Home / Akidah Akhlaq / Hadits Lemah : Tasyahud Dalam Sujud Sahwi

Hadits Lemah : Tasyahud Dalam Sujud Sahwi

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى بِهِمْ فَسَهَى فِي صَلَاتِهِ فَسَجَدَ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ ثُمَّ تَشَهَّدَ ثُمَّ سَلَّمَ

Dari ‘Imrân bin Hushain radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasûlullâh Shallallah ‘alaihi wa salam mengimami mereka shalat lalu lupa dalam shalatnya, kemudian sujud dua sujud sahwi kemudian bertasyahud kemudian salam.

Hadits ini dikeluarkan Abu Dawud no. 1039, At-Tirmidzi no. 395, An-Nasâ’i 3/26, IbnulJârûd dalam Al-Muntaqa no. 247, Al-Hâkim dalam Al-Mustadrâk 1/323, Ibnu Hibân no. 2670, Tamâm dalam Fawâ`id no. 374, Ibnul Mundzir dalam Al-Ausâth no. 1712, Ath-Thabrâni dalam Al-Mu’jam no. 469 dan Al-Baihâqi dalam Sunannya 2/354-355 dari jalan periwayatan Asy’ats bin Abdulmâlik Al-Humrâni dari Muhammad bin Sirîn dari Khâlidal-Hadzdzâ` dari Abu Qilâbah dari Abul Muhallab dari ‘ Imrân bin Hushain radhiyallahu ‘anhu secara marfu’.

Sanad hadits ini sahih seperti dijelaskan Syu’aibal-Arnâ`uth dalam komentarnya terhadap hadits ini dalam sunan Abi Dawud. (lihat sunan Abu Daud dengan tahqîq Syu’aib 2/272), namun Asy’ats bersendirian dalam meriwayatkan hadits ini dari Muhammad bin Sirîn dari Khâlid Al-Hadzdzâ` dalam meriwayatkan tambahan kata (ثُمَّ تَشَهَّدَ). Asy’ats di sini menyelisihi riwayat Ayyub As-Sakhtiyânit dan Abdullâh bin ‘Aunt dari Muhammad bin Sirîn rahimahullah . Bahkan imam Al-Baihâqit setelah menyampaikan hadits ini, “Asy’ats Al-Humrâni bersendirian meriwayatkannya. Syu’bah, Wuhaib, Ibnu ‘Ualiyah, Ats-Tsaqafi, Husyaim, Hamâd bin Zaid, Yazîd bin Zurai’ dan selain mereka telah meriwayatkan hadits ini dari Khâlid Al-Hadzdzâ` rahimahullah dan tidak ada seorangpun dari mereka tambahan yang disampaikan Asy’ats dari Muhammad bin Sirîn rahimahullah tersebut.

Pernyataan al-Baihâqi rahimahullah ini didukung oleh Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam pernyataan beliau, “Ibnu Hibbân rahimahullah berkata, ‘Hadits ini dilemahkan Al-Baihâqi rahimahullah dan Ibnu Abdilbarr rahimahullah serta yang lainnya. Mereka menghukumi keliru riwayat Asy’ats karena menyelisihi para perawi tsiqah yang lain dari Ibnu Sirîn rahimahullah . Sehingga yang benar dari riwayat Ibnu Sirîn rahimahullah dalam hadits ‘Imrân ini adalah tanpa tambahan kata (ثُمَّ تَشَهَّدَ). As-Sirâj meriwayatkan dari jalan Salamah bin ‘Alqamah juga dalam kisah ini : Aku berkata kepada Ibnu Sirîn : Bagaimana tentang tasyahud? Beliau menjawab, ‘Aku tidak mendengar satupun tentang tasyahud’

Telah terdahulu dalam Bab Tsybîkal-Ashâbi’ dari jalan Ibnu ‘Auf dari Ibnu Sirîn, beliau berkata, ‘Sampai kepadaku bahwa ‘Imrân bin al-Hushain berkata, ‘kemudian salam’. Demikianlah yang benar dari Khâlid Al-Hadzdzâ` dengan sanad ini dari hadits ‘Imrân bin Al-Hushain radhiyallahu ‘anhu tanpa ada disebut tasyahud, sebagaimana dikeluarkan imam Muslim. Sehingga tambahan dari Asy’ats adalah syadz (menyelisihi yang lebih sahih). ( Fathul Bâri 2/79)

Syeikhal Albani rahimahullah menyatakan: Haditsnya sahih tanpa pernyataan (ثُمَّ تَشَهَّدَ), karena tambahann tersebut adalah syadz, bersendirian dalam hal ini Asy’ats bin Abdilmâlik Al-Humrâni. Sejumlah perawi tsiqah lainnya meriwayatkan dari Ibnu Sirîn tanpa tambahan tersebut. Oleh karena itu imam Al-Baihûqi , Al-Asqalâni dan sebelumnya Ibnu Taimiyah. (Shahih Sunan Abi Dawud no. 193).

Ibnu Abdilbarr rahimahullah berkata, ‘Adapun Tasyahud dalam dua sujud sahwi, maka aku tidak tahu ada yang sahih dari nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ’. (At-Tamhiid 10/209)

Ibnul Mundzir rahimahullah berkata, ‘Adapun tasyahud dalam dua sujud sahwi, maka telah diriwayatkan tiga hadits, para ulama melemahkan semuanya dan yang terbaik sanadnya adalah hadits ‘Imrân bin Al-Hushain. Adapun dua hadits yang lainnya maka tidak sahih dan telah aku jelaskan sebab kelemahannya pada kitab lain yang meringkas kitab ini. (Al-Ausâth 3/316-317).

Dua hadits ini diisyaratkan Al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam pernyataan beliau, ‘Akan tetapi ada tentang tasyahud dalam sujud sahwi ini dari Ibnu Mas’ud rahiyallahu ‘anhu pada sunan Abu Dawud dan An-Nasâ’i dan dari Al-Mughîrah radhiyallahu ‘anhu pada sunan Al-Baihâqi dan pada kedua sanadnya ada kelemahan. (Fathul Bâri 2/79).

  1. Hadits Abdullâh bin Mas’ud tersebut di keluarkan oleh Ahmad 1/428-429, Abu Dawud no. 1028, An-Nasâ`i dalam As-Sunanal-kubra no. 605, Ad-Darâquthni 1/378 dan Al-Baihâqi 2/255-256 dari jalan periwayatan Khushaif dari Abu Ubaidah dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ dengan lafaz,

إِذَا كُنْتَ فِي الصَّلَاةِ، فَشَكَكْتَ فِي ثَلَاثٍ وَأَرْبَعٍ، وَأَكْثَرُ ظَنِّكَ عَلَى أَرْبَعٍ، تَشَهَّدْتَ، ثُمَّ سَجَدْتَ سَجْدَتَيْنِ، وَأَنْتَ جَالِسٌ قَبْلَ أَنْ تُسَلِّمَ، ثُمَّ تَشَهَّدْتَ أَيْضًا، ثُمَّ سَلَّمْتَ

Apabila kamu dalam shalat lalu ragu apakah telah tiga atau empat (rakaat) dan hipotesa kamu adalah empat maka bertasyahhud kemudian sujud dua kali dalam keadaan kamu duduk sebelum salam kemudian bertasyahhud lagi kemudia  salam.

Dalam sanadnya ada Khushaif seorang perawi yang lemah dan Abu Ubaidah tidak mendengar langsung dari Abu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu , sehingga ada dua sebab lemahnya hadits ini, kelemahan perawi dan terputusnya sanad.

oleh karena itu Ibnu Hajar rahimahullah menyatakan sanadnyahadits ini lemah dan diikuti oleh syeikhal-Albâni rahimahullah dengan menyatakan bahwa sanad ini ada kelemahan dan terputus. (Al-Irwâ’ 2/131).

  1. Hadits Al-Mughîrah yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrâni dalam Al-Mu’jamal-Kabîr no. 988 (20/412) dan Al-Baihâqi 2/355 dari jalan periwayatan Muhammad bin ‘Imrân bin Abi Laila dari bapaknya dari Ibnu Abi Laila dari Asy-Sya’bi dari Al-Mughîrah radhiyallahu ‘anhu , beliau berkata:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَشَهَّدَ، لَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ سَجْدَتَيِ السَّهْوِ

Sesungghnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertasyahud ketika bangkit dari dua sujud sahwi.

Al-Baihâqi rahimahullah berkata, ‘Ini bersendirian ‘Imrân bin Muhammad bin Abdurrahmân bin Abu Laila dari Asy-Sya’bi dan tidak senang dengan bersendiriannya tersebut’. (As-Sunan Al-Kubro 2/355).

‘Imrân adalah perawi majhul (lihat Tahdzîb At-Tahdzîb 8/137).

Riwayat ‘Imrân ini menyelisihi riwayat Ats-Tsauri dan Husyaim yang tidak menyebut tasyahud.

Dengan demikian maka hadits ini lemah dan menyelisihi yang sahih sehingga dihukumi sebagai haid mungkar oleh Al-Albâni. (Lihat Shahih Sunan Abu Dawud (versi induk) 1/395).

Dengan demikian maka kedua hadits ini tidak bisa mendukung dan menguatkan hadits ‘Imrân bin Al-Hushain radhiyallahu ‘anhu .

Wallahua’lam.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/JmuYG

About klikUK.com

Check Also

halal haram fik

Daging Anjing Halal ?

Seiring dengan tingkat kemajuan dan meningkatkan kebutuhan manusia terhadap segala sesuatu, maka banyak pula usaha ...