Home / Akidah Akhlaq / Dzikir Amalan Terbaik dan Tersuci

Dzikir Amalan Terbaik dan Tersuci

sekuntum mawar di padang gersang

Dzikir Amalan Terbaik dan Tersuci.

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ” أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا، عِنْدَ مَلِيكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِعْطَاءِ الذَّهَبِ وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ، فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ ” قَالُوا: بَلَى. قَالَ: ذِكْرُ اللَّهِ تَعَالَى

Dari Abu ad-Darda` beliau berkata: Rasûlullâh Shalallahu alaihi wasallam bersabda: “Maukah kalian aku beritahu tentang amalan terbaik lagi suci di sisi Allâh, paling tinggi dalam derajat kalian dan lebih baik daripada pemberian emas dan perak serta lebih baik dari berjumpa musuh kalian lalu kalian penggal leher mereka dan mereka memenggal leher kalian..?” Mereka menjawab: Iya. Rasûlullâh Shalallahu alaihi wasallam menjawab: “Dzikir kepada Allâh”.

Takhrîj.

Hadits yang mulia ini dikeluarkan oleh imam Mâlik dalam al-Muwatha` no. 524, Ahmad dalam Musnadnya no. 21702 , at-Tirmidzi dalam Sunannya no. 3377, Ibnu Mâjah dalam sunannya no. 3790, al-Hâkim dalam al-Mustadrak no.1825 dan ath-Thabrâni dalam kitab ad-Doa no.1872. Hadits ini dishahihkan al-Albâni t dalam Shahih al-Jâmi no. 2629, Shahih at-Targhîb wat Tarhîb no. 1493, Shahih Sunan at-Tirmidzi dan Shahih Sunan Ibnu Mâjah. Syeikh Syu’aib al-Arnâ’uth t menyatakan bahwa hadits ini Sanadnya Shahih dalam tahqiq beliau terhadap Musnad imam Ahmad.

Syarah Hadits.

Hadits yang agung ini menjelaskan keutamaan dzikir yang mengalahkan pembebasan budak, nafkah harta, menunggang kuda dijalan Allâh dan perang dengan pedang dijalan Allâh.

Ibnu Rajab rahimahullah menyatakan: Banyak sekali Nash-nash syariat yang menjelaskan keutamaan dzikir lebih dari sedekah dengan harta dan selainnya dari amalan ketaatan. (Jâmi’ Ulûm wal Hikam hlm 225). Kemudian beliau menyampaikan hadits Abu ad-Darda’ ini dan sejumlah hadits-hadits yang menunjukkan pengertian seperti itu.

Imam Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari al-A’masy dari Sâlim bin Abil Ja’d, beliau berkata: Abu ad-Darda` ditanya tentang seorang yang membebaskan seratus budak, beliau menjawab :

إنَّ مِئَةَ نَسَمَةٍ مِنْ مَالِ رَجُلٍ لَكَثِيْرٌ، وَأَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ إِيْمَانٌ مَلْزُوْمٌ باِللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، وَأَنْ لاَ يَزَالَ لِسَانُ أَحَدِكُمْ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللهِ

“Sesungguhnya seratus budak dari harta seorang adalah banyak sekali dan yang lebih utama dari itu adalah iman yang terus ada di malam dan siang hari dan janganlah lepas lisan salah seorang kalian basah dari dzikir kepada Allâh”.

Hadits ini dibawakan imam al-Mundziri t dalam at-Targhîb wa at-tarhîb (2/395) dan beliau katakan sanadnya hasan, namun Syeikh al-Albâni menyatakan hadits ini mauquf lemah dalam Dha’if at-Targhîb wa at-Tarhîb no. 896.

Sahabat Abu ad-Darda` di sini menjelaskan keutamaan membebaskan budak, namun ketinggian keutamannya tidak bisa sejajar dengan dzikir yang terus menerus dan rutin. Penjelasan keutamaan dzikir yang melebihi amalan lainnya juga disampaikan banyak Sahabat dan Tabi’in seperti Abdullâh bin Mas’ud z dan Abdullâh bin Amru bin al-‘Ash serta lainnya, seperti disampaikan dalam kitab Jâmi’ al-Ulûm wal Hikam hlm 225-226.

Namun perlu diingat, bahwa ini tidak berarti mengecilkan keutamaan berinfak di jalan Allâh dan membebaskan budak, namun maksudnya adalah mengunggulkan keutamaan dzikir, menjelaskan urgensi dan ketinggian kedudukannya. Tidak ada yang bisa mengunggulinya bahkan semua amalan dan ketaatan disyariatkan hanya untuk menegakkan dzikir kepada Allâh. Oleh karena itu Allâh berfirman :

وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ ١٤

Dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thoha:14)

Shalat didirikan adalah untuk dzikir kepada Allâh. Hal ini mengandung penjelasan tentang agungnya perkara shalat, katena shalat adalah merendahkan diri kepada Allâh, berdiri dihadapan-Nya dan memohon serta menegakkan dzikir mengingat Allâh. Berdasarkan hal ini maka shalat adalah dzikir dan Allâh telah menamakannya dengan dzikir dalam firmannya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوۡمِ ٱلۡجُمُعَةِ فَٱسۡعَوۡاْ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَذَرُواْ ٱلۡبَيۡعَۚ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ ٩

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allâh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (QS. al-Jumu’ah/62:9)

Dalam ayat ini Allâh k menamakan shalat sebagai zikir, karena dzikir adalah ruh, inti dan hakikat shalat. Orang yang paling besar pahala shalatnya adalah yang paling kuat, kokoh dan banyak dzikirnya kepada Allâh. Ini adalah inti semua jenis ketaatan dan ibadah sebagai sarana hamba mendekatkan diri kepada Allâh.

Dalam sebuah hadits Mu’adz bin Anas al-Juhani dari Rasûlullâh Shalallahu alaihi wasallam :

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَهُ فَقَالَ أَيُّ الْمُجَاهِدِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا يَا رَسُولُ اللَّه ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ تَعَالَى ذِكْرًا ، قَالَ فَأَيُّ الصَّائِمِينَ أَعْظَمُ أَجْرًا ؟ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، ثُمَّ ذَكَرَ لَهُ الصَّلَاةَ وَالزَّكَاةَ وَالْحَجَّ وَالصَّدَقَةَ كُلُّ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَكْثَرُهُمْ لِلَّهِ ذِكْرًا ، فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لِعُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : ذَهَبَ الذَّاكِرُونَ بِكُلِّ خَيْرٍ !! ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَجَلْ

Seorang bertanya kepada beliau Shalallahu alaihi wasallam seraya berkata: Mujahidin mana yang paling besar pahalanya wahai Rasûlullâh ? beliau menjawab: “Yang paling banyak dzikirnya”. Ia bertanya lagi: Orang yang berpuasa yang paling banyak pahalanya? beliau menjawab: “Yang paling banyak dzikirnya”. Kemudian orang tersebut menyebutkan shalat, zakat, haji dan sedekah kepada Rasûlullâh Shalallahu alaihi wasallam dan beliau menjawab semuanya dengan sabdanya: “Yang paling banyak dzikirnya”. Maka Sahabat Abu Bakar berkata kepada Umar : “Orang-orang yang selalu mengingat Allâh membawa semua kebaikan..!! maka Rasûlullâh Shalallahu alaihi wasallam menjawab: Iya. (HR Ahmad dalam al-Musnad 3/438 dan ath-Thabrâni dalam al-Mu’jam al-Kabîr 20/186 no 407, hadits ini disampaikan adanya dua riwayat penguat oleh Syeikh Abdurrazâq al –Abad sehingga beliau berkata: Bisa digunakan untuk berhujjah Insya Allâh).

Ibnul Qayyim berkata: “Sungguh pelaku amalan apapun yang paling utama adalah yang paling banyak dzikir (mengingat) Allâh. Orang berpuasa yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allâh dalam puasa mereka. Orang bersedekah yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allâh. Orang berhaji yang paling utama adalah yang paling banyak mengingat Allâh dan demikian seluruh amalan shalih. (al-Wâbil ash-Shayyib hlm 152).

Mengingat Allâh (Dzikrullah) adalah amalan paling utama dan lebih besar dari semuanya. Allâh berfirman:

ٱتۡلُ مَآ أُوحِيَ إِلَيۡكَ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَۖ إِنَّ ٱلصَّلَوٰةَ تَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِۗ وَلَذِكۡرُ ٱللَّهِ أَكۡبَرُۗ وَٱللَّهُ يَعۡلَمُ مَا تَصۡنَعُونَ ٤٥

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allâh (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allâh mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Ankabut/29:45)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: Yang Benar bahwa pengertian ayat adalah Dalam sholat ada dua maksud besar dan salah satunya lebih besar dari yang lain yaitu shalat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar dan berisi dzikir mengingat Allâh. Pahala dari dzikir kepada Allâh tersebut lebih besar dari mencegah perbuat keji dan mungkar. (Ucapan ini dinukil oleh Ibnul Qayyim t di al-Wâbil ash-Shayyib hlm 152)

Salmân al-Fârisi pernah ditanya: Amalan apa yang paling utama..? beliau menjawab: “Tidakkah kamu membaca al-Qur`an..! (firman Allâh): Dan sesungguhnya mengingat Allâh adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). (Diriwayatkan oleh ath-Thabari dalam tafsîrnya 20/183).

Demikian juga Ibnu Abid Dunya meriwayatkan dari Ibnu Abbâs bahwa beliau ditanya: Amalan apa yang paling utama..? beliau menjawab: “Mengingat Allâh itu adalah lebih besar”. (dibukil Ibnul Qayyim dalam al-Wâbil ash-Shayyib hlm 151-152).

Allah telah memerintahkan kaum mukminin untuk memperbanyak dzikir baik dalam keadaan berdiri, duduk atau berbaring, baik di malam hari atau siang hari, bahkan dalam segala keadaan dan kondisi. Demikian juga memberikan pahala besar atas hal itu, seperti dijelaskan dalam firman Allâh :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرٗا كَثِيرٗا ٤١ وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةٗ وَأَصِيلًا ٤٢ هُوَ ٱلَّذِي يُصَلِّي عَلَيۡكُمۡ وَمَلَٰٓئِكَتُهُۥ لِيُخۡرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ وَكَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيمٗا ٤٣ تَحِيَّتُهُمۡ يَوۡمَ يَلۡقَوۡنَهُۥ سَلَٰمٞۚ وَأَعَدَّ لَهُمۡ أَجۡرٗا كَرِيمٗا ٤٤

Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allâh, dzikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mu’min itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah:”Salam”; dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka. (QS. al-Ahzab/33:41-44)

Dalam ayat yang mulia ini Allâh memerintahkan untuk memperbanyak dzikir dan menjelaskan balasan yang besar atas amalan tersebut. Demikian juga firman Allâh :

فَٱذۡكُرُونِيٓ أَذۡكُرۡكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِي وَلَا تَكۡفُرُونِ ١٥٢

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku. (QS. al-Baqarah/2:152)

Orang-orang yang banyak mengingat Allâh adalah al-Mufarridûn yang bersegera kepada kebaikan dan mendapatkan derajat dan kedudukan tertinggi. Hal ini dijelaskan Abu Hurairoh dalam penyataan beliau :

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسِيرُ فِي طَرِيقِ مَكَّةَ فَمَرَّ عَلَى جَبَلٍ يُقَالُ لَهُ جُمْدَانُ فَقَالَ : سِيرُوا هَذَا جُمْدَانُ ، سَبَقَ الْمُفَرِّدُونَ ، قَالُوا وَمَا الْمُفَرِّدُونَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ قَالَ الذَّاكِرُونَ اللَّهَ كَثِيرًا وَالذَّاكِرَاتُ.

Dahulu Rasûlullâh Shalallahu alaihi wasallam berjalan di jalan Makkah lalu melewati sebuah bukit yang dinamakan bukit Jumdân, lalu beliau Shalallahu alaihi wasallam bersabda: Berjalanlah melewati Jumdân ini..! Telah menang al-Mufarridûn. Mereka bertanya: Siapakah al-Mufarridûn tersebut wahai Rasûlullâh Shalallahu alaihi wasallam..? Beliau menjawab: “Lelaki dan wanita yang banyak mengingat Allâh”. (HR Muslim no. 2676).

Lalu bagaimana mendapatkan kedudukan al-Mufarridun ini?

Sahabat yang mulia Abdullah bin Abbâs menjawab dengan menyatakan: “Yang dimaksud adalah mengingat Allâh setiap selesai shalat baik pagi maupun petang, di atas pembaringan dan setiap kali bangun dari tidur. Setiap kali pergi di pagi dan sore hari dari rumahnya mengingat Allâh” . (lihat al-Adzkâr an-nawawi hlm 10).

Syeikh Abdurrahmân bin Nâshir as-Sa’di menjelaskan pengertian yang mirip dengan pernyataan sahabat Ibnu Abbâs di atas dengan menyatakan: “Paling tidak seorang selalu merutinkan wirid-wirid pagi dan sore serta setelah shalat lima waktu. Juga pada kejadian atau ada sebab-sebab tertentu. Seharusnya merutinkannya dalam semua waktu dan semua keadaan. Sebab hal itu adalah ibadah yang menjadikan pelakunya menjadi juara dalam keadaan rileks serta semakin menariknya untuk lebih mencintai Allâh dan mengenalnya dan juga bisa membantu dalam melakukan kebaikan dan menahan lisan dari ucapan buruk. (Tafsîr as-Sa’di hlm 667 ketika menafsirkan surat al-Ahzab ayat 41).

 

Faedah Hadits:

  1. Keutamaan mengingat Allâh.
  2. Hakekat ibadah bergantung kepada dzikir kepada Allâh.
  3. Perintah memperbanyak dzikir kepada Alllah dalam semua keadaan.
  4. Keutamaan mengingat Allâh (dzikir) yang tidak bisa dikalahkan oleh ibadah-ibadah lainnya.
  5. Berlomba-lomba menggapai derajat dan kedudukan tinggi di sisi Allâh dengan memperbanyak dzikir.

 

sumber:

  • Fikih al-Ad’iyah bal adzkaar Syeikh Abdurrazaq al-Badr 1/33-38 dengan sedikit penambahan dan pengurangan.
Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/TEaaf

About klikUK.com

Check Also

wpid-fb_img_15237576133111880934809.jpg

Hikmah bulan Shafar -5

15 Faidah Tentang Bulan Shafar (5) Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid 9. Tathayyur (merasa sial dengan ...