Home / Akidah Akhlaq / Hadits Lemah : Tentang Tata Cara Tayammum

Hadits Lemah : Tentang Tata Cara Tayammum

(التَّيَمُّمُ ضَرْبَتَانِ: ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ، وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ)

Tayamum itu dua tepukan; satu tepukan untuk wajah dan satu tepukan untuk keduatangan sampai siku.

Hadits ini diriwayatkan oleh Ad-Daraquthni 1/180 dan Al-Haakim 1/287 dan Ibnu ‘Adi dalam Al-Kaamil 5/188 seluruhnya dari jalan periwayatan ‘Ali bin Zhobyaan dari Ubaidillah bin Umar dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’. Setelah meriwayatkan hadits ini Imam Al-Haakim berkata : Tidak aku ketahui seorangpun menyandarkan hadits ini dari Ubaidillah kecuali ‘Ali  bin Zhobyaan dan dia seorang yang shaduq.

Sedangkan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabiir 12/367 menisbatkan riwayat ini dari ‘Ali bin Zhabyaan dari Abdullah bin Umar dari N afi’ bukan dari Ubaidillah bin Umar. Syeikh Al-Albani merojihkan riwayat Ath-Thabrani dan menyatakan : Ini adalah sanad yang lemah sekali, Abdullah bin Umar Al-Umari seorang yang lemah dan hafalannya jelek. Ada dalam Al-Mustadrak tertulis Ubaidillah bin Umar, tampaknya itu salah cetak[1].

Dengan demikian maka Sanad hadits ini lemah sekali karena Abdullah bin Umar Al-Umari seorang perawi yang lemah dan ada ‘Ali bin Zhabyaan bin Hilal bin Qatadah Al-‘Abasi seorang perawi yang lemah sekali sebagaimana di sifatkan banyak ulama besar hadits, diantaranya :

  1. Yahya bin Ma’in yang menyatakan: pendusta yang jelek sekali (Kadzdzab Khabits). [2]
  2. Muhammad bin Ismail Al-Bukhari menyatakan : Mungkar Al-Hadits. [3]
  3. An-Nasaa`i berkata : Matrukul Hadits[4].
  4. Abu Zur’ah Ar-Raazi berkata : Perawi hadits yang lemah sekali[5].

Diantara yang menghukumi ‘Ali bin Zhabyaan ini sebagai perawi adalah: Abu Hatim Ar-Raazi, As-Saaji, Ibnu Hibaan, Ad-Daraquthni dan Abu ‘Ali An-Naisaburi[6].

Sanad hadits ini dilemahkan juga oleh Ibnul Jauzi [7]dan Ibnu Daqiiq Al-‘Ied [8] dengan sebab adanya ‘Ali bin Zhabyaan ini.

Oleh karena itu Abdulhaq Al-Isybily berkata : ‘Ali bin Zhabyaan perawi lemah menurut para ulama, akan tetapi hadits ini diriwayatkan para perawi tsiqah secara mauquuf atas Ibnu Umar[9].

Hadits ini memiliki mutaba’ah (riwayat penguat dari sahabat Ibnu Umar) dan Syawahid (riwayat penguat dari sahabat lainnya).

  1. Riwayat Mutaba’ah.

Ada dua perawi yang menyertai ‘Ali bin Zhabyan dalam meriwayatkan hadits dari ibnu Umar secara marfu’ ini.

  1. Sulaiman bin Arqam.

Riwayat ini dikeluarkan oleh Ad-Daraquthni 1/181 dari jalan Sulaiman bin Arqam dari Az-Zuhri dari Saalim dari bapaknya, beliau berkata:

تَيَمَّمْنَا مَعَ النَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم -: بِضَرْبَتَيْنِ: ضَرْبضةٌ لِلْوَجْهِ وَالْكَفَيْنِ وَضَرْبَةٌ لِلذِّرَاعَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ

Kami bertayamum bersama Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan dua tepukan, satu tepukan untuk wajah dan dua telapak tangan dan satu tepukan untuk lengan hasta sampai siku.

Hadits ini juga lemah karena adanya Sulaiman bin Arqam.

  1. Sulaiman bin Abi dawud.

Riwayat ini dikeluarkan oleh Al-Haakim 1/287 dan Ad-Daraquthni 1/181 dari jalan Sulaiman bin Abi Dawud dari Saalim dan Naafi’ dan keduanya dari Ibnu Umar secara marfu’

Hadits inipun lemah karena adanya Sulaiman bin Abi Dawud seorang perawi yang lemah. Ad-Daraquthni berkata : Sulaiman bin Arqam dan Sulaiman bin Abi Dawud adalah perawi lemah. [10] Demikian juga Al-Baihaqi berkata : Sulaiman bin Abi Sawud dan Sulaiman bin Arqam adalah perawi yang lemah tidak bisa dijadikan hujjah. [11]

Al-Haitsami berkata : Abu Zur’ah menyatakan Sulaiman perawi yang matruk (lemah sekali)  [12].

Juga Al-Bazaar mengeluarkan hadits ini dari jalan periwayatan Qarrah bin Sulaiman dari Sulaiman bin Dawuud Al-Jazari dari Salim dan Naafi’ dari Ibnu Umar

Al-Bazzaar berkata : Para Hufaazh meriwayatkan secara mauquf atas Ibnu Umar, sedangkan Muhammad bin Tsabit Al-Mishri meriwayatkannya dari Naafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam .

Demikian juga Qarah bin Sulaiman di katakan Abub Haatim sebagai perawi yang lemah. [13]

Ibnu Abi Hatim menyatakan : Aku telah bertanya kepada Abu Zur’ah tentang hadits yang diriwayatkan Qarrah bin Sulaiman dari Sulaiman bin Dawuud Al-Jazari dari Salim dan Naafi’ dari Ibnu Umar dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda : Dalam tayammum ada dua tepukan. Abu Zur’ah menjawab : Ini hadit bathil dan Sulaiman perawi hadits yang lemah. [14]

Adapun riwayat penguat dari sahabat lainnya, maka hadits ini diriwayatkan dari sahabat Jaabir dan ‘Aisyah dengan sanad yang lemah juga.

Hadits Jaabir dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam As-Sunan 1/207, Ad-Daraquthni dalam Sunannya 1/181 dan Al-Haakim dalam Al-Mustadrak 1/288 seluruhnya dari jalan periwyatan Utsman bin Muhammad Al-Anmathy dari Haramy bin ‘Amaarah dari ‘Azrah bin Tsabit dari Abu az-Zubair dari jabir dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan lafazh yang sama dengan hadits Ibnu Umar.

Ad-Daraquthni menyatakan : Perawi-perawinya tsiqat [15]. Juga menyatakan : Yang benar adalah riwayat mauquf. [16]

Al-Haafizh Ibnu Hajar berkata: Hadits ini di lemahkan oleh Ibnul Jauzi dengan sebab Utsman bin Muhammad, Ibnul Jauzi berkata bahwa ia perawi yang dicela. Beliau salah dalam hal ini. Ibnu Daqiiq Al-Ied berkata bahwa tidak ada seorangpun yang mencelanya. Benar riwayatnya syadz, karena Abu Nu’aim meriwayatkan hadits ini dari ‘Azrah secara mauquf.  [17]

Demikianlah Ad-Daraquthni dalam sunannya 1/182 dan Al-Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra 1/207 mengeluarkan hadits ini dari periwayatan Abu Nu’aim dari ‘Azrah bin Tsaabit dari Abu az-Zubair dari Jaabir :

جَاءَ رَجُلٌ فَقَالَ: أَصَابَتْنِي جَنَابَةٌ وَإِنِّي تَمَعَّكْتُ فِي التُّرَابِ فَقَالَ: ” اضْرِبْ ” فَضَرَبَ بِيَدَيْهِ الْأَرْضَ فَمَسَحَ وَجْهَهُ، ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدَيْهِ فَمَسَحَ بِهِمَا يَدَيْهِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ.

Datang seorang kepada beliau dan berkata : Aku terkena janabah dan aku bergulingan di Tanah. Lalu beliau (Jaabir) menjawab : Tepuklah! Lalu beliau menepuk dengan kedua telapak tangannya ke tanah lalu mengusap wajahnya kemudian menepuk lagi dengan kedua telapak tangannya lalu mengusap kedua tangan sampai siku.

lalu Al-Baihaqi berkata : Demikianlah disampaikan dan sanadnya shahih, namun tidak dijelaskan siapa yang memerintahkan hal tersebut. [18]

Sedangkan hadits ‘Aisyah dikeluarkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad 1/177 dari jalan periwayatan Al-Huraisy bin Al-Kharait dari ibnu Abi Mulaikah dari ‘Aisyah dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , beliau bersabda:

فيْالتَّيَمُّم ضَرْبَتَانِ: ضَرْبَةٌ لِلْوَجْهِ، وَضَرْبَةٌ لِلْيَدَيْنِ إِلَى الْمِرْفَقَيْنِ

Dalam tayamum ada dua tepukan, tepukan untuk wajah dan tepukan untuk kedua tangan sampai siku.

Al-Haitsami berkata : Al-Bazaar mengeluarkan hadits ini dan ada padanya Al-Huraisy bin Al-Hurait yang dilemahkan oleh Abu Haatim, Abu Zur’ah dan Al-Bukhari. [19]

Para ulama banyak merojihkan hadits ini sebagai hadits mauquf kepada ibnu Umar, diantara mereka Ad-Daraquthni [20] , Al-Haakim[21], Al-baihaqi[22]. Namun tetap saja tidak dijadikan dasar ibadah karena menyelisihi riwayat yang shahih bahwa tayamum itu dengan satu kali tepukan saja, sebagaimana dalam hadits Abu Juhaim dan Ammaar bin Yaasir.

Kesimpulan :

Hadits ini lemah sekali karena adanya kelamahan dan menyelisihi riwayat yang lebih shahih.

Wallahu a’lam.

 

[1](Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah 7/433)

[2](Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah 7/433)

[3](Tahdzib At-Tahdzib 7/300).

[4](Tahdzib At-Tahdzib 7/300)

[5](lihat Tahdzib At-Tahdzib 7/300)

[6](lihat Tahdzib At-Tahdzib 7/300)

[7](At-Tahqiiq 1/237)

[8](Al-Imaam 3/152)

[9](Al-Ahkaam Al-Wusthaa 1/222)

[10](Sunan Ad-Daraquthni 1/181).

[11](As-Sunan Al-Kubra 1/207).

[12](lihat Majma’ Az-Zawaa`id 1/262-263)

[13](lihat Silsilah Ahadits Adh-Dha’ifah 7/433).

[14](Al-‘Ilal no. 137).

[15](As-Sunan 1/181).

[16](As-Sunan 1/181).

[17](Talkhish Al-Habiir 1/161).

[18](As-Sunan Al-Kubra 1/207).

[19](Majma’ Az-Zawa`id 1/263).

[20](As-Sunan 1/180)

[21](Al-Mustadrak 1/287)

[22](As-Sunan Al-Kubra 1/207)

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/j7idk

About klikUK.com

Check Also

halal haram fik

Daging Anjing Halal ?

Seiring dengan tingkat kemajuan dan meningkatkan kebutuhan manusia terhadap segala sesuatu, maka banyak pula usaha ...