Home / Akidah Akhlaq / Fatwa Ramadhan : Menunda Qadha Puasa hingga Ramadhan Berikutnya

Fatwa Ramadhan : Menunda Qadha Puasa hingga Ramadhan Berikutnya

bayii

Menunda Qadha Puasa hingga Ramadhan Berikutnya

Pertanyaan kedua dari fatwa nomor 13545

Pertanyaan:

Saya mempunyai istri, pada bulan ramadhan tahun 1409 H mengalami haidh sehingga ia berbuka (tidak berpuasa) selama 14 hari. Setelah berlalu ramadhan ia bisa mengqadha puasanya selama 7 hari dan masih kurang 7 hari. Sekarang ia hamil pada bulan keenam. Saya mohon penjelasan, apakah kaffarah puasa mencukupi dari 7 hari tersebut atau apa yang harus saya lakukan? Semoga Allah memberi kebaikan kepada anda sekalian.

Jawaban:

Wajib bagi istri anda mengqadha sisa hari yang ia berbuka padanya pada bulan ramadhan yang disebabkan karena haidh. Apabila mengakhirkan qadha puasa hingga sampai datang ramadhan berikutnya tanpa udzur syar’i maka ia wajib mengqadha dan kaffarah sejumlah hari yang ia mengqadhanya. Kaffarahnya adalah memberi makan orang miskin setiap hari seukuran setengah sha’ kurma atau gandum atau makanan pokok negara setempat. Ia memberikannya kepada orang-orang faqir negara tersebut dan tidak mengapa diberikan kepada satu orang faqir saja. Adapun apabila mengakhirkannya karena hamil atau sakit maka tidak dibebani sesuatupun kecuali mengqadha saja.

Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa

Ketua              : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua    : Abdurrazaq ‘Afifi

Anggota          : Abdullah bin Ghudayan

 

السؤال الثاني من الفتوى رقم 13545

س2: لدي زوجة وفي شهر رمضان عام 1409هـ. أصابتها عادة الحيض وأفطرت 14يوماً، وبعد ذلك تمكنت من صيام سبعة أيام وبقي عليها سبعة أيام، وهي الآن حامل في الشهر السادس. أرجو إفادتي هل كفارة الصيام تجزئ عن ذلك أم ماذا أفعل؟ جزاكم الله خيراً.

ج2: يجب على زوجتك قضاء بقية الأيام التي أفطرتها من رمضان بسبب الحيض، وإذا كان تأخيرها القضاء إلى رمضان آخر بدون عذر شرعي فيجب عليها مع القضاء كفارة عن كل يوم تقضيه، والكفارة هي إطعام مسكين، عن كل يوم مقدار نصف صاع من تمر أو بر ونحوه من قوت البلد، يدفع لفقراء البلد ولو لفقير واحد، أما إن كان التأخير من أجل الحمل أو المرض فلا شيء عليها سوى القضاء.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو                 نائب رئيس اللجنة                الرئيس              

عبدالله بن غديان            عبد الرزاق عفيفي             عبد العزيز بن عبد الله بن باز

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta’ jilid 10 tentang zakat dan puasa yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy).

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/TpLzr

About klikUK.com

Check Also

wali_Allah_wali_setan

Puasa ‘Asyura Ternyata Bukan Tanggal 10, Bagaimana..?

Hukum Puasa yang Ternyata Bukan Tanggal 10 Pertanyaan: Barangsiapa berpuasa pada tanggal 9 dan 10 ...