Home / Akidah Akhlaq / Dapat Pahala dengan Niat

Dapat Pahala dengan Niat

book_pages_heart-t2

Dapat Pahala dengan Niat.

عَنْ أَبِيْ عَبْدِ اللهِ جَابِرٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَزَاةٍ فَقَالَ : (( إِنَّ بِالْمَدِينَةِ لَرِجَالاً مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاَّ كَانُوا مَعَكُمْ حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ وَفِيْ رِوَايَةٍ إِلاَّ شَرِكُوكُمْ فِي الأَجْرِ )) رَوَاهُ مُسْلِم

وَرَوَاه الْبُخَارِيْ عَنْ أَنَسٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : (( رَجَعْنَا مِنْ غَزْوَةِ تَبُوْكَ مَعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنَّ أَقْوَامًا خَلْفَنَا بِالْمَدِينَةِ مَا سَلَكْنَا شِعْبًا وَلاَ وَادِيًا إِلاَّ وَهُمْ   مَعَنَا فِيْهِ حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ 

Dari Abu Abdillah Jabir beliau berkata: “Kami bersama Nabi shalallahu alaihi wa sallam dalam satu peperangan, lalu beliau berkata : “Sesungguhnya beberapa orang di Madinah, tidaklah kalian berjalan di satu jalanan dan tidak pula kalian melewati satu wadi (lembah) kecuali mereka bersama kalian mereka ditahan oleh sakit. Dan dalam riwayat lain: kecuali mereka berserikat dengan kalian dalam pahala”. HR Muslim

Dan Imam al-Bukhori meriwayatkan dari Anas beliau berkata: “Kami pulang dari perang Tabuk bersama Nabi shalallahu alaihi wa sallam lalu beliau bersabda: “Sesunggunya beberapa orang yang tertinggal di Madinah, tidaklah kita melewati satu jalanan dan tidak pula wadi (lembah) kecuali mereka bersama kita, mereka tertahan oleh udzur.

Takhrij Hadits

Hadits yang pertama diriwayatkan imam Muslim dalam shahihnya no. 1911 dan hadits kedua diriwayatkan

imam al-Bukhori dalam shahihnya no. 2838, 2839 dan 4423.

Syarah Kosa Kata.

( فِي غَزَاةٍ ) : Dalam satu peperangan dan dijelaskan dalam riwayat al-Bukhori dengan perang Tabuk..

(وَادِيًا ) adalah tempat mengalirnya air dan dinamakan lembah antara dua gunung atau bukit sebagai wadi karena tempat mengalirnya air. (lihat al-Mufradaat karya al-Ashfahani hlm 862)

(حَبَسَهُمُ الْمَرَضُ) : terhalangi berangkat berjihad karena sakit. Bukanlah maksudnya pahala tersebut tidak ada kecuali bila terhalangi oleh sakit saja tapi mencakup semua udzur syar’i lainnya, seperti dijelaskan dalam riwayat imam al-Bukhori dengan lafazh : (حَبَسَهُمُ الْعُذْرُ).

Penjelasan Umum

Hadits yang mulia ini menjelaskan bahwa seorang jika telah berniat satu amalan sholih, lalu terhalangi oleh satu halangan, maka tetap mendapatkan pahala amalan tersebut.

Demikian juga apabila seorang mengerjakan amalan ibadah tertentu pada saat tidak ada udzur, lalu karena sakit atau udzur tertentu ia tidak bisa melakukannya, maka tetap ia mendapatkan pahala amalan tersebut secara sempurna, karena Rasululloh shalallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau bepergian maka dituliskan baginya pahala seperti apa yang diamalkannya ketika sehat dan mukim (tidak bepergian)”. HR al-Bukhori No. 2996 kitab al-Jihad wa as-Siyar

Misalnya: seseorang yang biasa sholat bersama jamaah di masjid, lalu satu ketika mendapat halangan seperti tertidur atau sakit atau yang sejenisnya maka dia tetap mendapatkan pahala sholat bersama jamaah di masjid secara sempurna tanpa ada kekurangan.

Demikian juga jika dia biasa sholat sunnah akan tetapi dia terhalang darinya dan tidak mampu melaksanakannya maka dia diberi pahalanya secara sempurna walaupun tidak mengamalkannya.

Adapun jika hal itu bukan merupakan kebiasaannya maka dia mendapat pahala niatnya saja dan tidak mendapat pahala amalannya.

Dalilnya adalah hadits yang berbunyi : orang fakir dari kalangan sahabat berkata:

يَارَسُوْلَ اللهِ سَبَقَنَا أَهْلُ الدُّثُورِ بِالأُجُوْرِ وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ- يَعْنِيْ إِنَّ أَهْلَ الأَموَالِ سَبَقَهُمْ

بِالصَّدَقَةِ وَالْعِتْقِ- فَقَالَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِشَيْىءٍ إذَا فَعَلْتُمُوْهُ

أَدْرَكْتُمْ مَنْ سَبَقَكُمْ وَلَمْ يُدْرِكْكُمْ أَحَدٌ إِلاَّ مَنْ عَمِلَ مِثْلَ مَا عَمِلْتُمْ !! فَقَالَ تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ

وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا فَفَعَلُوْا فَعَلِمَ الأَغْنِيَاءُ فَفَعَلُوْا مِثْلَ ما فَعَلُوْا فَجَاءَ الفُقَرَاءُ إِلَى

رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالُوا: يَارَسُوْلَ اللهِ سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الْأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا

فَفَعَلُوا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِهِ مَنْ يَشَاءُ

“Wahai Rasululloh ahlu dutsur mendahului kami dalam pahala dan nikmat yang kekal-yaitu mendahului mereka dalam bershodaqoh dan membebaskan budak-lalu Rasulululloh n bersabda: “Maukah kalian saya beritahu sesuatu jika kalian kerjakan maka kalian dapat menyusul orang yang telah mendahului kalian dan tidak akan menyusul kalian seorangpun kecuali orang yang beramal seperti yang kalian amalkan tersebut !! Lalu beliau bersabda lagi : bertasbih, bertakbir dan bertahmidlah setiap selesai sholat tiga puluh tiga kali, lalu mereka mangamalkannya dan orang-orang kaya mengerti hal itu lalu mengamalkannya seperti apa yang mereka amalkan !! kemudian orang-orang fakir tersebut datang lagi ke Rasululloh shalallahu alaihi wa sallam  dan berkata: wahai Rasululloh shalallahu alaihi wa sallam saudara kami orang-orang kaya telah mendengar apa yang kami amalkan dan mereka mengamalkan seperti kami, lalu nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda “demikianlah keutamaan Allah diberikan kepada orang yang disukainya”.  Dikeluarkan oleh al-Bukhori No. 843 kitab al-Adab dan Muslim lafadznya lafadz beliau No.595 kitab al-Masaajid. (Syarah Riyadhush-shalihin, ibnu Utsaimin 1/ ).

Dalam hadits ini Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam tidak mengatakan kepada mereka bahwa mereka telah mendapatkan pahala amalan mereka akan tetapi tidak diragukan lagi bahwa mereka telah mendapatkan pahala niat beramal tersebut.

Oleh karena itu Nabi shalallahu alaihi wa sallam menjelaskan tentang orang yang Allah berikan harta lalu menginfaqkannya di jalan kebaikan dan ada seorang fakir berkata : “Seandainya saya memiliki harta pulan sungguh saya akan amalkan semua amalan fulan, dalam sabdanya:

فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَهُمَا فِيْ الأَجْرِ سَوَاءٌ

Maka dia dengan niatnya dan keduanya sama-sama dalam pahala. Dikeluarkan oleh at-Tirmidzi No.2325 kitab az-Zuhud dan Ibnu Majah No.4228 kitab az-Zuhud, dan at-Tirmidzi berkata: hasan shohih.

Dalam hadits ini juga ada isyarat bahwa orang yang keluar di jalan Allah dalam perang dan jihad maka dia mendapat pahala berjalannya, oleh karena itu Nabi n bersabda:

مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلاَ قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلاَّ وَهُمْ مَعَكُمْ

“tidaklah kalian berjalan di satu jalanan dan tidak pula kalian melewati satu wadi kecuali mereka bersama kalian”

dan ditunjukkan juga oleh firman Allah :

مَاكَانَ لأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم مِّنَ اْلأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُوا عَنْ رَسُولِ اللهِ وَلاَيَرْغَبُوا

بِأَنفُسِهِمْ عَن نًّفْسِهِ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ لاَيُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ وَلاَنَصَبٌ وَلاَمَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللهِ وَلاَيَطَئُونَ

مَوْطِئًا يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلاَيَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَيْلاً إِلاَّ كُتِبَ لَهُم بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللهَ لاَيُضِيعُ أَجْرَ

الْمُحْسِنِينَ .وَلاَيُنفِقُونَ نَفَقَةً صَغِيرَةً وَلاَكَبِيرَةً وَلاَيَقْطَعُونَ وَادِيًا إِلاَّ كُتِبَ لَهُمْ لِيَجْزِيَهُمُ اللهُ

أَحْسَنَ مَاكَانُوا يَعْمَلُونَ

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, dan mereka tidak menafkahkan suatu nafkah yang kecil dan tidak (pula) yang besar dan tidak melintasi suatu lembah, melainkan dituliskan bagi mereka (amal saleh pula), karena Allah akan memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS.at-Taubah : 120-121)

Demikian juga seorang jika berwudhu di rumahnya lalu menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid tidaklah dia keluar kecuali untuk sholat maka dia tidaklah melangkah satu langkah kecuali Allah mengangkat satu derajat dan menghilangkan satu kesalahan. Dan ini merupakan keutamaan Allah yang menjadikan wasilah (perantara satu amalan) mendapatkan pahala seperti yang telah dijelaskan oleh Rasululloh shalallahu alaihi wa sallam . wallahul muwaffiq.

Faedah Hadits:

  1. Semangatnya para sahabat untuk berjihad dan berusaha tidak ketinggalan bila tidak memiliki udzur.
  2. Niyat yang baik bisa mencapai pahala amalan.
  3. Urgensi niyat bagi kaum muslimin yang mengharapkan keridhaan Allah.
  4. Seyogyanya para da’i memanfaatkan kesempatan dalam berdakwah, sebab Nabi n mendakwahi para sahabatnya dan memberikan motifasi perbaikan niyat ketika pulang dari perang tabuk ke kota Madinah.
  5. Agama islam adalah agama yang mudah dan tidak memberatkan, karena mengizinkan orang yang tidak bisa berjihad karena ada udzur.
  6. Orang yang niyatnya benar dari orang-orang yang memiliki udzur bisa mencapai pahala para Mujahidin.
  1. Luasnya rahmat Allah terhadap hamba-hambaNya.

Wabillahittaufiq.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/jMVtq

About klikUK.com

Check Also

wpid-img_20181013_2111556739777229694311708.jpg

Hikmah Bulan Shafar -2

15 Faidah Tentang Bulan Shafar (2) Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid 3. Orang-orang Arab zaman dahulu ...