Home / Brankas / Bulughul Maram : Hadits ke 6 Tentang Hukum Kencing dan Mandi Janabah di Air yang tidak Mengalir

Bulughul Maram : Hadits ke 6 Tentang Hukum Kencing dan Mandi Janabah di Air yang tidak Mengalir


6.
?????? ?????? ?????????? ?????? ????? ?????? ?????: ????? ???????? ????? ????? ???? ???????? ???????: ??? ?????????? ?????????? ??? ???????? ?????????? ?????? ??????  ?????????? Brett Favre Jersey ????????.  ? ??????????????? : ??? ?????????? ?????????? ?? ??????? ?????????? ???????? ??? ???????? ????? ?????????? ??????.

???????????: «??????». ????????? ???????: «????? ?????????? ????? ???? ????????????».

Dari Abu Hurairah ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Janganlah kamu mandi janabah di air yang diam (tidak mengalir).” Diriwayatkan oleh Muslim.

Dan dalam lafazh Bukhari: “Janganlah kamu kencing di air yang diam yang tidak mengalir, kemudian mandi di dalamnya.”

Dan dalam riwayat Muslim dengan lafazh: “kemudian ia mandi dari air tersebut”.

Dan dalam riwayat Abu Dawud dengan lafazh: “Dan janganlah ia mandi di dalamnya dalam keadaan junub.”

 images

1. Perawi Hadits.

Perawi hadits ini adalah sahabat yang mulia Abu Hurairoh dan telah berlalu biografi singkatnya.

 

2. Takhrijul Hadits :

Hadits ini memiliki empat lafazh penyampaian:

Pertama diriwayatkan imam Muslim dalam Shahihnya no. 238 dalam kitab ath-Thaharah bab larangan mandi di air yang tidak mengalir (????????? ???? ?????????????? ??? ???????? ??????????) (1/163) dari Abdullah bin Wahb dari Amru bin al-Haarits dari Bukair bin al-Asyaj, beliau berkata:

????? ????? ?????????? ??????? ??????? ???? ???????? ??????? ?????? ????? ?????????? ???????? : ????? ???????? ???? ?????? ???? ???????? ???????? : ??? ?????????? ?????????? ??? ???????? ?????????? ?????? ??????  ??????? : ??????  ???????? ??? ????? ??????????? ????? : ????????????? ??????????.

Bahwasanya Abu Saa-ib pernah mendengar Abu Hurairah berkata :Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah kamu mandi janabah di air yang tergenang”. Abu Saa-ib bertanya : (kalau begitu) bagaimana ia melakukannya ya Abu Hurairah? Jawab Abu Hurairah : Ia menciduknya.

Yakni, janganlah ia Ernie Stautner Jersey mandi janabah sambil berendam di bak, akan tetapi hendaklah ia menciduknya dengan gayung- menurut penjelasan Abu Hurairah

Kedua diriwayatkan imam al-Bukhori dalam shahihnya no. 239 dalam kitab al-Wudhu` bab kencing di air yang diam (tidak mengalir) (????????? ??? ???????? ??????????) dari jalan periwayatan Syu’aib dari abu az-Zinaad bahwasanya Abdurrahman bin Hurmuz menceritakan kepadanya bahwa beliau mendengar Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu berkata: Aku telah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

??? ?????????? ?????????? ??? ???????? ?????????? ??????? ??? ??????? ????? ?????????? ?????

“ Janganlah engkau kencing di air yang tergenang yang tidak mengalir, kemudian engkau  mandi di dalamnya”.

Lafazh ini juga diriwayatkan imam An-Nasa`i dan Ahmad dengan tambahan lafazh : (????? ??????????? ??????) (kemudian berwudhu darinya)

Ketiga diriwayatkan imam Muslim dalam shahihnya no. 282 (1/162-163) dengan lafazh:

??? ?????? ???? ???????? ?????????? ???????? ??? ???????? ????? ?????????? ??????

 “ Janganlah engkau kencing di air yang tergenang yang tidak mengalir, kemudian engkau  mandi dari air tersebut”.

Riwayat muslim di atas dan juga Abu Dawud dalam salah satu riwayatnya (no.69) dan lain-lain dengan lafazhminhu (??????)” yang artinya “Dari air tersebut atau dengan memakai air tersebut”, yang maksudnya : “Janganlah engkau kencing di air yang tergenang yang tidak mengalir – seperti bak mandi –kemudian engkau  mandi dengan memakai air tersebut – misalnya dengan cara menciduk atau mengambilnya dengan gayung –.”

Sedangkan riwayat Bukhari di atas (no.7) dan lain –lain dengan lafazh “fiihi  (??????)”  yang zhahirnya “Mandi berendam di dalam bak yang telah dikencingi“. Perbedaannya, kalau dalam riwayat Bukhari “Berendam di air tersebut”, sedangkan riwayat Muslim  “Memakai air tersebut  dengan cara menciduknya dengan gayung”  dan kedua-duanya dilarang oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam karena dikhawatirkan air tersebut telah berubah dengan sebab kemasukan najis yaitu air  kencing .

Keempat diriwayatkan Abu Dawud dalam sunannya no. 70 dengan lafazh sebagaimana dibawakan oleh Ibnu Hajar di atas lengkapnya sebagai berikut :

 

???? ?????? ?????????? ????? : ????? ???????? ???? ?????? ???? ???????? ???????? : ??? ??????????? ?????????? ???? ???????? ?????????? ????? ?????????? ?????? ???? ????????????.

Dari Abi Hurairah, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Janganlah salah seorang dari kamu kencing di air yang tergenang dan janganlah ia mandi janabah di dalamnya”.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no.70), Ibnu Majah (no.244), Ahmad (2/433) dan lain-lain dengan sanad Hasan. Kemudian hadits ini menjadi shahih karena beberapa jalannya dan syahid-nya dari  jalan Jabir yang diriwayatkan oleh Muslim dan lain-lain.

 

3. Penjelasan Kosa Kata.

Hadits ini tersusun dari beberapa kosa kata yang perlu Kyler Fackrell Youth Jersey dijelaskan, diantaranya:

(??? ??????????) artinya jangan mandi, karena huruf (???) adalah lam Nahi.

(??????????) artinya salah seorang kalian. Ini menunjukkan sabda beliau ini diarahkan kepada seluruh umatnya baik lelaki maupun wanita.

(???????? ??????????) kata ini ditafsirkan langsung dalam riwayat al-Bukhori dengan lafazh (???????? ?????????? ??????? ??? ???????) yang berarti menggenang yang tidak berpindah karena mengalir, seperti air kolam yang ada ditaman Robert Golden Kids Jersey atau genangan air yang ada ditanah lapang dan sejenisnya. Sehingga ungkapan (??? ???????) adalah tafsir dan penjelas dari kata (??????????) .

(????? ?????????? ??????) : kemudian mandi darinya. Pengertiannya: janganlah kencing padanya padahal nantinya dipakai untuk mandi. Bagaimana kencing pada air yang digunakan nantinya untuk bersuci ?

(?????? ??????) : dalam keadaan wajib mandi akibat hubungan suami istri atau keluarnya air mani.

Perbedaan antara riwayat imam al-bukhori (????? ?????????? ??????) dan riwayat imam Muslim (????? ?????????? ??????)  serta riwayat Abu Daud (????? ?????????? ?????? ???? ????????????) adalah: Riwayat al-Bukhori memberikan pengertian larangan mandi dengan masuk kedalam air yang dipakai sebelumnya untuk kencing, artinya : Bagaimana kencing di dalam air yang dibutuhkan untuk mandi atau lainnya? Riwayat imam Muslim memberikan pengertian larangan mengambil dari air tersebut ke dalam bejana dan mandi di luarnya. Sehingga setiap dari dua riwayat tersebut saling memberikan pengertian riwayat lainnya. Riwayat al-Bukhori menunjukkan pengertian mandi masuk ke dalam air (nyemplung) dengan nash dan melarang mengambilnya dengan istimbath. Demikian juga sebaliknya riwayat imam Muslim. Sedangkan riwayat Abu Dawud memberikan pengertian larangan dari kencing dan mandi secara sendiri-sendiri. Dalam pengertian janganlah kencing di air menggenang walaupun tidak bermaksud mandi darinya. Sehingga dapat diambil pengertian dari semua riwayat bahwa semua keadaan tersebut dilarang. Hal itu karena kencing atau mandi di air yang menggenang menjadi sebab pengotoran dan pencemaran air walaupun tidak sampai menjadi najis. Di antara dalil yang Brett Keisel Womens Jersey menguatkan larangan kencing di air menggenang saja adalah hadits Jaabir yang berbunyi:

???? ??????? ??????? ?????? ??????? ???????? ????????? ??????? ????? ???? ???? ??????? ??? ???????? ??????????

Dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau melarang kencing di air yang menggenang. (HR Muslim no. 423).

 

4. Syarah Umum Hadits (Pengertian Hadits).

Syariat islam memiliki perhatian yang besar terhadap kebersihan dan jauh dari sebab-sebab madharat. Dalam hadits ini sahabat yang mulia Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu menceritakan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dengan larangan yang tegas dari kencing di air yang menggenang, karena hal itu akan mengakibatkan pencemaran air dengan najis dan kuman penyakit yang kadang dibawa bersama kencing sehingga memudharatkan orang yang menggunakan air tersebut. Kadang juga orang yang kencing juga menggunakan air tersebut lalu mandi darinya. Bagaimana ia kencing dengan air yang digunakan untuk bersuci setelah ia kencingi dahulu. Sebagaimana juga Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari mandi janabah pada air yang menggenang, karena hal itu mencemari air dengan kotoran dan janabahnya. ( Tambih al-Afhaam Syarh ‘Umdatul Ahkan karya Syeikh ibnu Utsaimin 1/19).

 

5. Fiqih Hadits:

  1. Larangan mandi janabah dengan cara berendam, misalnya di bak mandi. Larangan disini bukan larangan haram akan tetapi larangan lit Tanzih (untuk kebersihan) karena hadits Ibnu Abbas (no.11) menegaskan bahwa air itu tidak junub .
  2. Demikian juga larangan kencing di air yang tergenang, bahkan lebih buruk lagi dari segi kebersihan karena dikhawatirkan air kencing yang najis itu akan merubah salah satu sifat air itu sehingga air itu menjadi najis. Jadi larangan di sini bersifat menjaga atau dikhawatirkan air yang suci mensucikan itu berubah salah satu Ryan Shazier Kids Jersey sifatnya dengan sebab kemasukan najis lalu dia menjadi najis meskipun belum tentu berubah. Masalah ini  di dalam ilmu ushul dinamakan: Saddan lidz dzari’ah?????? ?????????????? )  (. Oleh karena itu Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah dengan tegas mengatakan : “Larangan  beliau  kencing di air yang tergenang tidak menunjukkan bahwa air itu menjadi najis dengan hanya semata-mata karena kencing, karena lafazh-nya tidak menunjukkan seperti itu. Bahkan larangan beliau di atas sebagai Saddan lidz dzari’ah (penutup jalan bagi sesuatu yang dilarang), karena kencing itu sebagai “jalan atau wasilah”  yang akan menajiskan air tersebut. Maka kalau yang ini kencing, kemudian yang itu pun kencing, niscaya air akan berubah (salah satu sifatnya) dengan sebab kencing tersebut. Oleh karena itu larangan beliau sebagai saddan lidz dzari’ah. Atau dapat juga dikatakan sebagai sesuatu yang tidak disukai hanya semata-mata karena tabi’at, bukan karena najisnya. (Majmu’ fatwa Ibnu Taimiyyah (21/34)
  3. Hadits ini menunjukkan larangan mandi dari janabah pada air yang menggenang, karena hal itu akan mencemari air dengan kotoran janabah.
  4. Mandi janabah dari air yang menggenang dengan cara menciduknya baik dengan gayung atau tangan setelah mencucinya tidak masuk dalam larangan ini.
  5. Disini dapat difahami bolehnya mandi junub di air yang mengalir baik langsung menceburkan dirinya atau dengan menggunakan gayung dan sejenisnya.
  6. Hadits ini menunjukkan larangan kencing di air yang menggenang baik banyak ataupun sedikit, baik langsung atau kecing di bejana lalu dibuang keair tersebut. Semua itu tercela dan terlarang.
  7. Syeikh Ibnu Utsaimin memberikan faedah hadits ini dengan menyatakan: “Hadits ini nampaknya tidak membedakan antara air yang banyak dan sedikit, namun larangan pada air yang sedikit lebih tegas; karena lebih mudah tercemari dan berubah. Sedangkan air yang banyak sekali yang Jerome Bettis Youth Jersey tidak mungkin terpengaruh oleh air kencing atau tercemari sebagaimana laut, maka tidak  masuk dalam larangan ini. Adapun air yang menggenang untuk waktu tertentu, seperti air kolam yang ada di kebun-kebun, maka bila memungkinkan terpengaruh kencing atau tercemari dengan mandi karena sedikitnya air atau sangat lambatnya penggantian air baru padanya maka ia masuk dalam larangan ini. Apabila tidak maka yang rojih tidak masuk dalam larangan ini”.(Tambihul Dez Bryant Authentic Jersey Afhaam 1/19-20).
  8. Hukum air yang menggenang tercampur kencing ini, yang rojih dia tidak najis kecuali ada perubahan sifatnya karena najis. Tidak mesti larangan dari hal tersebut membuat airnya najis, karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam melarang dari kencing lalu mandi dan tidak menyatakan sesungguhnya airnya najis.
  9. Masuk dalam larangan ini kotoran yang serupa dengan kencing atau lebih, seperti tinja dan najis-najis lainnya. Ibnu Qudamah rahimahullah menyatakan: Mayoritas ulama tidak membedakan antara kencing dengan yang selainnya dari najis-najis. (al-Mughni 1/39)
  10. Hukum berwudhu dengan air yang menggenang yang terkena kencing sama dengan hukum mandi. Ada larangannya dari hadits Abu Hurairoh radhiyallahu ‘anhu secara marfu’ yang berbunyi:

«??? ??????????? ?????????? ??? ???????? ?????????? ????? ??????????? ??????»

Janganlah salah seorang kalian kencing di air yang menggenang kemudian berwudhu darinya (HR an-Nasa`i 1/49, Ahmad dan ibnu Hibaan dan hadits ini shahih karena banyak jalur periwayatannya. Lihat Badzlul Ihsaan Bitaqrieb sunan an-Nasaa’i Abu Abdirrahman 2/173). Juga karena mandi dan wudhu sama-sama dalam pengertian yang menuntut larangan tersebut yaitu sama-sama bertujuan mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dan itu tidak boleh dengan sesuatu yang kotor. (Badrut Tamam Syarhu Bulughilmaram min Adilatilahkam, al-Qaadhi Husein al-Maghribi 1/69)

 

6. Masaail

Pertama: Larangan dalam hadits ini apakah menunjukkan pengharaman atau hanya makruh saja?

Para ulama berbeda pendapat dalam tiga pendapat:

  1. Hukumnya makruh, inilah pendapat madzhab Malikiyah.
  2. Hukumnya haram, inilah pendapat madzhab Hanabilah dan Zhohiriyah
  3. Hukumnya haram pada air yang sedikit dan makruh pada air yang banyak. Ini adalah pendapat madzhab Syafi’iyah (lihat al-I’laam Bi Fawaaid Umdatil Ahkan 1/277)

Yang rojih pendapat kedua sebagaimana dirojihkan Syeikh al-Basaam (Taudhih al-Ahkam 1/129).

 

Kedua: Air yang terkena najis apakah masih suci ataukah menjadi najis?

Apabila ada perubahan sifat karena najis kencing tersebut maka ijma’ menetapkan kenajisannya baik airnya sedikit atau banyak. Juga sebaliknya apabila tidak mengalami perubahan sifat dan airnya banyak sekali maka ijma’ menetapkan kesuciannya. Yang menjadi masalah adalah bila airnya sedikit namun tidak ada perubahan. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat dalam beberapa pendapat:

  1. Tidak najis, inilah pendapat Abu Hurairoh, ibnu Abbas, al-Hasan al-bashri, Ibnu al-Musayyib, ats-Tsauri, Dawud, Maalik dan al-Bukhori. Pendapat ini berargumentasi dengan hadits Abu Saa’id al-Khudri yang disampaikan al-Haafizh dalam hadits ke-2 dari kitab Bulughulmaram ini. Mereka menjawab hadits Abu Hurairoh ini dengan membawa larangannya kepada kemakruhan orang yang minum dan yang mengambilnya karena membawa penyakit dan kotor bukan karena kenajisannya.
  2. Menjadi najis walaupun hanya sekedar kemasukan kencing, inilah pendapat Ibnu Umar, Mujahid, abu Hanifah, Syafi’iyah dan Hanabilah.  Pendapat ini berargumentasi dengan hadits Abu Hurairoh ini, karena bersifat umum

Yang rojih Chidobe Awuzie Youth Jersey menurut penulis adalah pendapat pertama karena wajib kita mengamalkan semua dalil yang ada di antaranya ijma’ tidak najisnya air hingga ada perubahan sifat-sifatnya karena terkena najis. Walaupun hukum Byron Jones Kids Jersey kencing di air yang menggenang adalam haram, namun keharomannya bukan karena najisnya air tersebut. Wallahu a’lam.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/ceke8

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

wpid-fb_img_15237576133111880934809.jpg

Hikmah bulan Shafar -5

15 Faidah Tentang Bulan Shafar (5) Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid 9. Tathayyur (merasa sial dengan ...