Hukum-hukum Kurban

small_Shish Kebab

 

Kurban (Al Adh-hiyah) merupakan satu ibadah dan syiar Islam yang disyari’atkan sejak Nabi Ibrohim sampai sekarang yang senantiasa diadakan pada setiap hari raya adh-ha (‘ied Al Adh-ha) sehingga  menjadi satu amalan yang harus mendapatkan perhatian yang serius apalagi didapatkan banyak dikalangan kaum muslimin yang tidak mengetahui hukum-hukum seputar kurban ini dan belum memahaminya dengan pemahaman yan benar, oleh karena itu dibutuhkan satu penjelasan yang singkat dan akurat tentang hal-hal tersebut agar menjadi peringatan dan pelajaran bagi kaum muslimin.

Dalam kesempatan ini saya berusaha mengungkap sebagian dari hukum-hukum yang berhubungan dengan kurban dalam rangka menasehati kaum muslimin dan menyampaikan hujjah kepada mereka dengan mengharapkan keridhoan dan pahala dari Allah .

 

 

 

1. Definisi (pengertian) Al Adh-hiyah (kurban)

 

Al Adh-hiyah dalam bahasa Arab dapat dibaca dengan empat bacaan:

 

a.   Al Udh-hiyyah, dengan dhommah pada hamzah,

 

b.   Al Idh-hiyyah, dengan dikasrohkan hamzahnya, dan bentuk jama’ dari keduanya ini adalah Al Adhaahiyy.

 

c.   Adh-dhohiyah, dengan bantuk jama’nya Dhohaayaa.

 

d.   Al Adh-haah, dengan bentuk jama’nya Adh-ha. [1]

Adapun makna Al Adh-hiyyah adalah nama untuk yang disembelih yaitu hewan tertentu yang dikhususkan untuk disembelih dengan niat mendekatkan diri (kepada Allah) pada waktu tertentu – hari-hari Tasyriq- dan dengan syarat-syarat tertentu . pada asalnya penamaan ini untuk penyembelihan diwaktu hari raya adh-ha kemudian berlaku umum untuk seluruh hari-hari tasyriq.[2]

2. Dalil Pensyari’atan.

 

Kurban merupakan ibadah yang telah disyari’atkan dalam agama Islam dengan dalil-dalil sebagai berikut.

 

a. firman Allah:

 

فصلّ لربك و انحر

 

      “(QS.Al Kautsar :2)

 

berkata Ibnu Katsir:” Yakni, sebagaimana Kami telah memberikan kebaikan yang banyak didunia dan akhirat kepadamu (Rasulullah); dan diantaranya adalah telaga Kautsar yang keadaannya  telah dijelaskan terdahulu, maka ikhlaskanlah sholat wajib dan sunnahmu serta ibadah kurbanmu hanya untuk Robb-mu”.

 

b. Hadits Anas bin Malik beliau berkata:

 

ضحى رسول الله بكبشين أملحين أقرنين ذبحهما بيده  و سمى و كبر و وضع رجله على صفاحهما

 

Rasulullah telah menyembelih dua ekor domba jantan yang bertanduk beliau langsung menyembelih sendiri dengan membaca basmalah dan takbir serta meletakkan kakinya di atas lambung  keduanya “ (Mutafaqun Alaih).

 

c.berkata Ibnul Qayyim:”Sembelihan-sembelihan yang merupakan pendekatan diri kepada Allah dan ibadah adalah : Hadyu, Adh-hiyyah dan Aqiqoh”  [3]

 

 

 

3. Keutamaan

 

Adapun keutamaan kurban sangat besar karena ia merupakan satu ibadah yang dapat mendekatkan diri pelakunya kepada Allah, sebagaimana Allah telah merangkai perintah untuk berkurban dengan mendirikan sholat di dalam surat Al Kautsar ayat 2, demikian juga  kurban merupakan perwujudan rasa syukur seorang hamba terhadap Robb-nya.

 

 

4. Hukum

 

Telah terjadi perselisihan para ulama dalam masalah ini dan dapat disimpulkan menjadi dua pendapat:

 

1. Wajib bagi yang mampu, ini merupakan pendapat Rabi’ah Ar Raiy,Al Auzaa’iy, Laits, Abu Hanifah dan Malik. Ini yang dirojihkan oleh Ibnu Taimiyah.

 

Adapun dalil-dalil mereka adalah:

 

a. Firman Allah :

 

 (Al Kautsar :2)

 

b. Hadits Bara’ bin ‘Aazib.

 

ذبح أبو بردة قبل الصلاة فقال له رسول الله : أبدلها , قال ليس عندي إلا جذعا – قال شعبة و أحسبه قال: هي خير من مسنة- قال : اجعلها مكانها ولن تجزي عن أحد بعدك

 

Abu Burdah telah menyembelih (korban) sebelum sholat (i’ed), lalu berkata Rasululloh kepadanya:” gantilah “ dia berkata:”saya tidak memiliki (kambing) lagi kecuali Jadz’ah (domba yang berusia setahun penuh)-berkata Syu’bah : aku menyangka beliau berkata:”dia lebih baik dari musinnah (yang berusia dua tahun) – beliau (Nabi) berkata:”jadikanlah ia sebagai penggantinya dan tidak boleh hal itu setelahmu” (Mutafaqun Alaih).

 

Perintah mengganti sembelihan ini menunjukkan kewajibannya, karena kalau tidak wajib maka semestinya tidak diperintahkan untuk menggantinya.

 

c. Hadits Jundab bin Sufyan,beliau berkata:

 

شهدت النبي يوم النحر قال من ذبح قبل أن يصلي فليعد مكانها أخرى و من لم يذبح فليذبح

 

Aku telah menyaksikan Nabi hari kurban  berkata:”barang siapa yang telah menyembelih sebelum sholat maka hendaklah mengganti yang lain sebagai penggantinya, dan barang siapa yang belum menyembelih maka menyembelihlah”. (Mutafaqun Alaih)

 

d.Hadits Anas bin Malik,beliau berkata:

 

قال رسول الله :من كان ذبح قبل الصلاة فليعد

 

Rasulullah telah bersabda :”barang siap Yang telah menyembelih sebelum sholat maka hendaklah menggantinya”.(Mutafaqun Alaih)

 

e.Hadits Jaabir bin Abdillah, beliau berkata:

 

صلى بنا رسول الله يوم النحر بالمدينة فتقدم رجال فنحروا و ظنوا أن النبي قد نحر فأمر النبي من كان نحر قبله أن يعيد بنحر آخر ولا ينحروا حتى ينحر النبي

 

Rasulullah telah mengimamikami (dalam sholat) hari i’ed kurban di madinah,lalu mulailah beberapa orang menyembelih dalam keadaan menyangka bahwa Rasulullah telah menyembelih,kemudian Rasulullah memerintahkan orang yang menyembelih sebelum beliau (menyembelih) untuk menggantinya dengan menyembelih yang lain dan agar mereka tidak menyembelih sebelum Nabi menyembelih” (HR Muslim dan Ahmad).

 

Berkata Al Hafidz Ibnu Hajar:”orang-orang yang berpendapat wajibnya (kurban) berdalil dengan adanya perintah mengganti dalam kurban tersebut,dan hal ini dibantah,karena yang dimaksudkan disini adalah menjelaskan syarat penyembelihan yang syar’i ,dan itu sama dengan seandainya seorang misalnya berkata kepada orang yang sholat dhuha sebelum terbit matahari :”jika terbit matahari, maka ulangilah sholatmu”[4]

 

f. Hadits Abu Hurairah, Beliau berkata :

 

 قال رسول الله من وجد سعة فلم يضح فلا يقربن مصلانا

 

Rasulullah telah bersabda : Barangsiapa yang memiliki kemampuan dan tidak berkurban maka janganlah mendekati musholla (lapangan tempat shalat) kami. (Hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah). [5]

g. Hadits Mikhnaf bin Sulaim bahwa beliau telah menyaksikan Rasulullah berkhotbah pada hari Arofah :

 

على أهل كل بيت في كل عام أضحية و عتيرة أتدرون ماالعتيرة ؟ هذه التي يقول عنها الناس رجبية

 

Bagi setiap keluarga wajib menyembelih kurban dan ‘aatirah pada setiap tahun, tahukah kalian apakah ‘aatirah itu ? Dia adalah yang disebut orang sembelihan di bulan Rajab.” [6]

 

 

 

2. Tidak wajib, ini adalah pendapat Abu Bakar As-Shiddiq, Umar bin Khattab, Bilal, Abu Mas’ud, Suwaid bin ghoflah, Sa’id bin Musayyib, ‘Atha, Alqamah, Al Aswad, Asy Sya’by, Ibnu Jubair, Al Hasan, Thowus, Jabir bin Zaid, Muhammad bin Ali bin Husein, Sufyan, Malik, Syafi’i, Ahmad, Abu Yusuf, Ishaq, Abu Tsaur, Al Muzani, Daud, dan Ibnul Mundzir.dan jumhur ulama. [7]

Adapun dalil mereka :

 

a. Hadits Ummu Salamah, dia berkata :

 

قال النبي:”إذا دخلت العشر و أراد أحدكم أن يضحي فلا يمس من شعره و بشره شيئا

 

Bahwa Nabi berkata : Kalau masuk sepuluh hari (Dzul Hijjah) dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih maka janganlah mengambil sedikitpun dari rambut dan bulu kulitnya “(Riwayat Muslim)

 

 

 

b. Hadits Jabir beliau berkata :

 

صليت مع رسول الله عيد الأضحى , فلما انصرف أتي بكبش فذبحه فقال: بسم الله و الله أكبر اللهم هذا عني و عمن لم يضح من أمتي

 

Aku shalat bersama Rasulullah pada hari raya Adha, dan ketika selesai dia membawa seekor kambing lalu menyembelihnya dan berkata : Bismillah wa Allahu Akbar, Ya Allah ini dariku dan dari orang yang tidak berkurban dari umatku” (HR Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi) [8] 

 

 

 

c. Dari Ali bin Husain dari Abi Rafi’ beliau berkata :

 

أن رسول الله كان إذا ضحى اشترى كبشين سمينين أقرنين أملحين فإذا صلّى و خطب الناس أتى بأحدهما و هو قائم في مصلاه فذبحه بنفسه بالمدية ثم يقول اللهم هذا عن أمتي جميعا من شهد لك بالتوحيد و شهد لي بالبلاغ  ثم يؤتىبالأخر فيذبحه بنفسه يقول هذا عن محمد و آل محمد فيطمعهما جميعا المساكين و يأكل هو و أهله  منهما فمكثنا سنين ليس لرجل من بني هاشم يضحي قد كفاه الله الغرم و المؤنة برسول الله

 

Sesungguhnya Rasulullah jika menyembelih membeli dua ekor kambing jantan yang gemuk dan bertanduk, dan jika telah shalat dan berkhutbah membawa salah satu dari keduanya dalam keadaan berdiri dilapangan dan menyembelihnya sendiri dengan pisau (potong), kemudian mengatakan Ya Allah ini dari umatku seluruhnya yang telah bersaksi kepadaMu dengan tauhid dan bersaksi bagiku dengan penyampaian risalah, kemudian didatangkan lagi yang lainnya, lalu menyembelihnya dan mengatakan : Ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad. Kemudian beliau membagi-bagi keduanya kepada para fakir miskin, dan beliau beserta keluarganya memakan sebagian dari keduanya. Maka kami tinggal beberapa tahun tidak ada seorangpun dari Bani Hasyim yang berkurban. Sungguh, Allah telah mencukupkan hutang dan nafkah dengan Rasulullah” (HR Ahmad) [9]

 

d. Hadits Sya’bi dari Abi Suraihah Al Ghiffari, beliau berkata :

 

Aku melihat Abu bakar dan Umar tidak berkurban. Dan berkata Ibnu Umar : Kurban bukanlah kewajiban akan tetapi dia adalah sunnah dan kebaikan

 

e. Hadits Abu Mas’ud Al Anshari : “Aku sungguh meninggalkan kurban, walaupun aku mampu karena khawatir dianggap para tetanggaku sebagai satu kewajiban atasku

 

f. Dan berkata Ikrimah : Bahwasanya Ibnu Abbas mengutusku pada hari ‘iedul Adha dengan membawa dua dirham agar aku membeli daging untuknya, dan dia berkata : Barangsiapa yang bertemu denganmu, maka katakanlah ini adalah sembelihan Ibnu Abbas

 

g.Diriwayatkan dari Bilal, bahwa dia berkata : “Aku tidak perduli untuk hanya menyembelih ayam dan sungguh aku berikan dia kepada anak yatim yang sedang kelaparan lebih aku cintai daripada aku berkurban”.

 

 Yang rojih tidak wajib kurban

 

         

 


Footnote:

[1] Lihat Lisanul Arab 14/477, Ash Shihaah 6/2407 dan An Nihayah 3/76

[2] Lihat Tanwiir Al Ainain Bi Ahkaami Al adhaahi wal  Idaain  haal 314

[3] Lihat ithaaf Al Muslimin bima tayassar min Ahkami Ad Din oleh Abdul Aziz Alisalman 2/505.

[4] Fathul Bari 10/6

[5] Di shohihkan Al Albany dalam Shohih  Al Jami’ No. 6390 dan Ad Daroquthny, Ath thohawy, Al Mundziry Ibnu Abdil Barr, Ibnu Hajar dan Abul Hasan Al Ma’riby merojihkan pendapat bahwa hadits ini mauquf dan bukan marfu’ lihat Tanwir Al Ainain Hal. 315-317.

[6] HR An Nasaai No. 4224, Abu Daud No.2788, At Tirmidzy No.1518, Ibnu Majah No.3125, Ahmad 4/215 ,5/76, Ibnu Abi Syaibah No.3125,24293 ,Ath Thobraany dalam Al Kabir No. 739,739, Ath Thohawy dalam Al Musykil no.1058 ,1059  dan AL Baihaqy No. 312,313 dengan sanad yang lemah karena ada Abu Romlah dan dalam jalan lain ada Abdul Karim ibnu Abil Makhoriq dan dia lemah, berkata Abul Hasan :”karena keguncangan dal periwayatan dari salah seorang dari kedua rowi yang lemah ini,maka saya belum dapat mengambil keduanya untuk menguatkan hadits ini kerena keduanya bersendirian dengan riwayat yang menunjukkan kewajiban (kurban ini) dan karena banyaaknya kelemahan dan hadits ini pun di lemahkan oleh Al Qurthuby dalam Al Mufhim 5/350 dan Abu Muhammad Abdul Haq dan yang lainnya” lihat tanwir al Ainain hal 319, aakan tetapi syeikh Muhammad Nashiruddin Al Albany menshohihkan hadits ini dalam Al Misykah  no. 1478

[7] Lihat Al Mughby 11/94 , Al Muhalla 7/358

[8] Dishohihkan oleh Al Albany dalam Irwa’ No.1138 dan Abul Hasan dalam Tanwir hal. 321-323 dengan adanya syahid dan mutabaah.

[9] Di hasankan oleh Al Albany dalam Irwa’ No. 1138

About the author: Kholid Syamhudi
Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.