Home / Akidah Akhlaq / Fatwa : Takut Kepada Allah

Fatwa : Takut Kepada Allah

Takut kepada Allah

Fatwa Nomor: 5265

Pertanyaan:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Dahulu ada seorang laki-laki melakukan perbuatan yang melampoi batas atas dirinya sendiri. Tatkala kematian hadir menjemputnya, -Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda-: Jika aku mati, bakarlah diriku. Kemudian bubuhkanlah diriku, lalu sebarkanlah pada angin. Demi Allah, sekiranya Allah mampu (menyatukan) jasadku niscaya sungguh Ia akan menyiksaku dengan siksaan yang belum pernah ditimpakan kepada seorang pun. Ketika ia mati maka ia diperlakukan seperti itu lalu Allah memerintahkan bumi, Ia berkata: Kumpulkanlah apa yang ada padamu! Maka bumi mengumpulkan serpihan jasad laki-laki tadi, lantas ia pun berdiri. Allah berfirman: Apa yang mendorong perbuatan yang kamu lakukan? ia menjawab: Karena aku takut kepada-Mu wahai Rabbku. atau ia menjawab : Karena takut kepada-Mu maka Allah pun mengampuninya.”

Jawaban:

Imam Al-Bukhari mengeluarkan hadits dalam kitab shahihnya pada bab takut kepada Allah; telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Manshur, dari Rabi dari Hudzaifah, dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam: “Dahulu sebelum kalian ada seorang laki-laki berprasangka buruk atas amal perbuatannya. Maka ia berkata kepada keluarganya: Jika aku mati maka ambillah jasadku lalu sebarkanlah (abu)ku di laut pada musim panas. Maka keluarganya pun melaksanakan wasiatnya. Lalu Allah menyatukannya dan berfirman: Apa yang membuatmu melakukan hal perbuatanmu? Orang itu menjawab: Tidak ada yang membuatku melakukan hal tersebut kecuali karena takut kepada-Mu. Maka orang tersebut diampuni.”
Telah menceritakan kepada kami Musa, telah menceritakan kepada kami Mutamir; Aku mendengar ayahku berkata; Telah menceritakan kepadaku Qatadah dari Uqbah bin Abdul Ghafir dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam beliau menyebutkan bahwa ada seorang laki-laki pada zaman dahulu atau sebelum kalian, Allah mengaruniakan kepadanya harta dan anak -Maksudnya Allah memberinya-. Tatkala menjelang kematiannya ia berkata kepada anak-anaknya: Wahai anak-anakku, bagaimana keadaanku selama aku menjadi ayah bagi kalian? mereka menjawab: Engkau adalah sebaik-baik ayah. Beliau melanjutkan: Laki-laki tersebut merasa dirinya bukan orang baik di sisi Allah.

Qatadah menafsirkan; Bahwa ia menyangka belum memiliki amalan- hingga dirinya berprasangka jika Allah menakdirkan, niscaya Ia akan mengadzabnya. Orang tersebut berkata: Perhatikanlah, jika aku mati maka bakarlah aku. Jika aku telah menjadi arang, tumbuklah aku -atau berkata- haluskanlah aku. Jika angin berhembur kencang, maka taburkanlah abuku dalam angin itu. Orang tersebut mengambil janji anak-anaknya agar melaksanakan wasiatnya, lalu mereka pun melaksanakannya. Kemudian Allah berfirman: Jadilah engkau. Tiba-tiba laki-laki tersebut berdiri. Allah bertanya: Wahai hamba-Ku, apa yang mendorongmu berbuat seperti yang engkau lakukan itu? ia menjawab: Karena takut kepada-Mu. Dan segala perbuatan yang membinasakan dirinya (disebabkan rasa takutnya) maka Allah kemudian merahmatinya.” Lalu aku ceritakan kepada Abu Utsman, ia berkata: Saya mendengar Salman namun ia menambahkan; lalu taburkanlah abuku di laut, atau seperti yang ia ceritakan.”
Didorong rasa takut kepada Allah dan kejahilannya dengan keumuman kuasa Allah, maka laki-laki ini mewasiatkan kepada anak-anaknya seperti yang disebutkan, lalu Allah merahmati dan mengampuninya. Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah Taala setelah menyebutkan hadits ini dan argumen para ulama terkait dengannya: “Laki-laki ini sungguh telah tertimpa keraguan dan tidak mengetahui (bodoh) akan kekuasaan Allah Taala untuk mengembalikan (menyatukan kembali) anak Adam setelah dibakar dan disebar (abunya), padahal sesungguhnya Dia akan mengembalikan (jasad) orang yang telah mati dan membangkitkannya jika laki-laki itu melakukan hal tersebut pada dirinya. Dalam hal ini ada dua dasar pokok yang sangat agung;
Pertama: terkait dengan Allah Taala; yaitu iman bahwa sesungguhnya Dia berkuasa atas segala sesuatu.
Kedua: terkait dengan hari akhir; yaitu iman bahwasanya Allah akan mengembalikan (jasad) orang yang mati ini dan memberinya balasan atas amal perbuatannya. Bersamaan dengan keimanan ini, tatkala seorang mukmin beriman kepada Allah secara global dan beriman kepada hari akhir secara global pula, yaitu bahwasanya Allah akan memberi pahala dan menyiksa setelah kematian seseorang, dan ia juga telah benar-benar beramal shalih yaitu rasa takut kepada Allah akan menyiksanya disebabkan atas dosa-dosanya, maka Allah pun mengampuninya dikarenakan apa yang ada pada dirinya yaitu iman kepada Allah dan hari akhir serta amal shalih.”
Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa
Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua : Abdurrazaq Afifi
Anggota : Abdullah bin Ghudayan
Anggota : Abdullah bin Quud

FATWA LAJNAH DAIMAH LILBUHUTS AL-ILMIYAH WALIFTA
JILID 1 TENTANG AQIDAH
Disusun oleh: ASY-SYAIKH AHMAD BIN ABDURRAZAQ AD-DUWAISY

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta tentang aqidah yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy, dari situs www.dorar.net atau mauqiu ad-durar as-saniyah).

الخوف من الله

فتوى رقم 5265

س: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: كان رجل يسرف على نفسه فلما حضره الموت قال صلى الله عليه وسلم: إذا مت فأحرقوني ثم اطحنوني ثم ذروني في الريح فوالله لئن قدر الله علي ليعذبني عذابا ما عذبه أحدا فلما مات فعل به ذلك فأمر الله الأرض فقال: اجمعي ما فيك ففعلت فإذا هو قائم فقال: ما حملك على ما صنعت؟ قال: خشيتك يارب، أو قال: مخافتك فغفر له

ج: أخرج الإمام البخاري في صحيحه باب الخوف من الله، حدثنا عثمان بن أبي شيبة، حدثنا جرير عن منصور، عن ربعي عن حذيفة، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: كان رجل ممن كان قبلكم يسيء الظن بعمله, فقال لأهله: إذا أنا مت فخذوني فذروني في البحر في يوم صائف، ففعلوا به, فجمعه الله ثم قال: ما حملك على الذي صنعت؟ قال: ما حملني عليه إلا مخافتك, فغفر له.

حدثنا موسى, حدثنا معتمر, سمعت أبي, حدثنا قتادة عن عقبة بن عبد الغافر, عن أبي سعيد رضي الله عنه, عن النبي صلى الله عليه وسلم: ذكر رجلا فيمن كان سلف أو قبلكم آتاه الله مالا وولدا- يعني: أعطاه- قال: فلما حضر, قال لبنيه: أي أب كنت لكم؟ قالوا: خير أب, قال: فإنه لم يبتئر عند الله خيرا- فسرها قتادة: لم يدخر- وإن يقدم على الله يعذبه, فانظروا إذا مت فأحرقوني حتى إذا صرت فحما فاسحقوني, أو قال: فاسهكوني, ثم إذا كان ريح عاصف فاذروني فيها, فأخذ مواثيقهم على ذلك, وربي ففعلوا, فقال الله: كن فإذا رجل قائم, ثم قال: أي عبدي ما حملك على ما فعلت؟ قال: مخافتك, أو فرق منك, فما تلافاه أن رحمه الله فحدثت أبا عثمان, فقال: سمعت سلمان, غير أنه زاد: “فاذروني في البحر”, أو كما حدّث.

فهذا الرجل حمله خوفه من الله وجهله بعموم قدرة الله على أن أوصى أولاده بما ذكر فرحمه الله وغفر له قال شيخ الإسلام ابن تيمية رحمه الله تعالى بعد أن ذكر الحديث واحتجاج العلماء فيه: (فهذا الرجل كان قد وقع له الشك والجهل في قدرة الله تعالى على إعادة ابن آدم بعدما أحرق وذري, وعلى أنه يعيد الميت ويحشره إذا فعل به ذلك, وهذان أصلان عظيمان:

(أحدهما) متعلق بالله تعالى: وهو الإيمان بأنه على كل شيء قدير.

(والثاني) متعلق باليوم الآخر: وهو الإيمان بأن الله يعيد هذا الميت ويجزيه على أعماله, ومع هذا فلما كان مؤمنا بالله في الجملة ومؤمنا باليوم الآخر في الجملة, وهو أن الله يثيب ويعاقب بعد الموت وقد عمل عملا صالحا وهو خوفه من الله أن يعاقبه على ذنوبه غفر الله له بما كان منه من الإيمان بالله واليوم الآخر والعمل الصالح).

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد, وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو : عبد الله بن قعود

عضو : عبد الله بن غديان

نائب رئيس اللجنة : عبد الرزاق عفيفي

الرئيس : عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/HYPFa

About klikUK.com

Check Also

dikir

Fatwa : Meminta Pertolongan kepada Jin

Meminta Pertolongan kepada Jin Fatwa nomor: 1779 Pertanyaan: Apa hukum Islam terhadap orang yang meminta ...