Home / Akidah Akhlaq / Doa Yang Boleh Dan Doa Yang Terlarang

Doa Yang Boleh Dan Doa Yang Terlarang

armenia_water_lily-t2
Doa yang boleh dan doa yang terlarang:

Doa ada berbagai macam:

  • Doa yang diperintahkan kepada seorang hamba untuk mengucapkannya, seperti doa-doa dalam shalat dan lain-lain yang disebutkan dalam Al Quran dan Sunah. Ini doa yang disukai oleh Allah.
  • Doa yang dilarang adalah melampaui batas dalam berdoa, seperti seorang yang meminta sesuatu yang khusus milik Allah, seperti meminta agar dia bisa mengetahui segala sesuatu, atau menguasai segala sesuatu, atau mengetahui hal yang ghaib dan lain-lain, maka doa ini tidak disukai dan diridhai Allah.
  • Doa yang mubah, seperti meminta kemewahan yang bukan maksiat.

Waktu, tempat dan kondisi yang afdhal agar doa dikabulkan.

  • Waktu yang afdhal:

Pertengahan akhir malam, malam Qadar, setelah selesai shalat fardhu, antara azan dan iqamat, saat tertentu di malam hari, saat tertentu di hari Jumat yaitu akhir waktu shalat Ashar, saat turun hujan, saat berbaris di medan jihad, saat azan dikumandangkan, apabila bersuci sebelum tidur lalu terjaga di tengah malam dan berdoa, doa pada bulan Ramadhan dan lain-lain.

  • Tempat yang afdhal:

Berdoa di dalam ka’bah dan Hijir Ismail adalah bagian dalam Ka’bah, Berdoa di Arafah pada hari Arafah, berdoa di Safa, berdoa di Marwa, berdoa di Muzdalifah, berdoa setelah melempar jumrah Shugra dan Wustha saat haji, saat minum air Zam-zam dan lain-lain.

  • Kondisi yang afdhal:

Setelah mengucapkan doa:

لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

Berdoa saat hati menghadirkan keagungan Allah, doa setelah berwudhu, doa saat musafir, doa orang yang sakit, doa orang yang dizalimi, doa orang tua terhadap anaknya, doa orang yang berpuasa saat berbuka, doa orang dalam keadaan darurat, doa saat sujud, saat berkumpul dalam majlis zikir, saat ayam berkokok, saat terjaga di tengah malam lalu mengucapkan: لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله lalu berdoa dan lain-lain.

 

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/CU8ev

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

ledakan

Ringkasan Fikih Islam : Dosa Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan

Dosa Orang yang Membunuh Orang Kafir Mu’ahad tanpa Kesalahan عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍ و ...