir sebagai berikut:

Pertama: Mengambil organ dari tubuh orang hidup dan mencangkoknya pada tubuh orang lain (auto-transplantasi)yang sangat membutuhkannya untuk menyelamatkan kehidupannya atau untuk mengembalikan fungsi organ tubuh asasi adalah perbuatan yang diperbolehkan tidak berlawanan dengan kemulian manusia dari sudut orang yang diambil (donor atau pendonor) , sebagaimana juga ada maslahat besar dan bantuan kebaikan kepada orang yang menerimanya (resipien). Ini adalah perbuatan yang diperbolehkan dan terpuji apabila memenuhi syarat-syarat berikut ini:

  1. Tidak akan membahayakan kelangsungan hidup yang wajar bagi donatur jaringan/organ. Karena kaidah hukum Islam menyatakan bahwa suatu bahaya tidak boleh dihilangkan dengan resiko mendatangkan bahaya serupa/sebanding dan tidak boleh mendatangkan yang lebih besar lagi. Juga karena mendonor dalam keadaan demikian (memberi bahaya serupa atau lebih besar) termasuk dalam menjerumuskan jiwa kedalam kebinasaan. Ini jelas adalah perkara dilarang secara syariat.
  2. Hal itu harus dilakukan oleh donatur dengan sukarela tanpa paksaan dan tidak boleh diperjual belikan..
  3. Boleh dilakukan bila memang benar-benar transplantasi sebagai alternatif peluang satu-satunya bagi penyembuhan pasien yang benar-benar darurat.
  4. Boleh dilakukan bila kemungkinan berhasil transplantasi tersebut dapat dipastikan secara adat kebiasaan atau dengan persentase sangat besar.

Kedua: tranpalantasi ini dianggap lebih boleh secara syar’i dalam keadaan berikut ini:

  1. Pengambilan organ dari tubuh orang yang telah mati untuk menyelamatkan orang lain yang sangat membutuhkannya dengan syarat orang yang diambil (pendonor) mukallaf dan telah memberikan izin ketika masa hidupnya.
  2. Diambil dari organ semua hewan yang boleh dimakan dagingnya dan disembelih secara mutlak atau selainnya ketika dalam keadaan darurat untuk di tranpalantasi pada orang yang sangat membutuhkannya.
  3. Pengambilan organ dari tubuh orang untuk dicangkokkan atau dipasang ditubuhnya sendiri, seperti memotong sebagian dari kulitnya atau tulangnya untuk dipasang di bagian lainnya dari tubuhnya ketika dibutuhkan.
  4. Memasang alat tambahan dari jenis tambang atau bahan lainnya pada tubuh manusia untuk pengobatan keadaan pasien tertentu seperti persendian, ring jantung dan selainnya. Semua empat keadaan ini dipandang majlis kebolehannya dengan syarat-syarat di

Telah ikut serta dalam majlis ini sejumlah dokter untuk mendiskusikan masalah ini; mereka adalah:

  1. as-Sayyid Muhammad Ali al-Baar
  2. Abdullah Basalamah
  3. Kholid Amin Muhammad Hasan
  4. Abdulma’bud ‘Amaaroh as-Sayyid
  5. Abdullah Jum’at
  6. Ghazi al-Haajim

Semoga shalawat dan salam yang banyak kepada sayyidina Muhammad dan keluarganya dan alhamdulillahi rabb al-‘Aalamin.

Yang menandatangani:

  1. Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz (ketua)
  2. Abdullah bin Umar Nashif (wakil ketua)
  3. Abdullah bin Abdurrahman al-Basaam (anggota)
  4. Shalih bin fauzan bin Abdillah al-fauzaan (anggota)
  5. Muhammad bin Abdullah bin Sabiil (anggota)
  6. Mushthafa Ahmad az-Zarqaa’ (anggota)
  7. Muhammad Mahmuud ash-Shawaaf (anggota)
  8. Shaalih bin Utsaimin ( anggota)
  9. Muhammad Rasyid Qubaani (anggota)
  10. Muhammad asy-Syaadzali an-Naifar (anggota)
  11. Abu Bakar Juumi (anggota)
  12. Muhammad bin Jubeir (anggota)
  13. Ahmad Fahmi Abu Sunnah (anggota)
  14. Muhammad al-Habib bin al-Khaujah (anggota)
  15. Bakr Abu Zaid (tidak tanda tangan)
  16. Mabruk bin Mas’ud al-‘Awaadi (anggota)
  17. Muhammad bin Saalim bin Abdulwadud (anggota)
  18. Thalaal Umar Baafaqih (Penetap keputusan majlis al-Majma’ al-Fiqh al-islami)

 

Sumber: Qaraaraat al-Majma’ al-Fiqhi al-Islami Li Rabithah al-‘Aaalam al-Islami, min daurat al-ula 1398 hingga Daurat ats-Tsaaminah 1405 H halaman 146-149.

 

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/AZZ5x

About klikUK.com

Check Also

ledakan

Ringkasan Fikih Islam : Dosa Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan

Dosa Orang yang Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍ و ...