Home / Brankas / Bulughul Maram : Cara Mengusap Kepala Dalam Wudhu (Hadits 35)

Bulughul Maram : Cara Mengusap Kepala Dalam Wudhu (Hadits 35)

berwudhu 35/4 ـ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ زَيْدِ بْنِ عَاصِمٍ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ـ فِي صِفَةِ الْوُضُوءِ ـ قَالَ: وَمَسَحَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِرَأْسِهِ، فَأَقْبَلَ بيَدَيْهِ وَأَدْبَرَ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ.

وَفِي لَفْظٍ: بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إلَى المَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ.

35. Dari Abdillah bin Zaid bin ‘Ashim -Radhiyallahu ‘anhu- tentang tata cara wudhu – beliau berkata: “Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepalanya lalu memajukan dan memundurkan kedua tangan.” (Muttafaqun ‘alaihi). Dalam lafazh lain: “Memulai dengan bagian depan kepalanya hingga membawa kedua telapak tangannya ke tengkuk kemudian mengembalikannya ke tempat permulaannya.”

Biografi Sahabat Perawi Hadits

Abdullah bin Zaid bin ‘Ashim bin Ka’ab bin ‘Amr bin A’uf bin Mabdzul bin ‘Amr bin Ghunm bin Mazin Al-Mazini Al-Anshari Radhiyallahu ‘anhu. Nama Panggilannya ialah Abu Muhammad. Beliau terkenal juga dengan sebutan Ibnu Ummi ‘Amarah. Namun sangat terkenal dengan nama aslinya.

Ibunya bernama Nusaibah binti Ka’ab bin ‘Amr bin A’uf yang terkenal dengan Ummu ‘Amarah pahlawan sahabat wanita dan srikandi yang terkenal dalam sejarah Islam. Jadi beliau adalah saudara Hubaib dan Tamiem bin Zaid Radhiyallahu anhum.

Beliau termasuk sahabat Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang ikut serta dalam perang Uhud dan perang-perang setelahnya. Ada perbedaan pendapat dalam keikutsertaan beliau dalam perang badar. Menurut Abu Ahmad Al-Hakim, Ibnu Madah dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak bahwa beliau ikut bertempur dalam ghazwah Badr apalagi ghazwah Uhud dan seterusnya.
Ketika zaman khalifah Abu Bakr, beliau ikut pula bersama-sama dengan ibunya Nusaibah dan saudara-saudaranya Hubaib dan Tamiem, bertempur dalam perang menumpas gerakan Musailimatul Kadzdzab. Sebelumnya Musailimah telah menyiksa saudaranya Hubaib, memotong anggota badannya satu persatu hingga akhirnya ia gugur sebagai syahied. Mendengar peristiwa yang mengerikan itu semangat jihad kaum muslimin tambah meluap. Hingga akhirnya Abdullah bin Zaid ini berhasil bersama-sama dengan Wahsyi bin Harb membunuh Musailimah itu sendiri dengan pedangnya. Dengan kejadian itu ibunya Ummu Amarah Nusaibah sangat merasa puas dan bersyukur pada Tuhan apalagi dengan gugurnya kedua anak kandungnya Hubaib dan Tamiem sebagai syahied.

Beliau meriwayatkan hadits wudhu dan beberapa hadits lain lagi dan jumlah hadits beliau menurut imam Ibnu al-Mulaqqin berjumlah 48 hadits (Syarhul ‘Umdah 1/370), yang disepakati periwayatannya oleh imam al-Bukhori dan Muslim ada 8 hadits.

Riwayat perjuangan beliau dalam ketiga zaman khulafa’ lainnya tidak pernah dijumpai. Demikianlah beliau dibunuh dengan tenang dalam peristiwa HARRAH pada tahun 63 H. di Madinah. (Lihat al-Ishaabah 6/91).

Takhrij Hadits

Hadits ini adalah potongan dari hadits yang panjang yang diriwayatkan Imam al-Bukhori dalam kitab al-Wudhu’ no. 186 dan Imam Muslim dalam shahihnya no. 235 dari jalan periwayatan Amru bin yahya al-Maazini dari bapaknya. Beliau berkata:

شَهِدْتُ عَمْرَو بْنَ أَبِي حَسَنٍ، سَأَلَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ، عَنْ وُضُوءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَدَعَا بِتَوْرٍ مِنْ مَاءٍ، فَتَوَضَّأَ لَهُمْ وُضُوءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «فَأَكْفَأَ عَلَى يَدِهِ مِنَ التَّوْرِ، فَغَسَلَ يَدَيْهِ ثَلاَثًا، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فِي التَّوْرِ، فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ وَاسْتَنْثَرَ، ثَلاَثَ غَرَفَاتٍ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَسَحَ رَأْسَهُ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ مَرَّةً وَاحِدَةً، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ إِلَى الكَعْبَيْنِ

Aku menyaksikan Amru bin Abu Hasan bertanya kepada Abdullah bin Zaid tentang Wudhu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu meminta sebejana air lalu berwudhu untuk mereka wudhu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu beliau mengambil air dengan tangannya dari bejana lalu mencuci kedua telapak tangannya, kemudian memasukkan tangannya ke bejana lalu berkumur, menghirup air ke dalam hidung dan mengeluarkannya tiga caukan. Kemudian memasukkan tangannya lalu mencuci wajahnya tiga kali, kemudian mencuci kedua tangannya dua kali hingga siku kemudian memasukkan tangannya lalu mengusap kepalanya dengan memajukan dan memundurkan kedua telapak tangannya sekali kemudian mencuci kedua kakinya sampai mata kaki.

Dalam riwayat no. 185 dalam shahih al-Bukhari menjelaskan lebih pas lagi.

عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى المَازِنِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ رَجُلًا، قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ، وَهُوَ جَدُّ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى أَتَسْتَطِيعُ أَنْ تُرِيَنِي، كَيْفَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَتَوَضَّأُ؟ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ: نَعَمْ، فَدَعَا بِمَاءٍ، فَأَفْرَغَ عَلَى يَدَيْهِ فَغَسَلَ مَرَّتَيْنِ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاَثًا، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثًا، ثُمَّ غَسَلَ يَدَيْهِ مَرَّتَيْنِ مَرَّتَيْنِ إِلَى المِرْفَقَيْنِ، ثُمَّ مَسَحَ رَأْسَهُ بِيَدَيْهِ، فَأَقْبَلَ بِهِمَا وَأَدْبَرَ، بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إِلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إِلَى المَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ

 Dari Amru bin Yahya al-Maaziini dari bapaknya bahwa seorang berkata kepada Abdullah bin Zaid dan beliau adalah kakek Amru bin Yahya : Apakah Engkau bisa mencontohkan bagaimana dahulu Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu? Maka Abdullah bin Zaid berkata: Ya, lalu minta air dan menuangkan ke kedua tangannya lalu mencucinya dua kali, kemudian berkumur-kumur dan menghirup air kehidung tiga kali kemudian mencuci wajah tiga kali kemudian mencuci kedua tangannya dua kali dua kali sampai siku kemudian mengusap kepalanya dengan kedua tangannya lalu memajukan dan memundurkan keduanya. Memulai dengan bagian depan kepalanya hingga membawa keduanya ke tengkuk kemudian mengembalikan keduanya ke tempat mulainya kemudian mencuci kedua kakinya.

Tampaknya al-Haafizh Ibnu Hajar menyampaikan lafazh ini untuk menafsirkan kata maju dan mundur dalam lafazh hadits sebelum ini, karena lafazh ini lebih jelas dalam menunjukkan maksudnya.

Hadits Abdullah bin Zaid ini telah lengkap menjelaskan sifat tata cara wudhu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dan menunjukkan semua yang ditunjukkan hadits Utsman bin Affan. Hanya saja ada tambahan penjelasan tata cara mengusap kepala yang tidak ada dalam hadits Utsman. Oleh karena itu al-Haafizh hanya menyampaikan potongan dari hadits ini saja.

Kosa Kata Hadits

(فَأَقْبَلَ بيَدَيْهِ) : memulai dari arah depan kepala.

(وَأَدْبَرَ) : mengembalikan kedua telapak tangan dari belakang kepala.

(ذَهَبَ بِهِمَا إلَى قَفَاهُ): membawa kedua telapak tangannya ke arah tengkuk.

Fikih Hadits

  1. Hadits ini menunjukkan kewajiban mengusap kepala secara menyeluruh dan ini pendapat Imam Maalik dan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad. Pendapat ini dirojihkan Syeikul Islam ibnu Taimiyah dan Ibnu Katsir.
  2. Menunjukkan tata cara mengusap kepala dengan cara memulai dengan bagian depan kepala lalu membawa kedua telapak tangan ke tengkuk yang ada di atas leher kemudian mengembalikan keduanya hingga sampai ke tempat dimulainya mengusap kepala yaitu di bagian depan kepala. Seperti dijelaskan dalam pernyataan : بَدَأَ بِمُقَدَّمِ رَأْسِهِ، حَتَّى ذَهَبَ بِهِمَا إلَى قَفَاهُ، ثُمَّ رَدَّهُمَا إلَى المَكَانِ الَّذِي بَدَأَ مِنْهُ.
  3. Hikmah dari mengusap kepala dengan tata cara ini adalah meratakan dua sisi kepala dengan usapan; karena rambut dari sisi wajah mengarah ke wajah dan dari sisi belakang mengarah ke tengkuk. Apabila memulai dari bagian depan kepala maka akan mengenai rambut ke belakang sehingga air akan menyentuh pokok rambut, apabila sampai ke atas puncak kepala maka rambut balik ke depan lagi dan air menyentuh bagian luar rambut. Apabila kembali maka akan terjadi sebaliknya. Ini bukan termasuk pengulangan usapan. Hanya maksudnya usapan tersebut akan menyentuh bagian luar dan dalam rambut sehingga itu hanya satu usapan bukan dua kali usapan; karena kesempurnaan sekali usap tidak terjadi pada seluruh rambut kecuali dengan maju dan mundur tersebut. Karena pada pengembalian tersebut akan mengusap yang belum terusap pada awalnya. Tata cara ini bukanlah wajib dan sah mengusap dengan cara apapun namun menjaga sesuai sunnah lebih utama.
  4. Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa tata cara ini disunnahkan bagi orang yang memiliki rambut panjang adapun yang tidak memiliki rambut atau rambutnya dicukur gundul dan sedikit rambutnya maka tidak disunnahkan untuk mengembalikan tangan ke depan lagi; karena tidak ada faedahnya.
    Pendapat beliau ini tidak tepat. Memang dari sisi sahnya maka sudah jelas, tapi dari sisi mengikuti sunnahnya maka pastilah maju dan mundur tersebut sunnah hukumnya.
  5. Wanita dan pria sama dalam tata cara ini. Karena pada asalnya dalam hukum syariat semua yang berlaku pada pria juga berlaku pada wanita dan juga sebaliknya kecuali ada dalil yang mengkhususkannya. Oleh karena itu Imam al-Bukhori menyampaikan secara mu’allaq dari Said bin al-Musayyib pernyataan beliau:

 (الْمَرْأَةُ بِمَنْزِلَةِ الرَّجُلِ تَمْسَحُ عَلَى رَأْسِهَا)

Wanita seperti lelaki mengusap kepalanya. (lihat Fathulbari 1/290).

Imam an-Nasaa’i meriwayatkan dalam bab Wanita mengusap kepalanya (مَسْحُ الْمَرْأَةِ رَأْسَهَا) hadits ‘Aisyah yang berisi:

 وَوَضَعَتْ يَدَهَا فِي مُقَدَّمِ رَأْسِهَا، ثُمَّ مَسَحَتْ رَأْسَهَا مَسْحَةً وَاحِدَةً إِلَى مُؤَخَّرِهِ، ثُمَّ أَمَرَّتْ يَدَهَا بِأُذُنَيْهَا، ثُمَّ مَرَّتْ عَلَى الْخَدَّيْنِ

Dan beliau meletakkan tangannya di bagian depan kepalanya kemudian mengusap kepalanya sekali sampai bagian belakangnya kemudian melewatkan tangannya di kedua telinganya kemudian melewati kedua pipinya. (HR an-Nassa’i no 100 dan dishahihkan al-Albani).

Hal ini menunjukkan tata cara wanita mengusap kepalanya dan itu seperti kaum pria.

  1. Ta’lim (pengajaran) dengan perbuatan lebih mengena dari ta’lim hanya dengan perkataan. Menyatukan keduanya lebih baik dan utama, karena berisi penggunaan dua indra sekaligus dengan adanya kehadiran kalbu.
  2. Menuangkan air ke kedua tangan bersamaan adalah sunnah menurut ijma’.
  3. Diperbolehkan membedakan antara anggota wudhu dengan mencuci sebagiannya dua kali, sebagiannya tiga kali dan yang lainnya sekali.

 

Masaail Hadits

Ada beberapa masalah seputar hadits ini, di antaranya:

   I.     Hukum mengusap seluruh kepala

Para ulama sepakat bahwa mengusap seluruh kepala adalah sunnah seperti disampaikan Ibnu Taimiyah dalam Fatwa 21/122, an-Nawawi dalam al-Majmu’ 1/402 dan Ibnu Abdilbarr dalam at-Tamhid 20/127). Ibnu Abdilbar dalam al-Istdzkaar (2/25-26) berkata : “Adapun mengusap kepala maka mereka sepakat orang yang mengusap seluruh kepalanya telah berbuat baik dan berbuat sempurna yang harus dilakukannya. Juga bersepakat bahwa sedikit yang tidak sengaja tidak terusap dimaafkan dan tidak merusak orang yang wudhu”.

Hanya saja mereka berbeda pendapat tentang ukuran usapan yang wajib dari kepala dalam dua pendapat:

A.  Pendapat Imam Maalik (lihat at-Tamhid 20/125) dan pendapat yang masyhur dari Imam Ahmad (lihat al-Istidzkaar 2/30 dan al-Inshaf 1/161 juga al-Mughni 1/175) dan dirojihkan oleh al-Muzani dari kalangan madzhab Syafi’iyah (lihat al-Majmu’ 1/398), Syeikhul Islam (Fatwa 21/123) dan Ibnu Katsir (Tafsir ibnu Katsir 3/46) serta Ibnul Qayyim (Zaad al-Ma’ad 1/194).

Argumentasi mereka adalah:

  • Perbuatan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mengusap seluruh kepalanya sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Zaid di atas dan hadits yang lainnya. Itu sebagai penjelas perintah Allah Ta’ala dalam surat al-Maidah ayat 6 dalam mengusap kepala. Tidak dinukilkan dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengusap sebagian kepala kecuali bila menggunakan imamah sehingga menyempurnakannya seperti dalam hadits al-Mughirah yang akan datang.
  • Firman Allah Ta’ala :

وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ

Dan sapulah kepalamu (QS al-Maaidah/5 :6)

Zhahirnya menunjukkan mengusap seluruh kepala sebab huruf ba’ nya untuk seluruh, seperti dalam firman Allah :

فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ

sapulah mukamu dan tanganmu. (Qs an-Nisaa’/4:43).

Mereka berkata: Tidak benar huruf ba’ bermakna sebagian di sini dan tidak dikenal pengertian tersebut pada ahli bahasa Arab, sebagaimana disampaikan Ibnu Burhaan dalam Syarh al-Luma’ 1/174: “Siapa yang menganggap ba’ menunjukkan sebagian maka telah membawa sesuatu yang tidak dikenal ahli lughah”.

Al-Ukbari dalam kitab al-Imla` Ma manna bihi ar-Rahmaan (1/208) menyatakan: Berkata orang yang tidak punya keahlian dalam bahasa arab bahwa ba’ seperti ini bermakna sebagian. Hal itu tiak diketahui pakar Nahwu.

  • Menyamakan kepala dengan seluruh anggota wudhu lainnya yang wajib dikenakan air seluruhnya. Menyamakan kepala dengan itu lebih utama daripada menyamakannya dengan mengusap khuf; karena mengusap khuf adalah pengganti dan mengusap kepala adalah asal.

 

B.  Pendapat yang mewajibkan sebagian saja dan tidak harus mengusap seluruh kepala. Walaupun di antara mereka masih berbeda pendapat dalam ukuran sebagian yang wajib diusap dari sejumlah rambut hingga sepertiga dan dua pertiga. ( Lihat al-Mughni 1/176). Ini yang dinukilkan dari ‘Aisyah (lihat al-Mughni 1/176), Salamah bin al-Akwa’ (diriwayatkan Ibnu abi Syaibah dalam al-Mushannaf 1/16) dan Ibnu Umar. Juga ini madzhab al-hasan al-Bashri, Sufyaan ats-Tsauri, Dawud azh-Zhahiri, al-Laits, al-Auza’i, Ibnu al-Mubaarak, Ishaaq, an-Nakha’i, asy-Sya’bi, ‘Atha dan Ikrimah. (Lihat al-Ausath 1/394, Al-Muhalla 2/73-74, at-Tamhid 20/127-128 dan al-Mughni 1/175-176).

Juga ini adalah madzhab Hanafiyah (Fathulqadir 1/118), asy-Syafi’i (al-Umm 1/22) dan riwayat dari Malik (lihat Aqrabul Masaalik 1/42), dan riwayat dari Ahmad ( lihat al-Mughni 1/175), Madzhab ath-Thabari (lihat at-Tamhid 20/127) dan Ibnu Hazm (al-Muhalla 2/49-50). Ibnul Mundzir (al-Ausath , al-Baghawi, ibnu Daqiqil ‘ied dan ath-Thahawi membela pendapat ini dan asy-Syaukani (dalam as-Sail al-jaraar 1/84-85) merojihkannya.

Di antara dalil pendapat ini adalah:

  1. Hadits al-Mughirah bin Syu’bah yang berbunyi:
    أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَسَحَ عَلَى الْخُفَّيْنِ، وَمُقَدَّمِ رَأْسِهِ وَعَلَى عِمَامَتِهِ»
    Sesungguhnya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengusap atas khufnya dan bagian depan kepala serta imamahnya (HR Muslim).
  2. Mencukupkan dengan bagian depan kepalanya menunjukkan hal itu sah.Penukilan yang shahih dari sejumlah sahabat yang mencukupkan dengan mengusap sebagian kepalanya, seperti ‘Aisyah, Ibnu Umar, Utsman dan Salamah bin al-Akwa’.
  3. Pada asalnya mengusap apabila tanpa dibatasi sesuatu difahami mengusap tanpa disyaratkan harus mengusap seluruhnya. Sehingga Imam asy-Syaukani dalam kitab as-Sail al-Jarrar 1/84 menyatakan: Siapa yang berkata bahwa tidak dinamakan memukul kepala kecuali pukulan terjadi pada semua bagian kepala, sungguh telah membawa sesuatu yang tidak pernah difahami dan diketahui para pakar ahli bahasa Arab.

Tarjih.

Pendapat yang pertama lebih tepat dan mengamal sunnah serta lebih hati-hati. Wallahu a’lam.

II.      Hukum menggunakan cara maju dan mundur dalam mengusap kepala.

Para ulama sepakat bahwa orang yang sudah mengusap seluruh kepalanya maka telah menunaikan kewajibannya baik mulai dari bagian depan maupun dari tengah atau belakang sebagaimana dijelaskan Ibnu Abdilbarr dalam al-Istidzkaar 2/29.

Mereka berbeda pedapat tentang tata cara mengusap kepala dalam dua pendapat:

  1. Memulai dari bagian depan kepala kemudian membawanya ke tengkuk kemudian mengembalikannya ke bagian depannya lagi. Ini dianggap satu usapan karena yang satunya maju dan yang lainnya mundur. Inilah madzhab Hanafiyah (lihat Syarh Ma’ani al-Atsar 1.30), Malik (lihat al-Istidzkaar 2/27), Syafi’iyah (lihat al-Majmu’ 1/177), Hambaliyah (lihat al-Mughni 1/177), dan pendapat mayoritas salaf. Pendapat ini berargumen dengan lafazh hadits Abdullah bin Zaid ini. Karena hadits ini dikatakan imam Maalik adalah hadits yang paling pas dalam mengusap kepala (lihat al-istidzkaar 2/27).
  2. Memulai dari bagian belakang kepala lalu maju ke arah wajah kemudian mundur hingga kembali kebagian belakang kepala. Inilah madzhab al-Hasan bin hay dan sebagian ulama lainnya. (lihat at-Tamhid 20/125 dan Fathulbari 1/351). Mereka mengambil riwayat hadits ar-Rubayyi’ bintu Mu’awwidz yang berbunyi:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَسَحَ بِرَأْسِهِ مَرَّتَيْنِ، بَدَأَ بِمُؤَخَّرِ رَأْسِهِ، ثُمَّ بِمُقَدَّمِهِ، وَبِأُذُنَيْهِ كِلْتَيْهِمَا، ظُهُورِهِمَا وَبُطُونِهِمَا.

Sungguh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengusap kepalanya dua kali memulai dengan bagian belakang kepalanya kemudian bagian depannya dan mengusap kedua telinganya bagian luar dan dalamnya. (HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi no. 23 dan Ibnu Maajah no. 418 dan di hasankan al-Albani).

Yang rojih adalah yang ada dalam hadits Abdullah bin Zaid ini (pendapat yang pertama-ed). Wallahu a’lam.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/20Ww4

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

lampu-pemimpin

Ringkasan Fikih Islam : Keutamaan Penguasa yang Adil dan Ancaman bagi Penguasa yang Zalim

Keutamaan Penguasa yang Adil dan Ancaman bagi Penguasa yang Zalim Firman Allah Subhanahu Wata’ala : ...