Home / Akidah Akhlaq / 37. Jangan Biarkan Orang Lain Mencampuri Rumah Tangga Anda

37. Jangan Biarkan Orang Lain Mencampuri Rumah Tangga Anda

rumah tangga37. Tidak Memberi Peluang Kepada Orang Lain Untuk Mencampuri Urusan Rumah Tangga Anda

Kehidupan rumah tangga adalah suatu kehidupan yang memiliki ciri dan karakteristik tersendiri, sebagaimana ia memiliki kekhususan yang tidak pantas seorang yang tidak punya kepentingan padanya mengetahuinya. Setiap bertambah nasihat terhadap salah seorang dari suami isteri, maka bertambah pula masalah dalam rumah tangga, dan hilanglah kebahagiaan di dalamnya. Seorang isteri tidak suka jika ada orang lain selain suaminya mencampuri urusan rumah tangganya, umpamanya ibu suami atau bapaknya (mertua isteri) ikut campur dalam urusan rumah tangga mereka berdua. Kemudian, masing-masing memberikan pendapat dalam urusan-urusan yang menyangkut rumah tangga anaknya. Bahkan keduanya mengarahkan isteri dan anaknya itu kepada urusan tertentu. Inilah yang dapat menambah sensitifitas isteri terhadap keduanya dan mengakibatkan masalah-masalah keluarga menjadi sulit untuk dicarikan solusinya.

Pada umumnya hal tersebut terjadi pada suami isteri yang masih hidup menumpang pada kedua orang tua suami (mertua isteri). Kadang-kadang isteri mendapati bapak mertuanya menyuruh untuk mengerjakan sebagian urusan, sementara ia tidak bisa menyalahi apa yang dikatakannya. Hal ini dikarenakan ia merasa tertekan olehnya. Atau bapaknya suami menyuruh anaknya untuk mengerjakan sebagian pekerjaan yang dianggap pekerjaan khusus isterinya. Hal semacam ini dianggap sebagai bentuk campur tangan dalam urusan rumah tangga yang menjadikan isteri merasa bahwa suaminya sudah tidak mempunyai lagi kepribadian, atau orang yang lemah kepribadiannya, hingga ia jatuh dalam pandangan isterinya !!

Tidak diragukan lagi bahwa taat kepada kedua orang tua suatu kewajiban, akan tetapi campur tangan mereka dalam kehidupan rumah tangga anaknya, bisa menyebabkan rusaknya ikatan suami isteri. Terkecuali bila orangtua melihat bahwa isteri anaknya (menantunya) umpamanya bukan wanita yang shalihah, yang mana ia menjadi penyebab terjerumusnya sang anak dalam problema dan lain sebagainya. Lalu keduanya memandang wajib untuk menasihati anaknya agar menceraikan isterinya. Hal ini merupakan urusan yang penting untuk dilakukan.

Inilah yang dilakukan Ibrahim ‘alaihissalam saat menjenguk putranya, Ismail ‘alaihissalam, tetapi beliau tidak mendapatkannya, yang ada hanya isterinya. Beliau kemudian menanyakan tentang keadaan mereka, isteri Ismail mengadu kepadanya tentang percekcokan yang terjadi antara ia dan suaminya.

Ibrahim ‘alaihissalam sebagai seorang Nabi yang diberi bimbingan langsung oleh Allah Ta’ala semenjak kecilnya, beliau dapat memahami dari jawaban yang disampaikan oleh menantunya tadi –sedangkan isteri Ismail tidak tahu bahwa beliau adalah mertuanya– bahwasannya ia bukan isteri yang shalihah yang tidak pantas bagi anaknya Ismail ‘alaihissalam. Maka tidak ada yang beliau lakukan kecuali menyuruh anaknya agar menceraikannya. Ibrahim ‘alaihissalam berkata kepada menantunya, “Jika suamimu pulang, sampaikanlah olehmu, “Aku telah kedatangan orang tua yang sifatnya begini dan begini, dan ia menyampaikan salam kepadamu, ‘Gantilah pintu rumahmu.’ Ketika Ismail pulang, isterinya menyampaikan pesan yang diterimanya itu. Ismail menjawab, ”Ia adalah ayahku yang memerintahkan aku untuk menceraikan kamu, maka pergilah kamu kepada keluargamu”,1 dan beliau pun menceraikan isterinya.

Namun, orangtua yang terlalu banyak ikut campur terhadap urusan rumah tangga anak-anaknya dan memberikan arahan kepada isteri anaknya (menantu) secara langsung, hal tersebut merupakan suatu yang sangat berbahaya.

Yang harus tetap dijaga dalam kehidupan rumah tangga adalah jangan sampai ada campur tangan pihak ketiga, baik dari pihak orang tua, terlebih lagi dari orang lain, apakah mereka itu teman, saudara, atau yang lainnya. Hendaklah Anda tetap menjaga kekhususan [keunikan atau keistimewaan] rumah tangga Anda dengan baik, sehingga Anda tetap merasakan kenikmatan rumah tangga yang hakiki.

baca versi PDF : 37. Jangan Biarkan Orang Lain Mencampuri Rumah Tangga Anda

1. hadits ini tercantum dalam Shahih al-Bukhari

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/QkfFh

About admin

Kholid bin Syamhudi bin Saman bin Sahal Al-Bantani, menimba ilmu di Universitas Islam Madinah Tahun 1994 dan lulus Tahun 1999 dari Fakultas Hadits. Kini banyak meluangkan waktunya dalam da’wah sunnah dan menterjemahkan kitab-kitab berbahasa arab ke dalam Bahasa Indonesia serta berperan serta dalam beberapa lembaga da’wah yang ada di tanah air.

Check Also

msjid mati lampu

Fatwa : Haruskah Mengulangi Adzan Jika Listrik Mati ?

Haruskah Mengulangi Adzan Jika Listrik Mati ? Fadhilatu Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin pernah ...