Home / Akidah Akhlaq / Fatwa : Menikah Dengan Non Muslim

Fatwa : Menikah Dengan Non Muslim

love_rings-t2


Fatwa : Menikah Dengan Non Muslim

Keputusan ke -3 dalam daurah ke-4 Majma’ Fikih Islami

Hukum orang kafir menikahi muslimah dan seorang muslim menikahi wanita kafir.

Majlis al Majma’ al-Fiqhi al-Islami setelah melihat pemaparan organisasi masa islam di Singapura yaitu:

  1. Jum’iyyah al-Bi’tsaat al-Islamiyah (Muslim Missionary Soceity).
  2. PERAYANZ
  3. Muhammaddiyah Assosiasi
  4. PERTAS
  5. PERTAPIS (Persatuan Taman Pengajian Islam).

Tentang pernyataan dalam peraturan hak-hak wanita berupa diperbolehkannya seorang muslim dan muslimah menikah dengan orang yang tidak beragama Islam dan seputar hal itu. Majlis menetapkan secara ijma’ sebagai berikut:

  1. Pernikahan orang kafir dengan muslimah haram dan tidak boleh dengan kesepakatan para ulama dan sudah pasti hal tersebut karena nash-nash syariat menunjukannya. Allah berfirman:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. (QS. al-baqarah/2 :221).

Firman Allah:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا جَاءَكُمُ الْمُؤْمِنَاتُ مُهَاجِرَاتٍ فَامْتَحِنُوهُنَّ اللَّهُ أَعْلَمُ بِإِيمَانِهِنَّ فَإِنْ عَلِمْتُمُوهُنَّ مُؤْمِنَاتٍ فَلَا تَرْجِعُوهُنَّ إِلَى الْكُفَّارِ لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ وَآَتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا

Hai orang-orang yang beriman, apabila datang berhijrah kepadamu perempuan-perempuan yang beriman, Maka hendaklah kamu uji (keimanan) mereka. Allah lebih mengetahui tentang keimanan mereka;maka jika kamu telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kamu kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka. Dan berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar. (Qs al-Mumtahanah/60 : 10).

Pengulangan pada firman Allah :

لَا هُنَّ حِلٌّ لَهُمْ وَلَا هُمْ يَحِلُّونَ لَهُنَّ

mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka

Menegaskan dengan sangat kuat tentang larangan dan pemutusan hubungan antara mukminah dengan orang musyrik.

Juga firman Allah:

وَآَتُوهُمْ مَا أَنْفَقُوا

berikanlah kepada (suami suami) mereka, mahar yang telah mereka bayar

adalah perintah memberikan suami yang kafir semua yang dikeluarkannya untuk istrinya apabila sang istri masuk Islam, sehingga ia tidak rugi kehilangan istri dan hartanya sekaligus. Apabila wanita musyrik sebagai istri orang kafir maka keislaman sang istri mengharamkannya dan istri tersebut tidak halal baginya setelah itu.

Bagaimana dinyatakan kehalalan memulai akad nikah orang kafir dengan muslimah. Bahkan Allah memperbolehkan menikahi wanita musyrik setelah masuk islam walaupun statusnya sebagai istri orang kafir, karena tidak bolehnya sang wanita menjadi istri orang kafir tersebut karena keislamannya. Maka ketika itu seorang muslim boleh menikahinya setelah sebesai masa iddahnya, sebagaimana dijelaskan dalam firman Allah:

وَلَا جُنَاحَ عَلَيْكُمْ أَنْ تَنْكِحُوهُنَّ إِذَا آَتَيْتُمُوهُنَّ أُجُورَهُنَّ

Dan tiada dosa atasmu mengawini mereka apabila kamu bayar kepada mereka maharnya. (Qs al-Mumtahanah/60 : 10).

  1. Demikian juga seorang muslim tidak boleh menikahi wanita musyrik berdasarkan firman Allah:

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّى يُؤْمِنَّ

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. (Qs al-baqarah/2:221) dan firman Allah:

وَلَا تُمْسِكُوا بِعِصَمِ الْكَوَافِرِ

Dan janganlah kamu tetap berpegang pada tali (perkawinan) dengan perempuan-perempuan kafir; (Qs al-Mumtahanah/60 : 10).

 

Kholifah Umar bin al-Khathaab telah menceraikan dua istrinya yang masih musyrik, ketika turun ayat ini. Ibnu Qudamah al-Hambali mengisahkan bahwa tidak ada perbedaan pendapat para ulama dalam pengharaman wanita kafir selain ahli kitab atas seorang muslim.

Sedangkan wanita-wanita baik-baik dari ahli kitab diperbolehkan seorang muslim menikahi mereka. Dalam hal ini tidak ada perbedaan para ulama kecuali sekte Imamiyah yang berpendapat keharamannya. Yang utama seorang muslim tidak menikahi wanita ahli kitab bila ada wanita muslimah yang merdeka. Syeikhul Ilsam ibnu Taimiyah berkata: dimakruhkan menikahi mereka dengan adanya kaum muslimat yang merdeka. Beliau berkata dalam al-Ikhtiyaarat: pendapat ini adalah pendapat al-Qaadhi dan mayoritas ulama, berdasarkan pernyataan kholifah Umar kepada orang-orang yang menikahi wanita ahli kitab untuk menceraikan mereka. Lalu mereka menceraikan istri-istri mereka tersebut kecuali Hudzaifah yang tidak mau menceraikannya, kemudian akhirnya setelah itu beliau menceraikan istrinya yang ahli kitab tersebut. Karena seorang muslim kapan menikahi wanita ahli kitab, hatinya akan cenderung mencintainya sehingga menjadi fitrnah dan kadang melahirkan anak lalu sang anak cenderung memilih ibunya tersebut.

Wallahu a’lam.

Yang menanda tangani fatwa ini:

  1. Abdullah bin Humaid sebagai ketua Majlis
  2. Muhammad Ali al-Harakaan sebagai Wakil Ketua majlis
  3. Abdulaziz bin Abdillah bin baaz
  4. Mushthafa az-Zarqa`
  5. Muhammad Mahmud ash-Shawaaf
  6. Shalih bin ‘Utsaimin
  7. Muhammad bin Abdillah bin as-Subeil
  8. Mabruk al-‘Awaadi
  9. Muhammad as-Syaadzili al-Naifar
  10. Abdulqadus al-Haasayimi
  11. Muhammad Rasyidi
  12. Abul Hasan bin Ali al-Hasani an-Nadawi (tidak hadir dalam penandatanganan).
  13. Abu Bakar Mahmud Jumi
  14. Hasanain Muhammad Makhluf
  15. Muhammad Rasyid Qubaani
  16. Mahmud Syit Khathaab (Ghaib).
  17. Muhammad Saalim ‘Adud (Ghaib)

(Qararaat al-Majma’ al-Fiqhi al-Islami Li rabithah al-‘Alam al-Islami min Dauarah al-Ula Ila ad-dauarah ats-Tsaaminah hlm 69-70).

 

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/LLUzT

About klikUK.com

Check Also

ledakan

Ringkasan Fikih Islam : Dosa Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan

Dosa Orang yang Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍ و ...