Home / Brankas / Hadits 2 Kitab Bulughul Marram, Hukum Asal Air adalah Suci 1

Hadits 2 Kitab Bulughul Marram, Hukum Asal Air adalah Suci 1

subuh

Hukum Asal Air adalah suci

 

2. وَعَنْ أَبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم: «إنَّ المَاءَطَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيءٌ». أَخْرَجَهُ الثلاَثَةُ، وَصَحَّحَه أَحْمَدُ

2. “Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiallahu ‘anhu, beliau mengatakan, ‘Rasulullah bersabda,“Sesungguhnya air adalah thahur tidaklah sesuatu menjadikan air tersebut najis.” (Diriwayatkan oleh Ats-Tsalatsah dan Ahmad mensahihkannya).

Ο Penjelasan Hadits

Hadits ini akan dijelaskan dalam beberapa sub bahasan:

Biografi Perawi Hadits

Perawi hadits ini adalah Abu Sa’id Al-Khudri. Nama beliau adalah Sa’ad bin Sinan bin Malik Al-Khazraji Al-Anshari Al-Khudri,ada yang menyatakan : Sa’ad bin Maalik bin Sinan . Nisbah kata “Al-Khudri” berasal dari Khudrah salah satu perkampungan kaum Anshar, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qamus.(Lihat Subul As-Salam, 1/11).

Beliau ikut perang bersama Nabi sebanyak12 peprangan, yang pertama adalah perang khandaq pada tahun kelima, karena sebelum itu usia beliau belum baligh.  Beliau menghafal dari Nabi ilmu yang banyak dan menjadi ulama besar dikalangan para sahabat. Beliau meninggal tahun 74 H. dan dimakamkan di Al-baqi’. (Tambihul Afham Bi Syarhi Umdatul Ahkam, Syeikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, 1/ ).

Takhrij Al-Hadits

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam As-Sunan (no. 66), At-Tirmidzi di dalam As-Sunan (no.66) dan beliau mengatakan: “hadits hasan.” Juga diriwayatkan oleh An-Nasa`i di As-Sunan (1/174), Ahmad di dalam Al-Musnad (3/31), asy-Syafi’I di dalam kitab Al-Umm (1/23), Ad-Daraquthni di dalam As-Sunan (1/no. 10) di dalam As-Sunan, Al-Baihaqi di dalam As-Sunan Al-Kubra (1/4, 257), Abu Dawud Ath-Thayalisi (no. 2199), Ibnul Jarud di dalam Al-Muntaqa (no. 47) dan selainnya dari jalan Abu Usaamah dari Al-Walid bin Katsir dari Muhammad bin Ka’ab dari Ubaidillah bin Abdillah bin raafi’ bin Khadij dari Abu Sa’id Al-Khudri – Radhiyallahu ‘anhu

أَنَّهُ قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَ نَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةِ؟ –وَهِيَ بِئْرٌ يُطْرَحُ فِيْهَا الحَيْضُ وَلَحْمُ الكِلاَبِ وَالنَّتْنُ- فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الماَءُ طَهُوْرٌ لاَيُنَجِّسُهُ شَيْءٌ

Ditanyakan kepada Rasulullah: apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha`ah yaitu sebuah sumur yang di dalamnya dicampakkan kain pembalut haidh, daging anjing dan kotoran?” Maka beliau menjawab, “Sesungguhnya air adalah thahur tidaklah sesuatu menjadikan air tersebut najis.”

Hadits ini adalah hadits sahih dengan banyaknya jalan periwayatan dan syahid penguatnya. Memang Ubaidillah bin Raafi’ dikatakan oleh ibnu Mandah: Majhul (tidak dikenal) dan disebutkan ibnu Hibaan dalam kitab Ats-Tsiqaat. Sedangkan imam Ibnu Hajar menyatakan dalam kitab At-Taqrib (1/536):  Mastuur. Sedangkan sisa perawinya tsiqaat termasuk perawi-perawi yang dipakai Al-Bukhari dan Muslim dalam sahih keduanya.

Di dalam riwayat Nasaa-i dan Ibnu Abi Syaibah dan lain-lain, sebagian rawi telah keliru mengatakan, “Ubaidullah bin Abdurrahman!? yang benar ialah ‘Ubaidullah bin Abdullah bin Raafi’i bin Khudaij .Oleh karena itu, Bukhari dengan tegas mengatakan bahwa orang yang menamakannya ‘Ubaidullah bin Abdurrahman telah keliru sebagaimana telah diterangkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar di Tahdzibut Tahdzib (7/28). Meskipun demikian kedua orang rawi di atas, yaitu baik ‘Ubaidullah bin Abdullah atau ‘Ubaidullah bin Abdurrahman sama dla’if tidak dikenal atau Majhul.  Walaupun didalam sanadnya ada perawi yang Majhul namun dengan adanya banyak riwayat pendukung (Syawahid) dari hadits Ibnu Abbas, Aisyah -sebagaimana dikatakan Tirmidzi-, Jabir dan Sahl bin Sa’ad dan jalan periwayatan lainnya (mutaba’ah) menjadikan hadits ini naik menjadi sahih lighairihi.

Hadits ini disahihkan oleh Ahmad, beliau mengatakan, “Hadits sumur “Budha’ah” hadits yang sahih.” Juga di sahihkan oleh Yahya bin Ma’in, Abu Muhammad Ali bin Hazm, dan Al-Hakim. Hadits ini juga di sahihkan oleh Al-Baghawi di dalam Syarh As-Sunnah (2/61), An-Nawawi di dalam Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab (1/127) dan Asy-Syaikh Al-Albani di dalam Al-Irwa` (no. 14). Al-Hafizh menyebutkan di dalam At-Talkhish (1/13), Ibnu Mundah mengomentari hadits Abu Sa’id ini dan berkata,“Sanadnya masyhur.”

Ο Faidah

Ada istilah hadits lemah (dha’if), Majhul dan sahih lighairihi dalam takhrij hadis diatas, maka perlu penjelasan singkat tentang hal ini.

Hadits Dha’if

Hadits dha’if atau dikenal dalam istilah kita sebagai hadits yang lemah adalah hadits yang tidak memenuhi kreteria hadits yang sahih dan hasan.

Sebab yang menjadikan hadits dihukumi sebagai hadits dha’if.

Bila melihat kepada alasan para ulama menghukum satu hadits sebagai hadits lemah didapatkan kembali kepada dua sebab:

– Sebab pertama: sanadnya terputus.

Melihat kepada sebab pertama ini, maka hadits dihukumi lemah karena tidak memenuhi salah satu syarat hasan dan shohih yaitu bersambungnya sanad. Hal ini dapat terjadi pada:

1). Awal sanad : Apabila terjadi penghapusan perawi diawal sanad baik seorang atau lebih maka dinamakan muallaq.

2). Akhir sanad setelah tabi’in : Apabila terjadi penghapusan perawi setelah tabi’in maka dinamakan Mursal.

3). Di tengah-tengah sanad : Apabila terjadi ditengah-tengah sanad maka ada dua:

  • Yang Jelas dan ini berbagi dua :
  1.  Munqati’ : hadits munqati’ adalah semua hadits yang sanad-nya tidak bersambung dalam semua sisi terputusnya baik yang hilang adalah satu atau banyak dengan syarat tidak diawal sanad dan tidak berurutan.
  2. Mu’dholAl-Mu’dhol adalah semua hadits yang terputus sanad-nya dua perawi atau lebih dengan syarat harus berurutan dan tidak diawal sanad.

 

  • Yang Samar ada dua :
  1.  Mudallas.
  2. Mursal khafi adalah riwayat dari orang yang semasa namun tidak pernah bertemu.

– Sebab kedua: Celaan pada perawi.

  1. Dusta perawi, haditsnya  dinamakan maudhu’.
  2. Tuduhan dusta, haditsnya dinamakan hadits matruk.
  3. Fahsyu Al-Ghalath (sering salah) .
  4. Ghaflah.
  5. Kefasikan, Ketiga sebab ini haditsnya dinamakan mungkar menurut istilah sebagian ulama atau dhaif jiddan (lemah sekali).
  6. Wahm, haditsnya dinamakan Muallal.
  7. Mukhalafah, haditsnya dinamakan syadz atau mungkar.
  8. Jahalah.
  9. Bid’ah.
  10. Su’u Al-hifzh (lemah hafalannya) .

Untuk artikel berikutnya Insya Allah masih membahas hadits di atas. Yaitu, tentang penjelasan kosa kata dalam hadits dan masalah-masalah yang lainnya.
=Bersambung Insya Allah=

 

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/ea3TB

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

ledakan

Ringkasan Fikih Islam : Dosa Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan

Dosa Orang yang Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍ و ...