Hadits Palsu : Keutamaan Haji dengan berziarah ke Kuburan Nabi

مَنْحَجَّ حَجَّةَ اْلإِسْلاَمِ، وَزَارَ قَبْرِي وَغَزَا غَزْوَةً وَصَلَّىعَلَيَّ فِي الْمَقْدِسِ، لَمْ يَسْأَلْهُ اللهُ فِيْمَا افْتَرَضَعَلَيْهِ

Siapa yang berhaji dengan haji Islam yang wajib, menziarahi kuburku, berperang dengan satu peperangan dan bershalawat atasku di Al-Maqdis, maka Allah tidak akan menanyainya atas semua yang Allah wajibkan kepadanya.”

Hadits ini diriwayatkan Abu Thâhir As-Silafy Al-Ashbahâny rahimahullah dari Abu Ishâq Ibrâhîm bin Umar bin Ahmad Al-Barmaki dari Abul Fath Muhammad bin al-Husein al-Azdi al-Hâfizh dari an-Nu’mân bin Hârun bin Abi Addalhâts dari Abu Sahl Badr bin Abdillâh al-Mishishiy dari Abu Hassân az-Ziyâdi dari Ammâr bin Muhammad dari Sufyân dari Manshûr dari Ibrâhîm dari ‘Alqamah dari sahabat Abdullâh bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda sebagaimana lafazh hadits diatas.  (kitab al-Masyikhât al-Baghdâdiyah karya Abu Thâhir As-Silafi (wafat tahun 576 H) Juz keempat no hadits 21).

Demikian juga Ibnu Abdilhâdi rahimahullah menyampaikan hadits ini dalam bantahan beliau kepada As-Subki dengan sanad sampai kepada Abul Fath Muhammad bin Al-Husein al-Azdy dalam Fawa`idnya, (Ash-Shârimul Manky fi Rad ‘ala As-Subki hlm 155).

Juga imam As-Sakhâwi menyampaikan hadits ini dalam kitab beliau Al-Qaulul Badie’ hlm 102. Beliau berkata : Demikian disampaikan al-Majd al-Lughawî dan dia sandarkan kepada Abul Fath Al-Azdy pada juz kedelapan dari Fawaidnya dan Ada kelemahan dalam keabsahannya.

Dengan demikian jelaslah bahwa sanad hadits ini kembali kepada :

  1. Abul Fath Muhammad bin Al-Husein Al-Azdi Al-Hâfizhal-Maushili seorang yang memiliki karya tulis dalam ilmu hadits dan sebuah kitab yang tebal tentang al-Jarh dan kumpulan perawi lemah, namun ada beberapa kritikan keras dalam kitab tersebut. Al-Barqâni rahimahullah melemahkannya dan berkata Abu An-Najîb Abdulghafâr Al-Armawi rahimahullah : Aku melihat Ulama Al-Maushil melemahkan Abul Fath dan tidak menganggapnya ulama. Abu Bakar Al-Khatîb rahimahullah menyatakan: Dalam haditsnya ada perkara mungkar dan beliau seorang haafizh dan menulis karya tulis dalam ilmu hadits. (Al-Mizân no. 7416).
  2. An-Nu’mân bin Hârun bin Abi ad-Dalhâts menyampaikan hadits di Baghdad dari sejumlah ulama dan beliau diambil haditsnya oleh Muhammad bin al-Muzhaffar dan Ali bin Umar as-Sukari. Al-Khathîb rahimahullah berkata: Aku tidak mengetahui darinya kecuali kebaikan . (Ash-Shârim Al-Manky hlm 156).
  3. Abu Sahl Badr bin Abdillâh Al-Mishishiy. As-Subki rahimahullah berkata: Abu Sahl Badr bin Abdillâh al-Mishishy tidak Aku ketahui keadaannya sedikitpun. (Ash-Shârim al-Manky hlm 156).
  4. Abu Hassân Az-Ziyâdi adalah Abu Hassân Al-Hasan bin Ustmân Az-Zayâ Al-Khatîb rahimahullah berkata: Beliau salah satu ulama besar dari ahli ma’rifat, tsiqah dan amanah. Pernah menjadi qadhi di Asy-Syarqiyah pada zaman kholifah Al-Mutawakkil. . (ash-Shârim al-Manky hlm 156).
  5. Ammâr bin Muhammad adalah Abul Yaqzhân Ammâr bin Muhammad Al-Kûfi putra Ukhti Sufyân At-Tsauri yang telah dipakai imam Muslim dalam shahihnya. (Ash-Shârim al-Manky hlm 156).

Sedangkan Sufyan rahimahullah dalam sanad hadits ini adalah Sufyan bin Sa’id Ats-Tsauri dan guru beliau sampai ke sahabat Abdullâh bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah perawi yang tsiqah dan kredibel.

Hadits ini dihukumi sebagai hadits palsu oleh Ibnu Abdilhâdi rahimahullah , As-Suyuthi rahimahullah dan Syaikh Al-Albâni rahimahullah .

Ibnu Abdilhâdi rahimahullah setelah menyampaikan hadits ini, beliau berkata: Hadits ini adalah hadits palsu yang disandarkan kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam secara pasti tanpa keraguan menurut para pakar hadits. Abdullâh bin Mas’ud tidak pernah menyampaikannya, juga ‘Alqamah rahimahullah, Ibrâhîm rahimahullah, Manshûr rahimahullah dan tidak juga Sufyân Ats-Tsauri rahimahullah .Orang yang dianggap terendah dari penuntut ilmu ini mengetahui hadits ini palsu dan dibuat buat atas nama Sufyân At-Tsauri dan beliau tidak pernah mendengarnya sama sekali.

Kemudian berkata: Yang dituduh pada hadits ini adalah Badr bin Abdillâh Al-Mishishy karena tidak dikenal kredibilitasnya dan amanahnya atau kepada penulis kitab AbulFath Muhammad bin Al-Husein Al-Azdy karena dia tertuduh berdusta (Muttaham bil kadzib) walaupun dia seorang hâfizh. (Ash-Shârim Al-Manky  hlm 155).

Setelah Ibnu Abdilhâdi rahimahullah menyampaikan pernyataan para ulama tentang perawi-perawi hadits ini beliau berkata: Sudah jelas bahwa hadits yang disampaikan olehnya di fawaidnya adalah palsu dibuat-buat kecuali dalam pandnagan orang yang tidak mengetahui ilmu hadits dan tidak pernah mencium baunya. (ash-Shârim Al-Manky  hlm 158).

Syaikh Al-Albâni rahimahullah berkata: Hadits ini palsu dan sangat jelas batilnya. Hal itu menunjukkan pelaksanaan semua yang disebutkan berupa haji, ziarah dan perang menggugurkan dari pelakunya hukuman atas sikap meremehkan kewajiban yang lainnya. ini adalah kesesatan dan sungguh sebuah kesesatan! Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mungkin menyampaikan sesuatu yang terfahami demikian, apalagi ini jelas-jelas sangat gamblang ! (Lihat Adh-Dhâ’ifah no. 204)

Syeikh Al-Albâni rahimahullah memberikan kritikan atas pernyataan Ibnu Abdilhâdi rahimahullah yang memberikan tuduhan memalsukan haditsnya kepada Abul Fath Al-Azdy dengan menyatakan: Al-Azdy ini dijelakan biografinya Oen adz-DZahabi dalam al-Mîzân dan menyampaikan pendapat yang melemahkannya dan tidak menjelaskan seorangpun yang menyatakan beliau Muttaham Bil kadzib. Demikian juga Al-Hâfizh (Ibnu Hajar rahimahullah ) dalam al-Lisân dan tidak menambah komentar lebih dari yang disampaikan di Al-Mîzân. Bahkan Adz-Dzahabi rahimahullah menyatakan dalam Tadzkiratul Hufâzh 3/166 : Sejumlah ulama melemahkannya tanpa dasar yang kuat.

Tampaknya beliau berlepas dari hadits ini dan tuduhan terbatas pada Al-Mishishy ini dan dialah yang diisyaratkan Adz-Dzahabi rahimahullah dalam biografinya dalam Al-Mizaan : Badr bin Abdillah Abu Sahl Al-Mishishy menyampaikan dari Al-Hasan bin Utsman As-Ziyaady hadits batil dan darinya an-Nu’maan bin Haarun.

Iman As-Suyûthi rahimahullah membawakan hadits ini dalam kitab Dzail Al-Maudhu’ât no. 579, kemudian berkata: Berkata dalam Al-Mîzân : Ini hadits batil dan masalahnya ada pada Badr. ( Dzail Maudhu’ât 1/477).

Dengan demikian jelaslah hadits ini tidak bisa dijadikan dalil keutamaan menziarahi kuburan Nabi dengan keutamaan yang disebutkan diatas, karena haditsnya palsu.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/3vbb6

About klikUK.com

Check Also

halal haram fik

Daging Anjing Halal ?

Seiring dengan tingkat kemajuan dan meningkatkan kebutuhan manusia terhadap segala sesuatu, maka banyak pula usaha ...