Home / Akidah Akhlaq / Fatwa : Larangan Keras Perdukun

Fatwa : Larangan Keras Perdukun

FATWA LAJNAH DAIMAH LILBUHUTS AL-ILMIYAH WALIFTA
JILID 1 TENTANG AQIDAH
Disusun oleh: ASY-SYAIKH AHMAD BIN ABDURRAZAQ AD-DUWAISY

Perdukunan
Fatwa nomor: 3261

Pertanyaan:

Kami hidup di suatu kota yang penduduknya ketika shalat tidak membaca taawudz, basmalah dan doa istiftah serta tidak diam pada keadaan yang Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diam padanya. Kebanyakan mereka memotong jenggot, lebih khusus lagi para khatib jumat menambah bidah yang lain, yang mana hal ini merupakan penganiayaan terhadap agama Islam.

Terkadang mereka melakukan perbuatan lainnya seperti perdukunan dan memberi fatwa-fatwa sesat dengan harapan mendapat ridha manusia. Dan perlu diketahui bahwa kami telah menyampaikan kepada mereka apa yang shahih dari Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam khususnya terkait dengan perkara shalat akan tetapi mereka menolak dengan segala macam kekuatan mereka. Mereka berkata: “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.” Mereka ini para pemimpin yang tidak memperhatikan ketaatan kepada Allah dalam mendidik anak-anak mereka kecuali yang dirahmati Allah dan jumlah mereka itu sedikit. Diantara mereka ada yang anak-anak perempuan mereka pergi safar dalam kondisi telanjang (nampak auratnya) tanpa memperhatikan bahwa perbuatan mereka bertentangan dengan ajaran Islam. Adapun para khatib mereka ridha dengan kemungkaran yang mereka lakukan pada hari jumat seperti meriwayatkan hadits sebelum khutbah dan membaca al-Quran berjamaah sebelum khatib masuk ke dalam masjid serta mereka adzan tiga kali pada hari jumat. Ini adalah penampakan yang jelas di negeri kami. Mereka semua telah diperingatkan oleh ikhwan sunni yang berpegang teguh dan mereka terus senantiasa bergegang teguh dengan sunnah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.
Itulah sedikit perkara yang kami sebutkan yang mana kami mendapatinya berupa bidah, menyelisihi apa yang dibawa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

Pertanyaannya; apakah boleh orang Muslim shalat di belakang imam-imam pelaku bidah?
Apakah menyelisihi sunah apabila shalat di belakang imam yang sebagian dari jamaah shalat membaca surat al-Fatihah yaitu doa secara !+ sehabis shalat dengan suara keras. Demikan juga mereka membaca hizb/dzikir khusus setelah shalat subuh dan shalat maghrib secara berjamaah dan kontinyu rutin tiap hari seperti itu. Mereka membaca al-Quran di tempat-tempat yang dimuliakan, festival-festival dan pesta perkawinan yang mana mereka akan mendapat dirham. Sebagaimana juga mereka membaca al-Quran di kuburan dan dekat jenazah yang mana mereka akan mendapat dirham. Mereka mengiringi jenazah dengan dzikir. Kami mohon anda sekalian menjelaskan kepada kami dengan penjelasan yang mencukupi dan gamblang sehingga kami berada di atas ajaran yang jelas dari agama kami ini?

Jawaban Pertama: kebenaran berada pada orang yang bertaawudz kepada Allah dari setan yang terkutuk ketika akan memulai membaca al-Quran, baik membacanya dalam shalat maupun di luar shalat, hal ini berdasarkan keumuman firman-Nya Taala:

فَإِذَاتَ الْقُرْآنَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ“

Apabila kamu membaca Al Quran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. ”akan tetapi membacanya dengan pelan ketika dalam shalat seperti bacaan basmalah.

Kebenaran juga berada pada orang yang membaca basmalah pelan sebelum membaca الحمد لله رب العالمين dalam shalat, demikian juga berhenti sejenak antara takbiratul ihram dengan bacaan al-Fatihah untuk membaca doa istiftah, begitu juga dg diam/berhenti antara bacaan tersebut dan rukuk. Barangsiapa yang mengamalkan amalan tersebut maka ia telah benar dan mendapat dua pahala. Barangsiapa menyelisihinya maka ia diberi udzur dan diberi satu pahala apabila seorang mujtahid yang berusaha mencari kebenaran kemudian ia salah dalam hasil ijtihadnya.

Dibolehkan shalat setiap dari dua kelompok tersebut di belakang kelompok lainnya. Perkara dalam masalah ini longgar. Saling menjelekkan dan pertikaian dalam masalah tersebut tidak diperbolehkan.

Kedua: Mencukur jenggot hukumnya haram. Berdasarkan perintah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam agar memanjangkannya dan memotong kumis, karena memotong jenggot adalah menyelisihi fithrah.
Ketiga: Dukun adalah orang yang mengaku mengetahui perkara ghaib atau mengetahui apa yang tersembunyi (dalam hati manusia). Kebanyakan hal itu terjadi pada orang-orang yang mengawasi bintang-bintang untuk mengetahui berbagai kejadian atau orang-orang yang meminta bantuan setan jin, atau orang yang menulis dengan darah atau orang yang melihat pada cangkir atau telapak tangan, atau orang yang membuka kitab lalu mengaku mengetahui hal ghaib. Mereka kafir disebabkan mereka menyekutukan diri mereka dengan Allah dalam sifat diantara sifat-sifat-Nya yang khusus milik Allah yaitu mengetahui ilmu ghaib dan karena mendustakan ayat Allah Taala:

قُلْ لَا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ الْغَيْبَ إِلَّا اللَّهُ

Katakanlah: “Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah” dan firman-Nya:
عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا . إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ فَإِنَّهُ يَسْلُكُ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ رَصَدًا

“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya.” Dan firman-Nya:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri.”

Barangsiapa mendatangi dukun dan membenarkan hal-hal perdukunan yang dikatakannya, maka ia juga kafir; berdasarkan hadits riwayat Abu Dawud dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang diucapkan dukun tersebut maka sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.” Dan berdasarkan hadits riwayat ashabussunan yang dishahihkan al-Hakim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam bersabda:

من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم

“Barangsiapa mendatangi tukang ramal atau dukun lalu membenarkan apa yang dikatakan tukang ramal atau dukun tersebut maka sungguh ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.” Dan hadits-hadits lainnya tentang kafirnya tukang ramal dan dukun serta siapa saja yang membenarkannya.

Tidak boleh shalat di belakang mereka dan apabila tetap shalat di belakang mereka maka shalatnya tidak sah. Bagi yang shalat di belakang mereka da ia mengetahui hukumnya maka hendaknya ia mohon ampun kepada Allah dan mengulangi shalatnya.

Keempat: Bagi yang mengurusi perkara keluarga hendaknya membimbing wanita tersebut kepada kebaikan dan kebahagiaan dalam urusan agama dan dunianya. Dan mengajari adab-adab islamiyah karena wanita tersebut adalah orang yang dipimpinnya. Setiap pemimpin bertanggung jawab atas apa yang dipimpinya. Sungguh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menjelaskannya, beliau bersabda:

كلكم راع ومسئول عن رعيته

“Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.” Lebih khusus lagi para imam masjid dan para ulama, karena mereka adalah teladan masyarakat. Acunya mereka pada diri-diri mereka sendiri dan pada perkara keluarga mereka akan menjadikan selaim mereka berani acuh terhadap urusan agama dan melanggar batasan-batasan agama serta adab-adabnya. Barangsiapa yang menyepelekan dalam memberikan bimbingan kepada keluarganya dan dalam mendidik adab mereka sampai misalnya istri dan anak-anaknya serta saudari-saudarinya keluar safar menampakkan aurat mereka maka hukum shalat di belakangnya seperti hukum shalat di belakang orang-orang fasik dan orang yang memotong jenggot, yaitu yang shahih dari dua pendapat ulama adalah sah shalatnya.

Kelima: Membaca ayat; إن الله وملائكته يصلون على النبي dan membaca hadits peringatan agar tidak berbicara ketika khutbah dan agar diam di hadapan khatib jumat merupakan perkara bidah. Demikian juga membaca al-Quran secara berjamaah sebelum datangnya khatib ke masjid dan juga adzan pertama dan kedua dengan doa-doa dan dzikir-dzikir debelum adzan syari yang dikumandangkan ketika masuk shalat jumat termasuk bidah yang tersebar di negara-negara Islam dan didiamkan oleh kebanyakan para Ulama. Semua ini merupakan perbuatan bidah dalam agama dan ajaran yang tidak mendapat izin dari Allah.

Kita memohon keselamatan dan kita memohon agar Allah menolong ahlussunah dalam mengingkarinya dan menghilangkannya sehingga kaum muslimin kembali kepada petunjuk Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam dan khulafaurrasyidin radhiyallahu anhum. Dan kita memohon kepada-Nya pahala dan balasan bagi anda sekalian atas apa yang anda sekalian kerjakan berupa mengingkari bidah ini dan selainnya dari bidah dalam agama Islam ini. dan semoga Allah memberi keteguhan kepada anda sekalian dalam berpegang teguh dengan kebenaran dan menolong anda sekalian dalam memenangkan as-sunnah dan mengalahkan bidah, sesungguhnya Allah adalah dzat yang mengabulkan doa.
Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa

Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz

Wakil Ketua : Abdurrazaq Afifi

Anggota : Abdullah bin Ghudayan

Anggota : Abdullah bin Quud
(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta tentang aqidah yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy, dari situs www.dorar.net atau mauqiu ad-durar as-saniyah).

الكهانة

فتوى رقم3261 :

س: إننا نعيش في مدينة أهلها لا يتعوذون ولا يسمون ولا يقرأون دعاء الاستفتاح ولا يسكتون في المواضع التي كان الرسول صلى الله عليه وسلم يسكت فيها، وكثير منهم يحلقون اللحى خصوصا خطباء الجمعة زيادة على بدع أخرى معادية للإسلام، وقد يعملون أشياء أخرى كالكهانة والفتاوى الباطلة من أجل الإرضاء، مع العلم أننا أبلغناهم ما ثبت عن النبي صلى الله عليه وسلم فيما يخص قضية الصلاة لكنهم رفضوا بكل قوة، وقالوا: حسبنا ما وجدنا عليه آباءنا، وهؤلاء الأئمة لا يراعون طاعة الله في تربية أبنائهم إلا من رحم الله وقليل ما هم، فمنهم من تخرج فتياتهم سافرات عاريات دون أن يبالين بأن أفعالهن منافية للإسلام، وأما الخطباء فهم راضون عن المنكر الذي يعملونه يوم الجمعة من رواية الحديث قبل الخطبة وقراءة القرآن جماعة قبل أن يدخل الخطيب المسجد ويؤذنون ثلاث مرات يوم الجمعة، وهذه ظاهرة شائعة في بلادنا، وكلهم قد نبهوا من طرق الإخوان السنيين الذين تمسكوا وما زالوا متمسكين بسنة النبي صلى الله عليه وسلم.

هذه بعض النقط القليلة التي ذكرناها من البدع التي وجدناها على خلاف ما جاء عليه النبي صلى الله عليه وسلم.

س: هل يجوز للمسلم أن يصلي وراء هؤلاء الأئمة المبتدعة؟

هل المنكر للسنة تجوز الصلاة وراءه وبعض هؤلاء يعملون الفاتحة – أي: الدعاء – جماعة دبر كل صلاة بصوت مرتفع، كما يقرؤون الحزب بعد صلاة الفجر وبعد صلاة المغرب جماعة ودوما، ويقرؤون القرآن في المكارم والحفلات والأعراس مقابل الدراهم، كما يقرؤون القرآن في المقابر وفي الجنائز مقابل الدراهم ويشيعون الجنازة بالذكر، ونريد منكم أن تبينوا لنا بيانا شافيا واضحا حتى نكون على بينة من ديننا؟

ج: أولا: الحق مع من يستعيذ بالله من الشيطان الرجيم عند بدء القراءة سواء كانت القراءة في الصلاة أم لا; لعموم قوله تعالى: فإذا قرأت القرآن فاستعذ بالله من الشيطان الرجيم لكنها يسر بها في الصلاة كالتسمية، والحق أيضا مع من يقرأ البسملة سرا قبل الحمد لله رب العالمين في الصلاة، وكذا السكوت سكتة خفيفة بين تكبيرة الإحرام والقراءة، وقراءة دعاء الاإستفتاح فيها، وكذا السكوت بين نهاية القراءة والركوع، ومن قال بذلك فهو مصيب مأجور أجرين، ومن خالف فهو معذور مأجور أجرا واحدا إذا كان مجتهدا متحريا للصواب فأخطأ، ويجوز صلاة كل من الفريقين وراء الآخر والأمر في ذلك واسع، والمشادة أو الخصام فيه لا تجوز.

ثانيا: حلق اللحية حرام؛ لأمر النبي صلى الله عليه وسلم بإعفائها وإحفاء الشارب ولمخالفته للفطرة.

ثالثا: الكاهن: من يزعم أنه يعلم المغيبات أو يعلم ما في الضمير، وأكثر ما يكون ذلك ممن ينظرون في النجوم لمعرفة الحوادث أو يستخدمون من يسترقون السمع من شياطين الجن، ومثل هؤلاء من يخط في الرمل وينظر في الفنجان أو في الكف ومن يفتح الكتاب زعما منهم أنهم يعرفون بذلك الغيب، وهم كفار لزعمهم أنهم شاركوا الله في صفة من صفاته الخاصة به وهي علم الغيب، ولتكذيبهم بقوله تعالى: قل لا يعلم من في السماوات والأرض الغيب إلا الله وبقوله: عالم الغيب فلا يظهر على غيبه أحدا إلا من ارتضى من رسول فإنه يسلك من بين يديه ومن خلفه رصدا وقوله: وعنده مفاتيح الغيب لا يعلمها إلا هو ومن أتاه وصدقه بما يقول من الكهانة فهو كان كافر أيضا؛ لما رواه أبو داود من حديث أبي هريرة رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم. ولما رواه أصحاب السنن والحاكم وصححه، عن أبي هريرة رضي الله عنه، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: من أتى عرافا أو كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد صلى الله عليه وسلم. إلى غير ذلك من الأحاديث في كفر العرافين والكهان ومن صدقهم.

وهؤلاء لا تجوز الصلاة وراءهم ولا تصح، وعلى من صلى وراءهم وهو يعلم أن يستغفر الله ويعيدها.

رابعا: على ولي أمر الأسرة أن يرشدها إلى ما فيه الخير والسعادة لها في دينها ودنياها، وأن يؤدبها بآداب الإسلام فإنها رعيته، وكل راع مسئول عن رعيته، وقد بين ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال: كلكم راع ومسئول عن رعيته. الحديث، وخاصة أئمة المساجد وسائر العلماء، فإنهم قدوة الناس وإهمالهم في أنفسهم وفي شئون أسرهم يجرئ غيرهم على الإهمال في الدين وتجاوز حدوده وآدابه، فمن فرط في إرشاد أهله وتأديبهم حتى خرجت امرأته وبناته وأخواته مثلا سافرات متكشفات فحكم الصلاة وراءه كحكم الصلاة وراء الفساق كحالق اللحية، والصحيح من قولي العلماء صحتها.

خامسا: قراءة آية: إن الله وملائكته يصلون على النبي وقراءة حديث التحذير من الكلام وقت الخطبة والأمر بالإنصات بين يدي خطيب الجمعة قبل بدئه الخطبة من البدع، وكذا قراءة القرآن جماعة يوم الجمعة قبل مجيء الخطيب إلى المسجد، والأذان الأول والثاني بالأدعية والأذكار قبل الأذان الشرعي الذي يؤذن به عند دخول وقت الجمعة من البدع التي انتشرت في البلاد الإسلامية وسكت عنها كثير من العلماء، كل هذا من الابتداع في الدين وشرع ما لم يأذن به الله، فنسأل الله العافية ونرجوه أن يعين أهل السنة على إنكار ذلك وإزالته حتى يعود المسلمون إلى هدي النبي صلى الله عليه وسلم وخلفائه الراشدين رضي الله عنهم، ونسأله تعالى الأجر والمثوبة لكم على ما قمتم به من إنكار هذه البدع وغيرها من المحدثات في الدين، وأن يثبتكم على الحق ويعينكم على نصر السنة وقمع البدعة، فإنه سبحانه مجيب الدعاء.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد, وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو

عضو

نائب رئيس اللجنة

الرئيس

عبد الله بن قعود

عبد الله بن غديان

عبد الرزاق عفيفي

عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/d8qW2

About klikUK.com

Check Also

wali_Allah_wali_setan

Puasa ‘Asyura Ternyata Bukan Tanggal 10, Bagaimana..?

Hukum Puasa yang Ternyata Bukan Tanggal 10 Pertanyaan: Barangsiapa berpuasa pada tanggal 9 dan 10 ...