Home / Akidah Akhlaq / Bagaimana Mencintai Nabi Dengan Benar..?

Bagaimana Mencintai Nabi Dengan Benar..?

Bagaimana mencintai Nabi dengan benar..?

Mencintai beliau akan benar apabila lebih besar daripada kecintaan kepada selainnya, sebagaimana dalam hadits di atas. Kecintaan ini termasuk bagian dari kecintaan kepada Allah. Kecintaan kepada Nabi menuntut kita meniru dan mencontoh Rasulullah dalam kecintaan yang beliau cintai dan membenci apa yang beliau benci. Hal ini diwujudkan dengan mutaba’ah mengikuti beliau dengan mencintai dengan hatinya semua yang beliau cintai dan membenci semua yang dibenci, ridha dengan Semua yang beliau ridhai dan murka dengan semua yang dimurkainya serta bermal dengan anggota badannya sesuai dengan cinta dan benci ini.
Realita orang yang menyatakan cinta kepada nabi ada tiga kelompok:
1. Kelompok yang berlebihan dalam mengungkapkan cintanya sehingga membuat-buat hal yang tidak disyariatkan Allah dan Rasul-Nya.
2. Kelompok yang tidak dapat merealisasikan kecintaan kepada Nabi dan tidak memperhatikan secara benar hak-hak yang wajib terhadap Nabi . Hal ini terjadi karena:

  • Berpaling dari Sunnah dan tidak mengikuti syariat dengan sebab kemaksiatan dan berlebihnya dalam mengikuti syahwatnya
  • keyakinan mereka bahwa cukup sekedar membenarkan dan mengakui Nabi dalam mewujudkan keimanan dan hanya inilah yang wajib.
  • kebodohan terhadap perkara agama yang di dalamnya ada ajaran tentang hak-hak nabi.

3. Kelompok yang tengah-tengah, merekalah para salaf dari kalangan sahabat, tabiin dan orang yang mengikuti manhaj mereka yang beriman kepada kewajiban mencintai Nabi dan menunaikan konsekwensinya baik dalam keyakinan, pernyataan dan perbuatan. Mereka mencintai Nabi melebihi kecintaan kepada dirinya dan semua orang, dalam rangka mengamalkan firman Allah:

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنفُسِهِمْ

Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri. (QS. al-Ahzab/33:6) . Firman Allah :

Tidaklah sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Badwi yang berdiam di sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (pergi berperang) dan tidak patut (pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul. Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan kelaparan pada jalan Allah. Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik, (QS. at-taubah/9:120).

Juga firman Allah :

Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk kota-kota maka adalah untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia.Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. al-Hasyr/59:7)

Lihatlah sikap para sahabat lainnya dalam mencintai Rasulullah, seperti ‘Amr bin al-‘Ash -sebelum ia masuk Islam- berkata: “Sesungguhnya tidak ada seorang manusia pun yang lebih aku benci dari-pada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Namun setelah ia masuk Islam, tidak ada seorang manusia pun yang lebih ia cintai dan lebih ia agungkan daripada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ia mengatakan: “Seandainya aku diminta untuk menggambarkan pribadi beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kalian tentu aku tidak mampu melakukannya sebab aku tidak pernah menajamkan pandanganku kepada beliau sebagai pengagunganku kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
‘Urwah bin Mas’ud berkata kepada kaum Quraisy: “Wahai kaumku, demi Allah, aku telah diutus ke Kisra, kaisar dan raja-raja, namun aku tidak pernah melihat seorang raja pun yang diagungkan oleh segenap rakyatnya melebihi pengagungan para Sahabat Radhiyallahu anhum kepada Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Demi Allah, mereka tidak memandang dengan tajam kepada beliau sebagai bentuk pengagungan mereka kepadanya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, serta tidaklah beliau berdahak kecuali ditadah dengan telapak tangan salah seorang dari mereka, kemudian dilumurkan pada wajah dan dadanya. Lalu tatkala beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu’, maka hampir saja mereka saling membunuh karena berebut sisa air bekas wudhu’ beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahiihnya (no. 2731, 2732)

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/plz8H

About klikUK.com

Check Also

wpid-fb_img_15237576133111880934809.jpg

Hikmah bulan Shafar -5

15 Faidah Tentang Bulan Shafar (5) Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid 9. Tathayyur (merasa sial dengan ...