Home / Brankas / Fikih Puasa : Hukum Keluarnya Wanita untuk Shalat Tarawih

Fikih Puasa : Hukum Keluarnya Wanita untuk Shalat Tarawih

a_worms_eye_view_of_spring-t2

Hukum Keluarnya Wanita untuk Shalat Tarawih

 Pertanyaan ke-223 :

Apabila seorang wanita keluar rumah untuk shalat tarawih di masjid sedangkan suaminya tidak ridha dan mengatakan, “Shalatlah di rumah saja karena pahalanya lebih besar.” Apakah perkataan tersebut benar, berikan faidah kepada kami, semoga Allah memberi barakah kepada anda.

Jawab :

Pertama, harus diketahui bahwa keluarnya wanita ke masjid dan tempat lainnya, wajib baginya untuk menutup aurat dan tidak mengenakan perhiasan serta minyak wangi. Yaitu keluar dengan memakai pakaian yang menutup auratnya bukan pakaian berhias. Hendaklah ia tidak memakai minyak wangi dan berusaha untuk menghindari perkara yang bisa menimbulkan fitnah bagi manusia atau perkara yang menyebabkannya terfitnah dengan manusia. Ini adalah adab secara umum ketika seorang wanita keluar ke masjid dan selainnya.

Adapun keluarnya wanita ke masjid untuk melaksanakan shalat fardhu bersama kaum muslimin, atau shalat tarawih dan tahajjud di bulan Ramadhan. Atau keluar bersama kaum muslimin untuk melaksanakan shalat hari raya, istisqa’, shalat jum’at, atau pergi ke masjid untuk mengikuti kajian diniyah dalam rangka mengambil faidah darinya, maka semuanya itu diperbolehkan. Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda,

لاَ تَمْنَعُوْا إِمَاءَ اللهِ مَسَاجِدَ اللهِ

“Janganlah kalian melarang para wanita untuk pergi ke masjid-masjid Allah.”[1]

Maka tidak boleh bagi suami untuk melarang isterinya pergi ke masid, selama si isteri melazimi hal-hal yang kami sebutkan di atas dengan menjaga rasa malu, dan menutup aurat, dan bermaksud kebaikan.

Adapun jika si wanita melanggar adab-adab syar’i dan suami mengetahuinya, maka boleh bagi si suami untuk mencegahnya sebagaimana perkataan Aisyah, “Seandainya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengetahui apa yang kini dikerjakan para wanita, tentulah beliau melarang mereka pergi ke masjid sebagaimana Bani Israil melarang para wanita mereka.”[2]

Hal ini dikarenakan seorang wanita apabila tidak menerapkan adab syar’i dan tidak melazimi dalam menutup aurat, tidak pula menjaga rasa malu, maka ia dilarang dari pergi ke masjid dan tempat-tempat lainnya, dan wajib baginya untuk tetap tinggal di rumah supaya terhindar dari keburukan dan dalam rangka penjagaan terhadapnya.

Demikian pula apabila keluarnya wanita tersebut menimbulkan madharat bagi anak-anaknya. Yaitu apabila ia memiliki anak-anak kecil yang membutuhkan keberadaan dan pengawasan ibunya, maka ketika itu pula boleh bagi si suami mencegah isterinya pergi ke masjid karena alasan tersebut.

Wallahu ta’ala a’lam.

[1] HR. Abu Dawud dalam Sunannya (1/152) dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

[2] HR. Bukhari dalam Shahihnya (1/210-211) dari hadits Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/KZuVc

About Team KlikUK

Check Also

msjid mati lampu

Fatwa : Haruskah Mengulangi Adzan Jika Listrik Mati ?

Haruskah Mengulangi Adzan Jika Listrik Mati ? Fadhilatu Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin pernah ...