Home / Akidah Akhlaq / Fatwa : Curahan Hati Wanita Yatim Piatu

Fatwa : Curahan Hati Wanita Yatim Piatu

Fatwa nomor: 10176
Pertanyaan:

Saya seorang Muslimah dan alhamdulillah saya yatim piatu sejak kecil, sekarang saya berumur 31 tahun. Saya beramal sebagaimana Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkannya kepadaku semampuku insya Allah. Saya hidup bersama dengan nenekku dari jalur ibu semenjak saya dilahirkan hingga sekarang.

Permasalahan yang saya hadapi yaitu bahwa nenekku melakukan praktek ramalan dan perdukunan, ia menyembelih hewan untuk selain Allah dan mengambil darahnya dari hewan sembelihan tersebut, dan Allah yang lebih tahu apa yang ia lakukan dengannya. Ia mensyaratkan ayam dari orang (yang datang kepadanya) dan mengambil bulunya, demikian juga membakar dupa kemenyan dan meletakkan kulit ikan dan kulit binatang-binatang melata pada tempat pembakaran kemenyan tersebut. Ia juga meyakini (kemampuan/kekuatan) penghuni kubur. Ia hidup dalam pekerjaan ini.

Adapun saya, setelah mengetahui halal dan haram, saya berusaha berbuat baik kepadanya, dan dalam waktu yang bersamaan saya menjauhi hal-hal yang haram dan tidak memakan yang haram, serta tidak membantunya dalam pekerjaan ini sampai dalam menemui tamu saya tidak minta upah, karena saya mendengar apa yang difirmankan Allah Ta’ala dalam kitab-Nya yang mulia dan apa yang disabdakan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wasallam. Dan saya melihat orang-orang masuk dan bermuamalah dengannya sampai para laki-laki beserta keluarga mereka membenarkannya dan takut bercakap-cakap dengannya karena ia akan marah kepada mereka. Mereka berkata kepadaku: ini ada wasiat ibumu dan ia (nenek) memiliki hak kedua orang tuamu (atasmu) dan engkau wajib taat kepadanya, karena beliau sudah tua dan terlihat tanda-tanda bahwa beberapa tahun lagi akan meninggal. Saya telah meninggalkan makan bersamanya dan saya meninggalkan dari membantu mengurus rumah, karena kawatir saya membantunya dalam pekerjaannya.

Pada akhirnya saya tidak dapat bercakap-cakap dengannya sampai salam pun saya tidak bisa mengucapkannya, karena sebagaimana yang saya baca bahwa tidak boleh mengucapkan salam kepada orang kafir, dan saya membaca kitab sebagian ulama bahwa sekalipun hanya berupa kertas atau segelas air tidak boleh disuguhkan kepada pelaku perbuatan tersebut.

Sebagian keluargaku dan saudari-saudariku dalam ikatan iman kepada Allah berkata kepadaku: Apabila nenekmu memberimu sesuatu maka ambillah lalu buanglah di tempat sampah. Apabila ia memberimu harta ambillah lalu sedekahkanlah. Rumah ini adalah rumahnya ia memiliki hak untuk memasukkan siapa saja yang ia kehendaki sampai laki-laki asing. Ia marah kepadaku dan berkata : saya tidak mengizinkanmu dan aku akan menggugatmu di hadapan Allah pada hari kiamat. Sementara saya tidak memiliki rumah yang bisa saya pergi ke sana dan tidak ada seorang laki-laki muslim pun yang meminangku karena saya sudah cukup tua, berilah nasehat apa yang harus saya lakukan?

1. Apa hukum perbuatan yang saya lakukan kepada nenekku yaitu tidak mengurus rumah, perkataanku kepadanya dan makan bersamanya?

2. Apakah ia memiliki hak orang tuaku ataukah tidak karena saya takut siksa Allah (apabila tidak menunaikan hak tersebut takut diadzab Allah)?

3. Apakah saya harus memutus hubungan dengan bibiku dan sanak kerabatku, karena mereka membenarkan apa yang nenek lakukan, padahal mereka juga mengetahui bahwasanya perbuatan itu haram, dan saya berkata kepada mereka tentang hal ini meskipun mereka shalat tetapi mereka sejatinya menyekutukan Allah, mereka pergi ke kuburan para wali dan para penipu?

4. Laki-laki melaksanakan shalat tetapi menyembeli hewan untuk nenekku, apakah boleh daging sembelihannya dimakan, dan apakah sembelihannya halal?

5. Apakah boleh makan sembelihan ahlul bid’ah dan orang musyrik yang memepercayai para wali dan selain mereka?

6. Apa hukum agama apabila saya pergi ke rumah mereka lalu makan makanan mereka, sedangkan mereka mengambil makanan dan beberapa uang dari nenek?

7. Apabila nenek memberiku hadiah, apakah saya menerimananya sebagaimana dalam hadits Asma’ yang menerima hadiah dari Ibunya yang masih musyrik?

8. Apakah boleh bagiku menikah dengan seorang laki-laki yang melaksanakan shalat tetapi ia musyrik karena sebab di atas?

9. Para waliku tidak melaksanakan shalat, apakah mereka memiliki hak dalam pernikahanku ataukah tidak memiliki hak? Apabila hakim muslim, apa yang harus saya lakukan?

Jawaban:

1. Haram pekerja dalam perdukunan dan ramalan, berdasarkan hadits-hadits yang ada dalam perkara tersebut.

2. Engkau tidak boleh membantu nenekmu dalam perbuatan yang haram, dan tidak ada halangan membantunya dalam perkara selain maksiat kepada Allah Ta’ala berdasarkan firman Allah Ta’ala tentang kedua orangtua yang kafir:

وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا

Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik

3. Haram menyembelih hewan untuk selain Allah, itu adalah perbuatan syirik, dan tidak boleh makan sembelihan orang musyrik.

4. Engkau boleh pergi ke rumah sanak kerabatmu untuk menasehati mereka mengenai apa-apa yang mereka lakukan seperti berdo’a kepada para wali dan perbuatan haram lainnya.

5. Tidak boleh makan makanan yang diperoleh dari usaha yang haram dan tidak boleh diterima hadiah darinya.

6. Seorang muslimah tidak boleh menikah dengan laki-laki musyrik atau tidak melaksanakan shalat dan tidak sah akad pernikahannya.

7. Yang menjadi wali pernikahan bagi seorang wanita adalah walinya yang Muslim, apabila ada udzur maka dikembalikan kepada hakim syar’i.
Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa
Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua : Abdurrazaq ‘Afifi
Anggota : Abdullah bin Ghudayan

FATWA LAJNAH DAIMAH LILBUHUTS AL-ILMIYAH WALIFTA’
JILID 1 TENTANG AQIDAH
Disusun oleh: ASY-SYAIKH AHMAD BIN ABDURRAZAQ AD-DUWAISY

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta’ tentang aqidah yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy, dari situs www.dorar.net atau mauqi’u ad-durar as-saniyah).

فتوى رقم 10176:

س: أنا فتاة مسلمة والحمد لله يتيمة من الأب والأم أبلغ من العمر 31 سنة، وأعمل كما أمرني به الله عز وجل والرسول صلى الله عليه وسلم بقدر ما نستطيع إن شاء الله، نعيش مع جدتي أم الأم من اليوم الأول من ولادتي حتى الآن، ومشكلتي جدتي تعمل (عرافة أو كهانة) وتذبح لغير الله وتأخذ الدم من هذه الذبيحة والله أعلم ماذا تعمل به، وتطلب من الناس الدجاج وتأخذ منه الريش وكذلك تعمل البخور وتضع فيه قشر أسماك وأنواعا من الزواحف وتعتقد في أصحاب القبور، وهي تعيش على هذه المهنة، وأنا بعد ما عرفت الحلال والحرام حاولت أن نحسن إليها وفي نفس الوقت نبتعد عن الحرام ولا نأكل الحرام ولا نساعدها في هذا العمل حتى في استقبال الناس ولكن بدون جدوى؛ لأني أسمع ما قاله الله في كتابه العزيز والرسول، وأنا أرى الناس يدخلون ويتعاملون معها حتى الرجال وجميع الأهل يصدقونها ويخافون أن يتكلموا معها؛ لأنها تغضب عليهم ويقولون لي: هذه عوض أمك ولها حقوق الوالدين وإطاعتها؛ لأنها كبيرة وعبارة عن سنوات وتموت لقد تركت الأكل معها وتركت خدمة البيت خوفا من أنني أساعدها على عملها، وفي الفترة الأخيرة لا أستطيع أن أتكلم معها حتى السلام؛ لأن حسب ما قرأت: لا يطلق السلام على الكافر وقرأت في كتاب لبعض العلماء: حتى الورقة أو كوب الماء لا يقدم إلى صاحب هذا العمل، وبعض الأهل والأخوات في الله قالوا لي: إذا أعطتك شيئا خذيه وضعيه في الزبالة، وإذا أعطتك مالا خذيه وتصدقي به وهذا البيت بيتها ولها الحق أن تدخل من تشاء حتى الرجال الأجانب وهي غضبانة علي وتقول لي: لا أسامحك وأحاسبك أمام الله يوم القيامة وليس عندي بيت أذهب إليه لعدم وجود محارم يخافون الله ولا يوجد رجل مسلم يتقدم لي؛ لأني كبيرة وسمرة وانصحني ماذا أفعل؟

1- ما حكم عملي هذا مع جدتي في عدم خدمة البيت وكلامي لها والأكل معها؟

2- هل لها حقوق الوالدين أم لا لأني أخاف عقاب الله؟

3- هل نقطع خالاتي وأقاربي؛ لأنهم يصدقون في كل عمل وهم يعرفون أنه حرام وأنا أقول لهم هذا مع أنهم يصلون ولكنهم مشركين يذهبون إلى قبور الأولياء والمشعوذين؟

4- الرجال الذين يصلون ويذبحون لهذه المرأة هل يجوز أكل ذبيحتهم حتى ولو كانت حلالا؟

5- هل يجوز أكل ذبيحة صاحب البدع والمشرك الذي يعتقد في الأولياء وغيرهم؟

6- ما حكم الدين إذا ذهبت إليهم وأكلت من طعامهم وهم يأخذون منها الطعام وبعض المال؟

7- إذا قدمت لي هدية هل أقبلها لحديث أسماء قبلت هدية أمها وهي مشركة؟

8- هل يجوز لي الزواج من رجل يصلي ولكن مشرك للأسباب السابقة؟

9- أولياء أمري لا يصلون هل لهم الحق في العقد لي على الزواج أم لا وإذا كان لا يوجد قضاء مسلم ماذا أفعل؟

أولا: يحرم العمل في الكهانة والعرافة؛ للأحاديث الواردة في ذلك.

ثانيا: لا يجوز لك مساعدة جدتك في الأعمال المحرمة، ولا مانع من خدمتها في غير معصية الله تعالى؛ لقول الله سبحانه في الوالدين الكافرين: وإن جاهداك على أن تشرك بي ما ليس لك به علم فلا تطعهما وصاحبهما في الدنيا معروفا الآية.

ثالثا: يحرم الذبح لغير الله، وهو من الأعمال الشركية، ولا يجوز الأكل من ذبيحة المشرك.

رابعا: يجوز لك الذهاب لأقاربك لمناصحتهم مما وقعوا فيه من دعاء الأولياء ونحوه من الأعمال المحرمة.

خامسا: لا يجوز الأكل من طعام الذي كسبه محرم ولا قبول هديته.

سادسا: لا يجوز للمسلمة قبول الزواج من الرجل المشرك أو الذي لا يصلي ولا يصح العقد.

سابعا: يتولى عقد النكاح للمرأة وليها المسلم وإذا تعذر فمرجعها القاضي الشرعي.

وبالله التوفيق، وصلى الله على نبينا محمد, وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

عضو نائب رئيس اللجنة الرئيس

عبد الله بن غديان عبد الرزاق عفيفي عبد العزيز بن عبد الله بن باز

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/lLnVt

About klikUK.com

Check Also

wpid-fb_img_15237576133111880934809.jpg

Hikmah bulan Shafar -5

15 Faidah Tentang Bulan Shafar (5) Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid 9. Tathayyur (merasa sial dengan ...