WordPress database error: [Got error 28 from storage engine]
SHOW FULL COLUMNS FROM `co3r0qtl_options`

WordPress database error: [Got error 28 from storage engine]
SHOW FULL COLUMNS FROM `co3r0qtl_options`

WordPress database error: [Got error 28 from storage engine]
SHOW FULL COLUMNS FROM `co3r0qtl_options`

Ambillah Aqidahmu Yang Benar | KlikUK.com
Home / Akidah Akhlaq / Ambillah Aqidahmu Yang Benar

Ambillah Aqidahmu Yang Benar

aqidah 2

Tidak disangsikan lagi, kesempurnaan agama ini adalah nikmat Allah yang paling besar bagi umat ini. Agama Islam yang ditinggalkan Rasululloh dalam keadaan lengkap, sempurna dan menyeluruh, sehingga terang benderang tidak ada kesamaran sama sekali pada ajarannya. Binasalah orang yang menyimpang darinya dan tidak mau berjalan diatas manhaj rabbaniy, manhaj Rasululloh dan para sahabatnya.

Demikianlah Rasululloh telah menjelaskan kepada kita, seluruh kebaikan yang dapat mendekatkan kesyurga dan telah memperingatkan seluruh kejelekan yang menjauhkan diri kita dari syurga. Semua ini agar binasalah orang yang binasa diatas hujjah dan hiduplah orang yang mengikutinya diatas hujjah juga.

Mengenal aqidah yang benar merupakan satu keharusan bagi setiap muslim. Apalagi dimasa seperti ini, masa yang penuh dengan ujian dan cobaan hidup. Disamping juga dipenuhi usaha penyesatan dan pemurtadan baik melalui kebidahan yang samar sampai kepada kekufuran yang paling jelas. Semua usaha pemurtadan ini berkembang dan tumbuh subur dengan pemeliharaan para musuh Allah dari kalangan syeiton manusia dan jin. Ditambah dengan cara yang mereka tempuh untuk mensukseskan program mereka ini.

Sungguh mengerikan dan membuat seorang muslim mengelus dada dan mengerenyutkan dahinya, khawatir dipagi hari jadi seorang muslim dan disore harinya menjadi kafir dan sebaliknya disore hari jadi seorang muslim dan dipagi harinya menjadi kafir.

Sudah berapa banyak kaum muslimin yang murtad dan meninggalkan agamanya.

Berapa banyak pemuda muslim yang kehilangan jati dirinya dan hidup tanpa pegangan.

Berapa banyak……berapa banyak ……dan berapa banyak yang lainnya

Sungguh pemandangan yang sangat mengerikan ada didepan mata kita semua.

Lalu bila menengok keadaan kaum muslimin secara khusus, didapatkan mereka dalam kondisi yang sangat menyedihkan. Perselisihan, perpecahan dan permusuhan terus tumbuh berkembang dengan suburnya. Mereka tidak ingat akan peringatan Allah dalam Al Qur’an:

وَأَطِيعُوااللهَ وَرَسُولَهُ وَلاَتَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. (QS. 8:46)

Juga tidak ingat akan perintah Allah untuk mengembalikan perselisihan dan perbedaan pendapatnya kepada Al Qur’an dan sunnah, sebagaimana firmanNya:

 

يَاأَيُّهَاالَّذِينَ ءَامَنُوا أَطِيعُوا اللهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُوْلِى اْلأَمْرِ مِنكُمْ فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَىْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللهِ وَالرَّسُولِ إِن كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ ذَلِكَ خَيْرُُ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلاً

Hai orang-orang yang beriman, ta’atilah Allah dan ta’atilah Rasul(-Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. 4:59)

Demikianlah seharusnya, sebagaimana telah jelas dalam manhaj para sahabat dan tabiin serta orang yang mengikuti jejak mereka dalam berislam.

Apalagi dalam permasalahan aqidah, permasalahan yang sangat besar bagi seorang muslim. Tentunya harus mendapatkan perhatian serius jangan sampai menyelisihi ajaran Rasululloh dan para sahabatnya. Ironisnya banyak kaum muslimin yang tidak memahaminya atau memahaminya dengan salah sehingga aqidah yang benar dianggap salah dan yang salah itulah kebenaran.

Untuk itu perlu sekali mengembalikan kaum muslimin kepada aqidah yang pernah diajarkan Rasululloh kepada para sahabatnya dan para sahabat mengajarkan kepada para tabiin dan seterusnya generasi demi generasi. Inilah yang kemudian dinamakan aqidah salaf.

 

Pengertian Aqidah Salaf

Aqidah salaf adalah istilah yang diambil dari dua kata; aqidah dan salaf. Kata Aqidah dalam bahasa Arab memiliki pengertian ikatan, keyakinan dan kepastian. Aqidah adalah sesuatu yang diyakini hatinya dengan pasti dan mengikat, baik itu benar ataupun batil. Sedangkan dalam istilah para ulama aqidah adalah perkara-perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menerimanya dengan penuh hingga menjadi satu keyakinan yang pasti yang tidak dicampuri satu keraguan dan kebimbangan. [1]

Sedangkan Kata salaf secara bahasa bermakna orang yang telah terdahulu dalam ilmu, iman, keutamaan dan kebaikan.

Berkata Ibnul Mandzur(lisanul Arab 9/159): Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang, orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu dan memiliki umur lebih serta keutamaan yang lebih banyak. Oleh karena itu, generasi pertama dari Tabiin dinamakan As-Salafush sholeh.

Diantara penggunaan kata salaf dengan makna ini adalah perkataan Rasululloh Shallallah ‘alaihi wa salam kepada putrinya Fathimah :

فَإِنَّهُ نِعْمَ السَّلَفُ أَنَا لَكِ

Sesungguhnya sebaik-baik pendahulu (salaf ) bagimu adalah aku[2]
Dan diriwayatkan dari beliau Shallallah ‘alaihi wa salam bahwa beliau berkata kepada putri beliau Zainab ketika wafat:

الْحَقِيْ بِسَلَفِنَا الصَالحِ ِعُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنِ

Susullah salaf sholih (pendahulu kita  yang sholeh) kita Utsman bin Madz’un [3]
Adapun secara istilah, maka dia adalah sifat pasti yang khusus untuk para sahabat dan yang selain mereka diikutsertakan karena mengikuti para sahabat tersebut
Al Qalsyaany berkata dalam Tahrirul Maqaalah min Syarhir Risaalah (q 36): Assalaf Ashsholih adalah generasi pertama yang mendalam ilmunya lagi mengikuti petunjuk rasululloh dan menjaga sunnahnya. Allah Subhanahu wa ta’ala telah memilih mereka untuk menegakkan agamaNya dan meridhoi mereka sebagai imam-imam umat. Mereka telah benar-benar berjihad di jalan Allah Subhanahu wa ta’ala dan menghabiskan umurnya untuk memberikan nasihat dan manfaat kepada umat, serta mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoanNya.

Sungguh Allah Subhanahu wa ta’ala telah memuji mereka dalam kitabNya dengan firmanNya:

مُّحَمَّدُ رَّسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. (QS. Al fath 48:29)

Dan  firman Allah :

لِلْفُقَرَآءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِن دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللهِ وَرِضْوَانًا وَيَنصُرُونَ اللهَ وَرَسُولَهُ أُوْلَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya.Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Alhasr59:8)

Di dalam ayat ini, Allah Subhanahu wa ta’ala menyebut kaum muhajirin dan Anshor kemudian memuji itiba’ (sikap ikut) kepada mereka dan meridhoi hal tersebut demikian juga orang yang menyusul setelah mereka dan Allah Subhanahu wa ta’ala mengancam dengan adzab orang yang menyelisihi mereka dan mengikuti jalan selain jalan mereka, maka Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَاتَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَاتَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَآءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudahjelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. Annisa’ 4:115)

Maka merupakan suatu kewajiban mengikuti mereka pada hal-hal yang telah mereka nukilkan dan mencontoh jejak mereka pada hal-hal yang telah mereka amalkan serta memohonkan ampunan bagi mereka, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

وَالَّذِينَ جَآءُو مِن بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِاْلإِيمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِينَ ءَامَنُوا رَبَّنَآ إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:”Ya Rabb kami, beri ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Rabb kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”. (QS.Alhasr  59:10)

Istilah ini pun diakui oleh orang terdahulu dan mutaakhirin dari ahli kalam.

Alghozaali berkata dalam kitab iljaamul awaam an ilmil kalaam hal 62 ketika mendefinisikan kata Assalaf : saya maksudkan  adalah madzhab sahabat dan tabiin.

Albaijuuri  berkata dalam kitab syarah jauharuttauhid hal.111 :  Yang dimaksud dengan salaf adalah orang yang terdahulu yaitu para Nabi, sahabat, tabiin dan tabiit-tabiin.

Istilah inipun telah dipakai oleh para ulama pada generasi-generasi yang utama untuk menunjukkan masa shohabat dan manhaj mereka, diantaranya:

1. Berkata Imam Bukhori (6/66- fathulbari): Rasyid bin Saad berkata: dulu para salaf menyukai kuda jantan, karena dia lebih cepat dan lebih kuat.

Alhafidz Ibnu Hajar menafsirkan perkataan Rasyid ini dengan mengatakan: yaitu dari para sahabat dan orang setelah mereka.

Saya berkata: yang dimaksud adalah shahabat karena Rasyid bin Saad adalah seorang Tabi’in maka sudah tentu yang dimaksud di sini adalah sahabat.

2. Berkata Imam Bukhori (9/552 – fathulbari) : Bab Assalaf tidak pernah menyimpan di rumah  atau di perjalanan mereka makanan, daging dan yang lainnya.

yang dimaksud adalah sahabat.

3. Imam Bukhori berkata (1/342- fathulbari): dan Azzuhri berkata tentang tulang-tulang bangkai-seperti gajah dan yang sejenisnya- : saya menjumpai orang-orang dari kalangan ulama saalaf bersisir dan berminyak dengannya dan mereka tidak mempersoalkan hal itu.

yang dimaksud adalah sahabat karena Azzuhri adalah seorang tabiin.

4. Imam Muslim telah mengeluarkan dalam Muqodimah shohihnya hal.16 dari jalan periwayatan Muhammad bin Abdillah, beliau berkata aku telah mendengar Ali bin Syaqiiq berkata : saya telah mendengar Abdullah bin Almubarak berkata- di hadapan manusia banyak-: tinggalkanlah hadits Amru bin Tsaabit, karena dia mencela salaf

yang dimaksud adalah sahabat.

5. Al Auza’iy berkata: bersabarlah dirimu di atas sunnah, tetaplah berdiri di tempat kaum tersebut berdiri, katakanlah sebagaimana yang mereka katakan, tinggalkan apa yang mereka tinggalkan dan tempuhlah jalannya Assalaf Ashsholih, karena akan mencukupi kamu apa saja yang mencukupi mereka.[4]

yang dimaksud adalah shohabat.

Oleh karena itu, kata Assalaf telah mengambil makna istilah ini dan tidak lebih dari itu.

Adapun dari sisi periodisasi (perkembangan zaman), maka dia dipergunakan untuk menunjukkan generasi terbaik dan yang paling benar untuk dicontoh dan diikuti, yaitu tiga generasi pertama yang telah dipersaksikan dari lisan sebaik-baiknya manusia Muhammad Shallallah ‘alaihi wa salam bahwa mereka memiliki keutamaan dengan sabdanya:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَذِيْنَ يَلُوْنَهُمْثُمَّ يَجِيْءُ أَقْوَامٌ تَسْبِقُ شَهَادَةُ أَحَدِهِمْ يَمِيْنَهُ وَ يَمِيْنُهُ شَهَادَتَهُ

Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi kemudian datang kaum yang syahadah salah seorang dari mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului syahadatnya.[5]

Akan tetapi periodisasi ini kurang sempurna untuk membatasi pengertian salaf ketika kita lihat banyak dari kelompok-kelompok sesat telah muncul pada zaman-zaman tersebut, oleh karena itu keberadaan seseorang pada zaman tersebut tidaklah cukup untuk menghukum keberadaannya di atas manhaj salaf kalau tidak sesuai dengan para sahabat dalam memahami Alkitab dan Asssunah. Oleh karena itu para  Ulama mengkaitkan istilah ini dengan Assalaf Ashsholih .

Dengan ini jelaslah bahwa istilah Salaf ketika dipakai tidaklah melihat kepada dahulunya zaman akan tetapi melihat kepada para sahabat Nabi dan yang mengikuti mereka dengan baik. Dan di atas tinjauan inilah dipakai istilah salaf yaitu dipakai untuk orang yang menjaga keselamatan aqidah dan manhaj di atas pemahaman Rasululloh n dan para sahabatnya g sebelum terjadinya perselisihan dan perpecahan.[6]

Dengan demikian aqidah salaf adalah keyakinan terhadap ajaran agama islam sesuai dengan keyakinan Rasululloh dan para sahabatnya.

Arti Penting Aqidah Salaf.

                Sudah sepantasnya seorang yang ingin memperjari aqidah salaf mengetahui arti penting (urgensi) aqidah tersebut. Semua ini untuk memberikan gambaran kedudukan aqidah tersebut dan  dapat mendorong untuk lebih semangat mempelajarinya. Terlebih-lebih pada masa sekarang ini; dimana banyak kaum muslimin yang melalaikan hal ini dan tenggelam dalam lautan syahwat dan syubhat.

Arti penting mempelajari aqidah salaf terlahir dari arti penting aqidah itu sendiri. Juga kepada kewajiban bersungguh-sungguh bekerja untuk mengembalikan manusia kepada aqidah tersebut. Hal ini karena beberapa hal:

  1. Belajar aqidah salaf termasuk mempelajari ilmu termulia, teragung dan terpenting, karena kemuliaan satu ilmu tergantung dengan dzat yang dipelajari (Al ma’lum) dan Allah adalah Dzat yang maha agung dan maha mulia. Mengenal Allah merupakan dasar terpenting semua ilmu. Oleh karena itu imam Abu hanifah menamakan ilmu aqidah ini sebagai Fiqhul Akbar.
  2. Aqidah salaf adalah wasilah terpenting mencapai keridhoan Allah.
  3. Barisan kaum muslimin dan para da’inya hanya dapat bersatu diatas aqidah ini. Demikian juga kekuatan mereka, tanpa aqidah ini mereka akan berpecah belah. Hal ini dikarenakan aqidah salaf adalah aqidah Al Quran dan sunah serta aqidah generasi pertama umat ini dari kalangan para sahabat. Sehingga seluruh kesatuan dan persatuan yang tidak berlandaskan aqidah ini hasilnya hanyalah kegagalan dan perpecahan.
  4. Aqidah salaf membuat seorang muslim mengagungkan nash Al Qur’an dan Sunnah dan melindunginya dari penolakan makna atau bermain-main dalam menafsirkannya sesuai hawa nafsu dan keinginannya.
  5. Aqidah salaf mengikat seorang muslim kepada para salaf dari kalangan sahabat dan yang mengikuti mereka, sehingga menambah kemuliaan, iman dan kehormatannya. Hal ini karena para salaf tersebut adalah para wali Allah dan imam-imam yang bertaqwa. Hal ini seperti disampaikan oleh Ibnu Mas’ud:

 

إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوب الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ

 

Sesungguhnya Allah telah melihat hati para hamba-Nya, dan mendapatkan hati Muhammad sebaik-baiknya hati mereka, lalu memilihnya dan mengutusnya membawa risalah. Kemudian melihat kepada hati para hamba setelah hati Muhammad dan mendapatkan hati para sahabat sebaik-baiknya hati para hamba, lalu menjadikan mereka sebagai pendamping nabi-Nya. Mereka berperang membela agama-Nya, sehingga apa yang dipandang kaum muslimin sebaagi kebaikan maka ia baik disisi Allah dan apa yang dipandang mereka sebagai kejelakan maka ia adlah kejelekan disisi Allah.[7]

  1. Aqidah salaf memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh yang lainnya, yaitu kejelasannya. Aqidah salaf menjadikan Al Qur’an dan sunnah sebagai sumber gambaran dan pemahamannya, jauh dari ta’wil, ta’thil dan tasybih. Demikian juga aqidah ini dapat menyelamatkan orang yang berpegang teguh (komitmen) kepadanya dari kerancuan pembicaraan tentang dzat Allah, menemtang nas Al Qur’an dan sunnah nabi-Nya. Dari sana aqidah salaf memberikan pemiliknya sikap ridho dan tenang menerima taqdir Allah dan mengagungkan keagungan Allah serta tidak membebani akal untuk berfikir tentang sesuatu diluar kemampuannya, seperti masalah-masalah ghaib. Maka aqidah salaf sangat mudah sekali dan jauh dari kerancuan dan ketidak mampuan memahaminya.[8]

Keistimewaan dan Karakteristik Aqidah salaf

Diantara kekhususan dan keistimewaan aqidah salaf, adalah:

  1. Aqidah salaf bersumber kepada sumber yang asli dan suci yaitu Al Qur’an dan sunnah dan jauh dari hawa nafsu dan syubhat.
  2. Aqidah salaf memberikan ketenangan dan kemantapan jiwa dan menjauhkan pemiliknya dari keraguan dan kerancuan.
  3. Aqidah salaf menjadikan sikap seorang muslim selalu mengagungkan nas-nas Al Qur’an dan sunnah, karena ia mengetahui kebenaran dan hak hanya ada padanya. Inilah keselamatan dan keistimewaan yang penting.
  4. aqidah salaf dapat mewujudkan sifat yang Allah ridhoi dalam firmanNya:

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَيُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لاَ يَجِدُواْ فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Surat Annisaa’ :65)

  1. Aqidah salaf mengikat seseorang dengan para salaf sholeh.
  2. Aqidah salaf menyatukan barisan kaum muslimin dan persatuannya, karena ini merupakan perwujudan firman Allah:

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَأَنقَذَكُم مِّنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Surat Alimran:103)

  1. Aqidah salaf menjadikan orang yang berpegang teguh (komitmen) dengannya selamat dan masuk dalam janji Rasululloh mendapatkan pertolongan dan kemenangan disunia dan keselamatan diakherat.
  2. Berpegang teguh kepadanya merupakan sebab terpenting keistiqomahan agama seseorang.
  3. Aqidah salaf memiliki pengaruh besar dalam perbaikan suluk dan akhlak orang yang berpegang teguh (komitmen) dengannya.
  4. Berpegang teguh dan mengamalkan aqidah salaf termasuk sebab terpenting yang dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh keridhoannya[9]
  5. Aqidah salaf adalah aqidah yang konsisten tidak berubah dengan tempat dan zaman.
  6. Aqidah salaf adalah aqidah yang jelas dan mudah, karena diambil dari sumber yang suci jauh dari noda syubhat dan hawa nafsu dan bersih dari ta’wil-ta’wil.

Semoga bermanfaat.

[1]Al-Wajiz Fi Aqidah as-Salaf hal. 20

[2] HSR Muslim No. 2450

[3] HSR Ahmad (1/237-238) dan Ibnu Saad dalam Thobaqaat (8/37) dan dishohihkan Ahmad Syakir dalam Syarah Musnad No. 3103, akan tetapi dimasukkan oleh Al Albany dalam Silsilah Dhoifah No.1715

[4] dikeluarkan oleh Al Aajury dalam Asysyari’at hal.57

[5]dan dia adalah hadits mutawatir akan datang takhrijnya pada hal.

[6]Lihat Limaaza ikhtartu manhaj as-Salafi hal.

[7] Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnadnya 1/379 dan dishohihkan sanadnya oleh Syeikh Ahmad Syaakir no. 3600. Syeikh Abu Usamah Saliim bin ‘ied Al Hilaliy: “Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad dalam musnadnya 3/179, Ath Thoyaalisiy dalam musnadnya hal 23 dan Al Khothib Al baghdadiy dalam Al Faqiih wal Mutafaqqih 1/166 secara mauquf dengan sanad hasan”. (diambil dari kitab Limadza Ikhtartu Al manhaj As Salafiy (edisi Bahasa Arab) karya Saalim bin I’ed Al Hilalie, cetakan Markaz Al Albani hal 88.

[8] Dari kata pengantar Syeikh ‘Alwi Abdil Qadiir As Saqaf pada kitab Syarah Al Aqidah Al Wasitiyah karya Muhammad Kholil Al Haras, Tahqieq ‘Alwi Abdil Qadiir As Saqaf, cetakan ketiga, tahun 1415H, Dar Al Hijroh, Riyaadh. hal 6-7 dengan pengurangan.

[9] Keistimewaan ini teringkas dalam Mudzakirot  “Manhaj As Salaf” hasil ceramah Syeikh Abdullah Al Ubailaan. Hal 5-6.

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/PgXxA

About klikUK.com

Check Also

halal haram fik

Daging Anjing Halal ?

Seiring dengan tingkat kemajuan dan meningkatkan kebutuhan manusia terhadap segala sesuatu, maka banyak pula usaha ...