Home / Brankas / Fatwa : Sewa Yang Berujung Kepada Pemilikan

Fatwa : Sewa Yang Berujung Kepada Pemilikan

armenia_water_lily-t2
S
EWA YANG BERAKHIR DENGAN PEMILIKAN

Ketetapan Majma’ al-Fiqh al-Islami tentang masalah sewa yang berakhir dengan pemilikan (al-Ijaar al-Muntahi bittamliik). No. 110.

Majlis Majma’ al-Fiqh al-Islami Internasional yang merupakan bagian dari Munazhomah al-Mu’tamar al-Islami (OKI) dalam daurahnya yang ke-12 di kota Riyadh, Kerajaan Saudi Arabia. Daurah ini diselenggarakan pada tanggal 5 Jumada al-akhirah 1321 Hijriyah hingga awal bulan Rajab 1421 H = 23-28 September 2000 M menyatakan:

Setelah melihat makalah-makalah yang disampaikan kepada al-Majma’ berkenaan dengan masalah sewa yang berakhir dengan pemilikan (al-Ijaar al-Muntahi bittamliik) dan cek penyewaan (Shukuk at-ta’jiir). Juga setelah mendengar diskusi yang berkisar masalah ini dengan peran serta anggota al-majma’ dan para pakarnya serta sejumlah ahli fikih, menetapkan sebagai berikut:

Sewa yang berakhir dengan pemilikan (al-Ijaar al-Muntahi bittamliik).

Pertama: ketentuan bentuk-bentuknya yang diperbolehkan dan yang terlarang adalah sebagai berikut:

  1. Ketentuan larangan: adanya dua transaksi yang berbeda dalam satu waktu pada satu barang di satu waktu.
  2. Ketentuan bolehnya:
  3. Adanya dua transaksi yang terpisah setiap darinya berdiri sendiri dari yang lainnya secara waktu. Dimana transaksi jual beli dipermanenkan setelah transaksi ijaarah (sewa menyewa) atau adanya janji kepemilikan di akhir masa sewa dan hak khiyaar setara dengan janji tersebut dalam hukum.
  4. Sewa menyewa tersebut benar-benar ada (Fi’liyyah) bukan sebagai kamuflase (saatirah) jual beli.
  5. Jaminan (dhamaan) barang yang disewakan adalah tanggung jawab pemilik, bukan pada penyewa. Dengan demikian penyewa tidak memikul semua yang menimpa barang tersebut yang ada bukan dari kesengajaan atau keteledoran penyewa. Penyewa tidak diwajibkan sama sekali apabila manfaat barang hilang.
  6. Apabila transaksi mengandung asuransi barang sewaan, maka wajib asuransinya ta’awuni syariat bukan konvensional dan yang bertanggung jawab (bayar) adalah pemilik atau yang memberikan sewaan (al-Mu`jir) bukan kepada orang yang menyewanya (al-Musta`jir).
  7. Diwajibkan penerapan hukum-hukum sewa menyewa selama masa penyewaan pada transaksi sewa yang berakhir dengan kepemilikan dan penerapan hukum-hukum jual beli ketika pemilikan barang tersebut.
  8. Nafkah pemeliharaan yang tidak menyangkut operasional tanggung jawab pemberi sewaan (al-Mu`jir) bukan kepada penyewa (al-Musta`jir) selama masa penyewaan.

Kedua: Bentuk-bentuk yang dilarang.

  1. Transaksi sewa berakhir dengan pemilikan barang yang disewa sebagai kompensasi (imbalan) pembayaran penyewa selama masa tertentu tanpa dilakukan lagi transaksi baru, dimana sewa berubah secara otomatis diakhir masa sewa sebagai jual beli.
  2. Penyewaan barang milik seseorang dengan uang sewa tertentu dan masa tertentu dengan transaksi jual beli yang bergantung pada pembayaran seluruh nilai sewa yang sudah disepakati selama masa tertentu tersebut atau diberikan tambahan waktu dimasa setelahnya.
  3. Transaksi sewa menyewa murni dan di gabungkan padanya jual beli dengan khiyar syarat untuk kepentingan yang menyewakan (al-Mu`jir) dan itu berupa tempo sampai waktu yanng lama dan terbatas yaitu akhir masa transaksi sewa menyewa.

Inilah isi dari fatwa dan ketetapan yang berasal dari komite ilmiyah dan diantaranya juga komite ulama besar di kerajaan Saudi Arabia.

Ketiga: Bentuk-bentuk yang diperbolehkan.

  1. Transaksi sewa menyewa yang memungkinkan penyewa (al-Musta`jir) memanfaatkan barang sewaan dengan kompensasi membayar sejumlah uang sewa tertentu dalam masa tertentu dan bergabung dengannya transaksi pemberian (Hibah) kepada penyewa (al-Musta`jir) bergantung kepada pelunasan seluruh uang sewa. Hal tersebut dengan transaksi baru lagi. Atau juga janji memberikan (hibah) setelah pelunasan seluruh uang sewa. Ini sesuai dengan ketetapan al-Majma’ tentang masalah al-Hibah no. 13/1/3 dalam daurah ke-3.
  2. Transaksi penyewaan dengan pemilik memberikan al-Khiyaar (hak pilih) kepada penyewa (al-Musta`jir) setelah selesai pelunasan angsuran sewa yang seharusnya selama masa tersebut dalam pembelian barang sewaan tersebut dengan harga umumnya (harga pasar) ketika selesai masa penyewaan. Hal ini berdasarkan pada ketetapan al-Majma’ no. (44) 6/5 dalam daurah ke -5
  3. Transaksi penyewaan yang memungkinkan penyewa (al-Musta`jir) memanfaatkan barang sewaan dengan kompensasi pembayaran uang sewa tertentu dalam masa tertentu. Lalu digabungkan dengannya janji jual beli barang sewaan kepada penyewa (al-Musta`jir) setelah selesai pelunasan seluruh uang sewa dengan nilai harga yang disepakati kedua belah pihak.
  4. Transaksi penyewaan yang memungkinkan penyewa (al-musta’jir) memanfaatkan barang sewaannya dengan kompensasi membayar uang sewa tertentu dalam masa tertentu . pemberi sewa (al-Mu`jir) memberikan kepada penyewa (al-Musta`jir) hak khiyaar untuk memiliki barang sewaan kapan saja suka dengan syarat jual beli sempurna pada waktunya dengan transaksi baru sesuai harga umumnya (harga pasar). Hal ini berdasarkan ketetapan al-Majma’ terdahulu no. (44) 6/5 atau sesuai kesepakatan pada waktu tersebut.

Keempat: ada beberapa bentuk transaksi sewa berakhir kepada pemilikan yang masih diperselisihkan dan butuh penelitian yang insya Allah akan dibahas pada daurah yang akan datang.

Shukuk at-ta`jiir

Al-Majma’ mewasiatkan untuk menunda masalah shukuk at-Ta`jiir untuk lebih banyak pembahasan dan penelitiannya agar disampaikan pada daurah mendatang.

Wallahu ta’ala a’lam

Taudhih al-Ahkaam 5/65-67.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/oYxXd

About klikUK.com

Check Also

ledakan

Ringkasan Fikih Islam : Dosa Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan

Dosa Orang yang Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍ و ...