Futur dan Tidak Istiqomah

lazy
Fenomena Futur dan Tidak Istiqamah
Fenomena dan tanda-tanda futur ini sangat banyak, karena tembok iman kita perlu diperbaharui catnya dan hubungan dengan Rabb selalu butuh penguat dan pengokoh.  Oleh karena itu saya sampaikan sebagian dari fenomena dan tanda futur ini agar kita semua senantiasa merasakan ada atau tidak adanya dalam diri kita.
Qaswatul Qalbu (kerasnya hati).

Qalbu yang keras menjadi penghalang kuat khusu’ kepada Allah, penahan air mata dan getaran kulit kita terhadap Allah. Sehingga Qalbu tidak mengenal setelah ini kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran. Keringlah mata air kecintaan kepada Allah dan tanduslah kebun rahmat Allah dan mengeringlah kehijauan perasaan di hati.

فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
 
Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Qsaz-Zumar : 22).
Qalbu yang keras ini terus mengeras hingga sampai pada derajat kronis yang lebih keras dari batu, seperti dijelaskan dalam firman Allah:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS al-baqarah : 74).
 
Diantara fenomena dan bentuk kefuturan :
Meremehkan dan bermalas-malas berbuat ketaatan, baik itu fardhu atau sunnah, baik itu mudah seperti dzikir atau yang lainnya.

Apabila seorang melihat dirinya berat menunaikan ibadah, malas mengerjakannya dan enggan melaksanakannya, maka hendaknya ia mengetahui penyakit futur telah merasukinya dan masuk ke jaringan darahnya. Allah telah mencela orang yang berbuat demikian dalam firmanNya:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
 
Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. [QS an-Nisaa` : 142]
 
Diantara sebab kefuturan adalah
Tidak menjaga iman dari waktu kewaktu dari tinjauan naik-turunnya iman.

Hal ini karena seorang tanpa muhasabah dengan imannya, tentu akan jadi permainan sarana futur dari segala penjuru sehingga dapat menghancurkan bangunan iman. Oleh karena itu wajib bagi seorang mukmin apabila melihat adanya kekurangan pada imannya atau merasa memiliki fenomena futu untuk bersegera pemberbaiki imannya dengan ilmu yang manfaat dan amal shalih. Abu ad-Darda’ pernah menasehati kita semua dengan menyatakan:

 من فقه العبد أن يتعاهد إيمانه وما نقص منه ، ومن فقه العبد أن يعلم : أيزداد هو أم ينتقِص ؟
 
Diantara fikih seorang hamba adalah memperhatikan imannya dan yang dapat menguranginya. Dari fikih seorang hamba adalah mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang?
Umar bin al-Khathab pernah berkata kepada para sahabatnya:

 هلموا نزدد إيمانًا ، فيذكرون الله عز وجل
Mari kita tingkatkan imam dengan berdzikir kepada Allah.
Sedangkan Ibnu Mas’ud berkata dalam do’anya:

اللهم زدنا إيمانًا ويقينًا وفقها
 
Ya Allah tambahkan kepada kami iman, yakin dan fikih.
 
Juga Mu’adz bin Jabal berkata kepada seseorang:

اجلس بنا نؤمن ساعة
Mari duduk bersama kami untuk beriman sesaaat.
 
Demikian Ammar bin Yasir berkata:

ثلاث من كُنَّ فيه فقد استكمل الإيمان : إنصافٌ من نفسه ، والإنفاق من إقتار ، وبذل السلام للعالَم
 
Tiga hal bila dimiliki maka telah sempurna imannya; adil terhadap diri sendiri, berinfak ketika sempit dan memberi salam kepada semua orang. (Disampaikan al-Bukhori dalam shahihnya).

Mari muhasabah terus..! Semoga dijauhkan dari kefuturan.
About the author: Kholid Syamhudi
Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.