Home / Akidah Akhlaq / Fatwa Ramadhan : Haram Puasa pada Hari Syak (Meragukan)

Fatwa Ramadhan : Haram Puasa pada Hari Syak (Meragukan)

Haram Puasa pada Hari Syak (Meragukan)

Fatwa nomor 2763

Pertanyaan:

Wahai Syaikh, berilah kami fatwa tentang hukum puasa ramadhan, karena negara kami yaitu negara Afrika, penduduknya senantiasa berbeda dalam perkara puasa. Sebagian berpuasa karena melihat hilal dan berbuka karena melihatnya mengikuti sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam:

إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فاقدروا له

“Apabila kalian melihat hilal maka berpuasalah dan apabila kalian melihatnya berbukalah. Apabila pandangan kalian terhalang awan, maka hitunglah (sempurnakan menjadi tiga puluh hari).” (Muttaqun ‘alaih)

Dan sebagian yang lain berpuasa tanpa melihat hilal lebih dahulu. Ternyata puasa mereka bertepatan dengan terbitnya hilal ramadhan, padahal kondisi tersebut menyelisihi dhahir hadits. Sungguh perkara tersebut sangat menyusahkan kami. Berilah fatwa kepada kami.

Jawaban:

Barangsiapa berpuasa pada tanggal 30 sya’ban tanpa terbukti ru’yah hilal secara syar’i dan bertepatan puasanya itu pada hari awal masuknya bulan ramadhan maka puasanya itu tidak sah karena ia tidak membangun puasanya berdasarkan asas syar’i dan karena itu adalah hari syak (meragukan antara sudah masuk 1 Ramadhan atau masih 30 Sya’ban), padahal telah ditunjukkan sunnah yang shahih atas haramnya puasa tersebut.

Maka ia wajib mengqadha (mengganti puasa). Ibnu Qudamah rahimahullah berkata tentang hal itu: dari Ahmad riwayat ketiga menyebutkan bahwa tidak wajib dan tidak mencukupi puasa ramadhan apabila ia melaksanakan puasa (pada hari syak tersebut). Itu adalah pendapat kebanyakan ahli ilmu di antaranya Abu Hanifah, Malik, asy-Syafi’i dan orang-orang mengikuti mereka, berdasarkan riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

صوموا لرؤيته، وأفطروا لرؤيته، فإن غم عليكم فأكملوا شعبان ثلاثين يومًا

“Berpuasalah karena kalian melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Apabila pandangan kalian terhalang awan, maka genapkanlah bulan sya’ban menjadi 30 hari.” (HR. al-Bukhari), dan dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata:

صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فاقدروا له ثلاثين

Berpuasalah karena kalian melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya. Apabila pandangan kalian terhalang awan, maka hitunglah bulan sya’ban tersebut menjadi 30 hari.” (HR. Muslim)

Dan shahih bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melarang puasa pada hari syak (Muttafaqun ‘alaih), dan tanggal 30 sya’ban adalah hari syak karena pada dasarnya tetap masih bulan sya’ban maka tidak dapat berpindah (menjadi puasa ramadhan) karena adanya keraguan (selesai perkataan Ibnu Qudamah) dalam kitab al-Mughni.

Semoga Allah memberi taufiq dan semoga shalawat serta salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

Komite Tetap Riset Ilmiyah dan Fatwa
Ketua : Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz
Wakil Ketua : Abdurrazaq ‘Afifi
Anggota : Abdullah bin Ghudayan
Anggota : Abdullah bin Quud

الفتوى رقم 2763

س: أيها الشيخ أفتنا في حكم صوم رمضان؛ لأن بلادنا الإفريقية مازال الناس يختلفون في أمر صومه، بعضهم يصومون لرؤية الهلال ويفطرون لرؤيته؛ اقتداء بقوله : «إذا رأيتموه فصوموا وإذا رأيتموه فأفطروا فإن غم عليكم فاقدروا له» متفق عليه، وبعضهم يصومون قبل رؤيته، ويكون صومهم يوافق يوم طلوع هلال رمضان، والحال أنه خلاف لظاهر الحديث وقد أشكل علينا أمرها أفتنا.

ج1: من صام يوم الثلاثين من شعبان دون ثبوت الرؤية الشرعية ووافق صومه ذلك اليوم أول دخول رمضان فلا يجزئه؛ لكونه لم يبن صومه على أساس شرعي، ولأنه يوم الشك، وقد دلت السنة الصحيحة على تحريم صومه، وعليه قضاؤه، قال ابن قدامه رحمه الله في ذلك: وعن أحمد رواية ثالثة لايجب ولا يجزئه عن رمضان إن صامه، وهو قول أكثر أهل العلم منهم أبوحنيفة ومالك والشافعي ومن تبعهم؛ لما روى أبوهريرة قال: قال رسول الله : «صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فأكملوا عدة شعبان ثلاثين» رواه البخاري، وعن ابن عمر أن رسول الله  قال: «صوموا لرؤيته وأفطروا لرؤيته فإن غم عليكم فاقدروا له ثلاثين» رواه مسلم، وقد صح أن النبي  نهى عن صوم يوم الشك متفق عليه، وهذا يوم شك؛ ولأن الأصل بقاء شعبان فلا ينتقل عنه بالشك (انتهى) المغني.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.

اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

الرئيس نائب رئيس اللجنة عضو عضو

عبد الله بن قعود عبد الله بن غديان عبد الرزاق عفيفي عبد العزيز بن عبد الله بن باز

(Sumber : Fatwa lajnah daimah lilbuhuts al-ilmiyah walifta’ jilid 10 tentang zakat dan puasa yang disusun oleh Syaikh Ahmad bin Abdurrazaq Ad-Duwaisy).

Bagikan melalui link ini: http://klikuk.com/EY0r1

About klikUK.com

Check Also

wpid-img_20180611_1744155764868026292960762.jpg

Fatwa Ramadhan : Haruskah Tetap Puasa ketika Safar..?

Makna Hadits Orang yang Berpuasa dapat Satu Pahala dan Orang yang Berbuka dapat Dua Pahala ...