Home / Akidah Akhlaq / Fatwa : Hukum Mendatangi Penyihir, Dukun dan Peramal

Fatwa : Hukum Mendatangi Penyihir, Dukun dan Peramal

FATWA LAJNAH DAIMAH LILBUHUTS AL-ILMIYAH WALIFTA
JILID 1 TENTANG AQIDAH
Disusun oleh: ASY-SYAIKH AHMAD BIN ABDURRAZAQ AD-DUWAISY

Hukum Pergi ke Penyihir, Dukun dan Peramal

Fatwa nomor : 6291

Pertanyaan pertama: di sebagian kota di negara kami terdapat beberapa orang yang mengobati orang-orang yang sakit dengan darah dari hewan buas dan burung serta binatang melata, baik daging hewan tersebut halal maupun haram. Apa hukum perbuatan ini, baik yang dilakukan berkali-kali maupun yang hanya sekali..? Mohon penjelasannya, semoga anda sekalian mendapat pahala dari Allah.
Kedua: Apa hukum pergi ke penyihir, dukun dan peramal?

Jawab :

Jawaban Pertama: diharamkan makan daging setiap hewan buas yang menangkap mangsa dengan taringnya seperti singa, serigala dan harimau. Demikian juga setiap hewan buas yang menangkap mangsa dengan cakarnya seperti burung rajawali dan burung elang, juga binatang keledai jinak dan bighal (peranakan dari kuda dan keledai). Hal ini berdasarkan hadits valid dari Abu Tsalabah al-Khusyani radhiyallahu anhu bahwasanya ia berkata :

نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أكل كل ذي ناب من السباع

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang makan daging setiap hewan buas yang memiliki gigi taring.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dan juga hadits dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

نهى عن أكل كل ذي ناب من السباع، وكل ذي مخلب من الطير

“Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melarang makan daging setiap hewan buas yang memiliki gigi taring dan setiap burung yang memiliki cakar.”

Hadits-hadits ini mengecualikan dari keumuman ayat :

قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Tiadalah aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yang mengalir atau daging babi – karena sesungguhnya semua itu kotor – atau binatang yang disembelih atas nama selain Allah. Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”,

Atau boleh juga dikatakan bahwa hadits-hadits ini datang untuk mengharamkan hewan-hewan yang disebutkan di dalamnya sebagai tambahan atas apa yang telah diharamkan Allah dalam ayat makkiyah tersebut. Dan karena hewan-hewan yang ditanyakan oleh penanya adalah hewan yang haram dimakan maka tidak boleh digunakan untuk obat demikian juga hewan-hewan haram lainnya.

Adapun hewan yang halal dimakan maka boleh dijadikan sebagai obat.

Kedua: tidak boleh pergi ke penyihir, dukun dan peramal serta tidak boleh membenarkan ucapan mereka berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:

من أتى عرافا فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة

“Barangsiapa mendatangi al-Arraf lalu bertanya tentang sesuatu maka shalatnya selama empat puluh malam tidak diterima.” (HR. Muslim dalam shahihnya).

Al-Arraf itu umum mencakup dukun, peramal dan penyihir. Dan juga berdasarkan sabda Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam:

من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد

“Barangsiapa mendatangi dukun lalu membenarkan apa yang dikatakan oleh dukun tersebut maka sungguh ia telah kufur dengan apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam.” (HR. ahlussunan).
Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.
Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa

Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua : Abdurrazzaq Afifi
Anggota : Abdullah bin Ghudayan
Anggota : Abdullah bin Quud

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta tentang aqidah yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy, dari situs www.dorar.net atau mauqiu ad-durar as-saniyah).

Teks Asli

ما حكم الذهاب إلى السحرة والكهان والمنجمين

فتوى رقم 6291

س: أولا: يوجد في بعض المناطق من بلادنا أن بعض الأفراد يعالجون مرضاهم بلحوم السباع والطير والدواب سواء منها حلال اللحم أو حرامه فما حكم هذا الصنيع سواء كان ذلك مجربا عدة مرات أو غير ذلك؟ أفتونا مأجورين.

ثانيا: ما حكم الذهاب إلى السحرة والكهان والمنجمين.

ج: أولا: كل ما كان مفترسا بنابه كالأسد والذئب والنمر من السباع، وكل ذي مخلب يفترس به كالحدأة والصقر من الطيور، وكالحمر الأهلية والبغال من الدواب – أكله حرام، لما ثبت عن أبي ثعلبة الخشني رضي الله عنه أنه قال: نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عن أكل كل ذي ناب من السباع. رواه البخاري ومسلم، وعن ابن عباس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم: نهى عن أكل كل ذي ناب من السباع، وكل ذي مخلب من الطير.

وهذه الأحاديث مخصصة لعموم الآية: قل لا أجد في ما أوحي إلي محرما على طاعم يطعمه إلا أن يكون ميتة أو دما مسفوحا أو لحم خنزير فإنه رجس أو فسقا أهل لغير الله أو يقال: إن الأحاديث جاءت لتحريم ما ذكر فيها زيادة على ما كان قد حرمه الله من قبل في الآيات المكية، ولما كانت هذه محرمة لم يجز التداوي بها ولا بغيرها من المحرمات.

أما ما كان حلالا أكله فيجوز التداوي به.

ثانيا: لا يجوز الذهاب إلى السحرة ولا إلى الكهان والمنجمين ولا تصديقهم؛ لقول النبي صلى الله عليه وسلم: من أتى عرافا فسأله عن شيء لم تقبل له صلاة أربعين ليلة خرجه مسلم في صحيحه والعراف يعم الكاهن والمنجم والساحر، وقوله صلى الله عليه وسلم: من أتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما أنزل على محمد أخرجه أهل السنن

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد, وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو : عبد الله بن قعود

عضو : عبد الله بن غديان

نائب رئيس اللجنة : عبد الرزاق عفيفي

الرئيس : عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/UzVZt

About klikUK.com

Check Also

Memilih teman yg baik

Pilar-pilar Keberhasilan dalam Pendidikan Anak -9

  Teman Shalih Menjaga anak-anak dalam pertemanannya termasuk pilar utama yang wajib diperhatikan dalam pendidikan ...